Comscore Tracker

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?

Yuk, pelajari bersama!

Hepatitis C adalah kondisi peradangan pada organ hati akibat infeksi virus hepatitis C. Di antara jenis hepatitis lainnya, hepatitis C dianggap yang paling berbahaya. Hepatitis C juga termasuk penyakit hepatitis yang paling umum selain A dan B.

Menurut keterangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan sekitar 71 juta orang di dunia menderita infeksi virus hepatitis C kronis. Pada tahun 2016, WHO memperkirakan sekitar 399.000 orang meninggal dunia akibat penyakit ini, kebanyakan karena sirosis dan karsinoma hepatoseluler (kanker hati primer).

Masih banyak informasi tidak benar yang beredar mengenai hepatitis C. Agar lebih memahaminya, sehingga kita bisa lebih waspada, simak penjelasan tentang mitos kesehatan seputar hepatitis C dan penjelasan faktanya.

1. "Hepatitis C bisa langsung terdiagnosis"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustrasi pemeriksaan dokter (freepik.com/pressfoto)

Faktanya, hanya sekitar 20 hingga 30 persen orang dengan hepatitis C yang akan mengembangkan tanda dan gejala virus segera setelah terinfeksi, menurut CDC. Masa inkubasi hepatitis bervariasi, mulai dari 2 minggu hingga 6 bulan.

Menurut WHO, 80 persen orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun. Mereka yang bergejala akut mungkin menunjukkan:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Nafsu makan menurun
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Urine berwarna gelap
  • Feses berwarna abu-abu
  • Nyeri sendi
  • Penyakit kuning atau jaundice, ditandai dengan kulit dan bagian putih mata menguning

Biasanya, virus ditemukan bertahun-tahun setelah infeksi asli terjadi. Beberapa orang mengetahuinya setelah melakukan skrining untuk hepatitis C atau setelah muncul masalah kesehatan serius, seperti sirosis, kanker hati, atau masalah ginjal.

2. "Sudah ada vaksin untuk hepatitis C"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?Ilustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Hingga detik ini belum ada vaksin untuk mencegah hepatitis C. Akan tetapi, vaksin untuk hepatitis A dan B sudah tersedia.

Karena belum ada vaksinnya, dilansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), cara terbaik untuk mencegah hepatitis C adalah dengan menghindari perilaku yang dapat menyebarkan penyakit, khususnya penggunaan narkotika dengan jarum suntik.

Melakukan skrining hepatitis C juga sangat penting, karena perawatan yang tepat bisa menyembuhkan pasien hepatitis C dalam waktu 8-12 minggu.

Baca Juga: 7 Tips Hidup Sehat untuk Orang-orang dengan Hepatitis C

3. "Kita bisa tertular hepatitis C bila berkontak dengan orang yang positif hepatitis C"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustrasi berbagi makanan (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Ini adalah anggapan yang salah dan harus diluruskan!

Virus hepatitis C (HCV) adalah virus yang ditularkan lewat darah. Virus ini paling sering ditularkan melalui:

  • Penggunaan narkoba suntik lewat berbagai peralatan suntik
  • Penggunaan kembali atau sterilisasi peralatan medis yang tidak memadai, terutama alat suntik dan jarum suntik di tempat perawatan kesehatan
  • Transfusi darah dan produk darah yang tidak diskrining
  • Praktik seksual yang menyebabkan pajanan darah. Misalnya seks antara sesama laki-laki, terutama mereka yang terinfeksi HIV, atau mereka yang menggunakan pre-exposure prophylaxis atau PrEP (obat pencegahan HIV)

HCV juga bisa ditularkan secara seksual dan bisa ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya. Namun. cara penularan ini kurang umum.

Yang harus diingat, hepatitis C tidak ditularkan melalui ASI, makanan, air, atau kontak kasual seperti berpelukan, berciuman, dan berbagi makanan atau minuman dengan orang yang terinfeksi.

4. "Penularan utama hepatitis C ialah melalui seks"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustrasi seks (everydayhealth.com)

Walaupun ada kemungkinan tertular HCV lewat hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi, tetapi CDC mengatakan bahwa risiko ini tergolong rendah. Ini karena virus terutama ditularkan lewat darah atau cairan tubuh yang mengandung darah.

Meski begitu, beberapa perilaku dan kondisi berisiko bisa meningkatkan risiko penularan, termasuk memiliki penyakit menular seksual, punya banyak pasangan seks, dan melakukan hubungan seks yang menyebabkan perdarahan (seperti seks anal). Selain itu, perempuan tidak dianjurkan untuk berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi saat menstruasi.

5. "Hepatitis C bisa sembuh dengan sendirinya"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?Ilustrasi obat-obatan. IDN Times/Mardya Shakti

Infeksi baru HCV tidak selalu membutuhkan perawatan, respons kekebalan tubuh pada beberapa orang akan membersihkan infeksi dengan sendirinya. Akan tetapi, infeksi HCV bisa menjadi kronis, dan saat inilah pengobatan diperlukan. Tujuannya adalah untuk menyembuhkannya.

6. "Kalau sudah pernah terinfeksi hepatitis C dan sembuh, maka seseorang tak akan bisa terinfeksi lagi"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustasi seseorang yang bahagia (enwhp.org)

Dilansir Healthline, hepatitis C saat ini lebih bisa diobati daripada sebelumnya, yang mana ini menjelaskan tingkat kesembuhannya yang tinggi. Faktanya, setelah pasien dianggap sembuh, risiko rata-rata kekambuhan kurang dari satu persen.

Walaupun pengobatan sudah lebih baik, tetapi orang yang sembuh dari hepatitis C masih mungkin untuk tertular infeksi baru di masa mendatang. Apakah kamu punya riwayat hepatitis C atau tidak, penting untuk melakukan tindakan pencegahan.

7. "Hepatitis C hanya memengaruhi organ hati"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?penyakit kuning atau jaundice (britannica.com)

Dampak buruk dari hepatitis C tidak hanya terhadap organ hati saja, tetapi juga:

  • Sistem pencernaan
  • Sistem saraf pusat
  • Sistem sirkulasi
  • Sistem integral (kulit, rambut, dan kuku)
  • Sistem endokrin dan kekebalan tubuh

8. "Perempuan yang positif hepatitis C tidak bisa menyusui anaknya"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustrasi menyusui (pexels.com/@osmachko)

CDC mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa menyusui dapat menularkan HCV. Oleh karena itu, infeksi HCV bukanlah kontraindikasi untuk menyusui.

Lantas bagaimana bila puting ibu menyusui yang positif hepatitis C terluka dan berdarah? Menurut CDC, data tidak cukup untuk menjawab ya atau tidak. Namun, HCV disebarkan melalui darah yang terinfeksi.

Maka dari itu, bila puting ibu menyusui dan/atau areola di sekitarnya terluka dan berdarah, hentikan menyusui untuk sementara sampai sembuh dan tak lagi mengeluarkan darah. Jangan ragu untuk minta bantuan konsultan laktasi untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan ASI pada bayi.

9. "Orang yang terdiagnosis hepatitis C harus segera memulai pengobatan"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustrasi konsultasi dokter (freepik.com/gpointstudio)

Faktanya, status kesehatan orang yang terinfeksi HCV harus diperiksa secara menyeluruh oleh dokter. Beberapa pasien mungkin akan menunggu selama diobservasi secara berkala, ketimbang intervensi langsung dengan pengobatan medis.

Akan tetapi, pasien yang sudah mengembangkan jaringan parut pada organ hatinya mungkin perlu lebih agresif dalam memulai pengobatan.

10. "Tidak ada obat untuk hepatitis C"

10 Mitos dan Fakta tentang Hepatitis C, Benarkah Tidak Ada Vaksinnya?ilustrasi obat-obatan (pexels.com/Pixabay)

Ada, kok! 

Pengobatan dapat mengurangi viral load ke tingkat yang tidak terdeteksi yang dianggap sembuh atau dalam masa remisi. Virus dianggap sembuh jika tidak terdeteksi dalam darah 12 minggu setelah pengobatan selesai. Ini juga dikenal sebagai tanggapan virologi yang berkelanjutan atau sustained virologic response (SVR).

Itulah beberapa mitos dan fakta kesehatan seputar hepatitis C. Yuk, cegah diri dari penyakit ini dengan tidak berbagi pemakaian barang pribadi dengan orang, memilih tempat tindik atau tato dengan peralatan sekali pakai, tidak gonta-ganti pasangan seksual, dan tidak berbagi jarum suntik.

Baca Juga: 7 Cara Mengobati Hepatitis Berdasarkan Jenisnya, Tak Bisa Sembarangan!

Puspa Senja Photo Verified Writer Puspa Senja

Pengagum ombak dan astrophile

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya