ilustrasi anak mengalami sembelit (vecteezy.com/john_walker)
Pendekatan penanganan perlu disesuaikan dengan usia.
1. Bayi (0–6 bulan)
Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, frekuensi BAB bisa sangat bervariasi dan tidak selalu berarti sembelit. Namun, jika tinja keras dan bayi tampak kesakitan:
Pastikan teknik menyusui optimal.
Konsultasikan perubahan susu formula (jika tidak ASI).
Jangan memberikan obat pencahar tanpa saran dokter.
Penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak sebelum melakukan intervensi apa pun pada bayi kecil.
2. Bayi mulai MPASI (6–12 bulan)
Saat mulai makanan padat, tekstur tinja bisa berubah.
Tambahkan buah tinggi serat.
Pastikan asupan cairan cukup.
Perkenalkan makanan baru secara bertahap.
3. Balita dan anak prasekolah
Fase toilet training sering menjadi pemicu.
Jadwalkan waktu duduk di toilet 5–10 menit setelah makan.
Ciptakan suasana santai, hindari tekanan.
Perbanyak serat dan cairan.
Para ahli merekomendasikan terapi perilaku sederhana seperti toilet sitting terjadwal sebagai bagian penting penanganan.
4. Anak usia sekolah
Tingkatkan konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh.
Dorong anak melakukan aktivitas fisik rutin.
Ajarkan anak untuk tidak menahan BAB di sekolah.
Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan laksatif osmotik seperti polietilen glikol (PEG). Studi klinis menunjukkan PEG efektif dan relatif aman untuk sembelit fungsional pada anak di bawah pengawasan medis.