Hampir semua polisi dalam studi tersebut bekerja dalam kondisi yang memadukan stres fisik dan mental berkepanjangan. Jam kerja panjang dan tidak beraturan menyebabkan waktu makan tidak konsisten, sering memilih makanan cepat saji, serta tidur kurang berkualitas. Kondisi ini kemudian memicu serangkaian gangguan metabolik, mulai dari tekanan darah tinggi hingga gula darah meningkat.
Berikut ini temuan studi tersebut.
Dari total anggota polisi yang ikut serta dalam penelitian, mayoritas adalah laki-laki. Sebagian besar berusia 36–65 tahun, dengan usia rata-rata 51,6 tahun.
Sekitar 70 persen peserta mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Hampir 70 persen juga memiliki kadar gula darah puasa tinggi.
Setengah dari seluruh peserta mengalami hipertensi yang tidak terkontrol, dan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan dalam proporsi yang hampir sama.
Pada peserta dengan hipertensi, baik terkontrol maupun tidak, ditemukan bahwa:
Sebanyak 84 persen memiliki kadar low-density lipoprotein (LDL)/kolesterol jahat tinggi.
Sebanyak 67,5 persen mengalami overweight atau obesitas.
Sebanyak 55 persen memiliki kadar trigliserida tinggi.
Mayoritas polisi laki-laki memiliki trigliserida tinggi (≥150 mg/dL), sementara lebih banyak polisi perempuan yang memiliki kadar trigliserida normal.
Temuan penting lainnya mencakup tingginya kadar LDL, kolesterol total, trigliserida, serta AIP kategori risiko tinggi.
Sebanyak 91 persen peserta berada di kelompok AIP berisiko tinggi.
Meski begitu, sebagian besar peserta memiliki lingkar pinggang normal dan kadar high-density lipoprotein (HDL)/kolesterol baik normal.
Ketika para peneliti menganalisis hubungan antara karakteristik dasar peserta dan parameter laboratorium terhadap AIP, ditemukan korelasi signifikan dengan:
Jenis kelamin.
Usia.
Kadar HDL yang lebih rendah.
Tingginya kadar trigliserida, LDL, dan gula darah puasa.
Temuan studi tersebut sejalandengan literatur global bahwa profesi kepolisian termasuk salah satu pekerjaan dengan risiko kesehatan kardiovaskular tertinggi. Paparan stres kronis terbukti meningkatkan tekanan darah, memengaruhi ritme sirkadian, mengganggu metabolisme gula, dan memperburuk profil lipid.
Selain itu, penelitian internasional menunjukkan polisi memiliki prevalensi yang lebih tinggi untuk hipertensi, diabetes tipe 2, dan dislipidemia dibanding populasi umum.