Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tes Ishihara untuk buta warna.
Tes Ishihara untuk buta warna. (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Intinya sih...

  • Darah dalam urine adalah tanda awal paling umum kanker kandung kemih.

  • Penyandang buta warna berisiko melewatkan gejala ini dan terlambat berobat, menurut temuan studi.

  • Beberapa dokter spesialis mengaku belum pernah mempertimbangkan buta warna sebagai faktor risiko keterlambatan diagnosis kanker.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat darah dalam urine sering menjadi momen yang membuat seseorang menemui dokter. Bagi banyak pasien kanker kandung kemih, tanda visual ini menjadi alarm awal sebelum penyakit berkembang lebih jauh. Namun, tidak semua orang bisa menangkap sinyal tubuh tersebut dengan cara yang sama.

Bagi penyandang buta warna, khususnya yang sulit membedakan warna merah, peringatan ini bisa lewat begitu saja. Darah dalam urine mungkin tampak lebih gelap, kecokelatan, atau bahkan tidak mencolok. Akibatnya, tanda peringatan ini justru terabaikan.

Studi terbaru dari Stanford Medicine menunjukkan bahwa keterlambatan ini bukan sekadar soal persepsi visual. Ada konsekuensi serius yang menyertainya, terutama ketika kanker baru terdeteksi pada stadium yang lebih lanjut.

Temuan dari data jutaan pasien

Dalam studi yang dipublikasikan pada 15 Januari dalam jurnal Nature Health, peneliti Stanford menganalisis data rekam medis elektronik dari platform TriNetX, yang mencakup sekitar 275 juta data pasien anonim di seluruh dunia. Dari sekitar 100 juta data pasien di Amerika Serikat, peneliti menemukan 135 pasien dengan kombinasi buta warna dan kanker kandung kemih.

Hasilnya mencolok. Pasien kanker kandung kemih yang juga mengalami buta warna memiliki risiko kematian 52 persen lebih tinggi dalam periode 20 tahun dibandingkan dengan pasien dengan penglihatan warna normal. Angka ini mencerminkan kematian dari semua penyebab, bukan hanya kanker itu sendiri.

Menurut Ehsan Rahimy, MD, profesor klinis oftalmologi Stanford dan penulis senior studi ini, temuan tersebut sejalan dengan dugaan awal peneliti. Keterlambatan mengenali darah dalam urine berpotensi membuat pasien datang berobat saat kanker sudah lebih agresif dan sulit ditangani.

Dampaknya berbeda pada kanker lain

ilustrasi darah dalam urine atau hematuria (flickr.com/John Campbell)

Para peneliti juga meneliti pasien dengan kanker kolorektal yang mengalami buta warna. Namun, hasilnya berbeda. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam tingkat kelangsungan hidup antara pasien buta warna dan mereka yang memiliki penglihatan normal.

Hal ini kemungkinan karena kanker kolorektal memiliki lebih banyak gejala awal selain perdarahan, seperti nyeri perut atau perubahan kebiasaan buang air besar. Selain itu, program skrining kanker kolorektal yang luas—terutama pada usia 45 hingga 75 tahun—membantu mendeteksi penyakit lebih dini, bahkan tanpa bergantung pada tanda visual darah.

Sebaliknya, sekitar 80–90 persen pasien kanker kandung kemih pertama kali menyadari adanya darah dalam urine tanpa disertai nyeri. Ketika tanda ini tidak terlihat, peluang deteksi dini pun pupus.

Pentingnya kesadaran dan langkah pencegahan

Studi ini masih bersifat gambaran besar. Banyak orang dengan buta warna tidak pernah mendapat diagnosis formal, sehingga kemungkinan besar jumlah pasien sebenarnya lebih besar dari yang tercatat. Ini berarti risiko yang ditemukan bisa saja masih terlalu rendah.

Meski begitu, temuan ini membuka percakapan baru di dunia medis. Beberapa dokter spesialis mengaku belum pernah mempertimbangkan buta warna sebagai faktor risiko keterlambatan diagnosis kanker. Ke depan, pertanyaan tentang gangguan penglihatan warna bisa menjadi bagian dari skrining kesehatan rutin.

Bagi penyandang buta warna, pemeriksaan urine rutin saat medical check-up tahunan sangat dianjurkan. Jika perlu, meminta bantuan orang terdekat untuk memperhatikan perubahan warna urine bisa menjadi langkah kecil yang berpotensi menyelamatkan nyawa.

Referensi

Mustafa Fattah et al., “Impact of Colour Vision Deficiency on Bladder and Colorectal Cancer Survival,” Nature Health 1, no. 1 (January 15, 2026): 113–19, https://doi.org/10.1038/s44360-025-00032-7.

"Study finds link between colorblindness and death from bladder cancer." Stanford Medicine. Diakses Januari 2026.

Editorial Team