Risiko tertinggi kehamilan terjadi pada tahun pertama setelah pemasangan IUD. Jika kamu hamil saat masih menggunakan IUD, penyedia layanan kesehatan biasanya menyarankan pelepasan IUD. Sebab, hamil dengan IUD masih terpasang meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan, seperti:
- Keguguran. Melepas IUD di awal kehamilan mengurangi risiko keguguran. Namun, risiko keguguran pada orang yang hamil dengan IUD lebih besar daripada orang yang hamil tanpa IUD.
- Kelahiran prematur. Adanya IUD saat hamil meningkatkan risiko kelahiran prematur hingga lima kali lipat dibandingkan saat IUD dilepas.
- Infeksi. Selalu ada kemungkinan terjadinya infeksi yang disebut korioamnionitis pada pengguna IUD. Korioamnionitis adalah suatu kondisi pada selaput plasenta dan cairan ketuban yang mengelilingi janin. Ini adalah kondisi serius dan berpotensi mengancam jiwa.
- Solusio plasenta. Komplikasi ini menyebabkan terpisahnya plasenta dari rahim sebelum atau selama persalinan. Ini dapat menyebabkan kehilangan banyak darah, keguguran, dan, kematian ibu hamil.
- Paparan hormon. Jika kamu menggunakan IUD hormonal, alat tersebut akan terus mengirimkan hormon progestin ke rahim. Paparan hormon dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kelainan bawaan.
Jadi, jika saat ini kamu menggunakan IUD dan mengalami tanda-tanda kehamilan, segera lakukan tes kehamilan. Jika hasilnya positif, segera temui dokter. Ingat, jangan mencoba melepas IUD sendiri karena ini bisa berbahaya.
Referensi
"Intrauterine Contraception." Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Desember 2025.
"FSRH Guideline Intrauterine Contraception." Faculty of Sexual & Reproductive Healthcare. Diakses Desember 2025.
“What to Know About IUDs.” Ohio State Health & Discovery. Diakses Desember 2025.
"Birth Control: IUDs." KidsHealth for Parents. Diakses Desember 2025.
"Can You Get Pregnant with an IUD in Place?" Healthline. Diakses Desember 2025.
"Can You Become Pregnant With an IUD In?" Verywell Health. Diakses Desember 2025.