Isu seputar human papillomavirus (HPV) masih sering dipenuhi berbagai mitos, termasuk anggapan bahwa sunat atau sirkumsisi bisa menjadi faktor penyebaran virus ini. Pertanyaannya, benarkah sunat justru meningkatkan risiko penularan HPV?
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven, memberikan jawaban bahwa persepsi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dalam konteks medis, sunat bukanlah penyebab penyebaran HPV, melainkan berkaitan dengan tingkat risiko seseorang terhadap infeksi.
Menurutnya, infeksi HPV bisa bersifat “tersembunyi” di permukaan kulit atau mukosa, sehingga seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya. Hal ini membuat penularan bisa terjadi tanpa gejala yang jelas.
"Infeksi HPV ini bisa tersembunyi. Meskipun dia sangat infectious dan bisa tereradikasi dari permukaan kulit kita atau mukosa dalam 12 bulan, itu tetap saja kalau kita tidak melakukan sirkumsisi, itu tetap bisa mendapatkan infeksi HPV," jelas Dr. Hanny dalam acara Kelas Jurnalis 2026 pada Selasa (21/4/2026) di Jakarta.
Artinya, bukan sunat yang menyebabkan penyebaran HPV, melainkan individu yang tidak disunat cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi. Hal ini berkaitan dengan kondisi area genital yang memungkinkan virus bertahan lebih lama.
Dengan kata lain, sunat justru bisa menjadi salah satu faktor yang membantu menurunkan risiko infeksi HPV, meski bukan satu-satunya cara pencegahan. Faktor lain seperti perilaku seksual dan kebersihan tetap berperan penting.
Kesimpulannya, anggapan bahwa sunat menjadi penyebab penyebaran HPV adalah mitos. Justru, pemahaman yang tepat mengenai faktor risiko dan langkah pencegahan, termasuk vaksinasi dan perilaku sehat, menjadi kunci untuk menekan penularan HPV.
