Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sunat Bisa Picu Penyebaran HPV? Ini Jawaban Dokter
Sejumlah anak melakukan registrasi pendaftaran untuk pelaksanaan khitan bersama di kantor Dharma Lautan Utama (DLU) Semarang Jalan Raden Patah Kecamatan Semarang Timur. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Dokter Hanny Nilasari menegaskan bahwa sunat bukan penyebab penyebaran HPV, melainkan berkaitan dengan tingkat risiko infeksi pada individu.

  • Infeksi HPV dapat tersembunyi di kulit atau mukosa tanpa gejala jelas, sehingga penularan bisa terjadi tanpa disadari.

  • Sunat dapat membantu menurunkan risiko infeksi HPV, namun pencegahan tetap perlu didukung perilaku seksual sehat, kebersihan, dan vaksinasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Isu seputar human papillomavirus (HPV) masih sering dipenuhi berbagai mitos, termasuk anggapan bahwa sunat atau sirkumsisi bisa menjadi faktor penyebaran virus ini. Pertanyaannya, benarkah sunat justru meningkatkan risiko penularan HPV?

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven, memberikan jawaban bahwa persepsi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dalam konteks medis, sunat bukanlah penyebab penyebaran HPV, melainkan berkaitan dengan tingkat risiko seseorang terhadap infeksi.

Menurutnya, infeksi HPV bisa bersifat “tersembunyi” di permukaan kulit atau mukosa, sehingga seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya. Hal ini membuat penularan bisa terjadi tanpa gejala yang jelas.

"Infeksi HPV ini bisa tersembunyi. Meskipun dia sangat infectious dan bisa tereradikasi dari permukaan kulit kita atau mukosa dalam 12 bulan, itu tetap saja kalau kita tidak melakukan sirkumsisi, itu tetap bisa mendapatkan infeksi HPV," jelas Dr. Hanny dalam acara Kelas Jurnalis 2026 pada Selasa (21/4/2026) di Jakarta.

Artinya, bukan sunat yang menyebabkan penyebaran HPV, melainkan individu yang tidak disunat cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi. Hal ini berkaitan dengan kondisi area genital yang memungkinkan virus bertahan lebih lama.

Dengan kata lain, sunat justru bisa menjadi salah satu faktor yang membantu menurunkan risiko infeksi HPV, meski bukan satu-satunya cara pencegahan. Faktor lain seperti perilaku seksual dan kebersihan tetap berperan penting.

Kesimpulannya, anggapan bahwa sunat menjadi penyebab penyebaran HPV adalah mitos. Justru, pemahaman yang tepat mengenai faktor risiko dan langkah pencegahan, termasuk vaksinasi dan perilaku sehat, menjadi kunci untuk menekan penularan HPV.

Editorial Team