Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pentingnya Vaksin HPV untuk Laki-Laki, Sumbang 40 Persen Kasus Kanker

Pentingnya Vaksin HPV untuk Laki-Laki, Sumbang 40 Persen Kasus Kanker
ilustrasi anak laki-laki mendapatkan vaksinasi HPV (freepik.com/prostooleh)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • HPV tidak mengenal gender; laki-laki juga berisiko tinggi terinfeksi dan menyumbang sekitar 40 persen kasus kanker terkait HPV di dunia.
  • Laki-laki menanggung beban penyakit akibat HPV seperti kutil kelamin, kanker penis, dan orofaring, dengan risiko infeksi persisten lebih tinggi dibanding perempuan.
  • Vaksinasi HPV paling efektif diberikan pada anak usia 9–13 tahun karena respons imun optimal, menjadi langkah pencegahan dini bagi kesehatan jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama ini, vaksin human papillomavirus (HPV) sering kali cuma dikaitkan dengan perempuan, terutama untuk mencegah kanker serviks. Padahal, pemahaman ini tidak sepenuhnya tepat. Laki-laki juga berisiko terinfeksi HPV dan dapat mengalami berbagai penyakit serius akibat virus ini.

Dalam acara Kelas Jurnalis 2026 pada Selasa (21/4/2026) oleh MSD Indonesia di Jakarta, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, M.A, menegaskan bahwa HPV tidak mengenal gender. Artinya, upaya pencegahan melalui vaksinasi seharusnya tidak hanya ditujukan bagi perempuan, tetapi juga laki-laki.

Seiring meningkatnya kesadaran akan dampak HPV pada laki-laki, penting untuk memahami mengapa vaksin HPV juga menjadi investasi kesehatan yang krusial bagi mereka.

Table of Content

1. Sebanyak 1 dari 3 laki-laki terinfeksi HPV

1. Sebanyak 1 dari 3 laki-laki terinfeksi HPV

Data global menunjukkan, hampir 1 dari 3 laki-laki berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi HPV. Lebih dari sekadar menjadi pembawa virus, laki-laki juga berkontribusi pada sekitar 40 persen kasus kanker terkait HPV di dunia, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis yang angka kasusnya meningkat.

Menurut dr. Andi, persepsi publik yang selama ini hanya mengaitkan HPV dengan perempuan perlu diubah.

"Realitanya HPV tidak mengenal gender," ujarnya.

Ia menjelaskan, meski cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan telah mencapai 91,1 persen pada 2025 melalui program BIAS, tetapi upaya pencegahan belum sepenuhnya selesai.

Pemerintah kini mendorong perluasan edukasi agar masyarakat memahami bahwa vaksin HPV merupakan investasi kesehatan bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan.

2. Laki-laki juga menanggung beban penyakit terkait HPV

Tiga pembicara duduk di atas panggung dalam acara Kelas Jurnalis 2026 di Jakarta membahas topik memahami HPV pada anak laki-laki.
Kelas Jurnalis 2026 bertajuk “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Generasi Masa Depan” (21/4/2026) (dok. MSD Indonesia)

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven., menyoroti hidden burden atau beban tersembunyi dari infeksi HPV pada laki-laki yang sering luput dari perhatian. Selama ini, fokus lebih banyak tertuju pada kanker serviks pada perempuan, padahal HPV juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada laki-laki.

"Di luar kanker leher rahim pada perempuan, infeksi HPV juga bisa menyebabkan kutil kelamin, pre-kanker, kanker penis, hingga kanker orofaring pada laki-laki," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa laki-laki cenderung tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV, sehingga risiko infeksi yang menetap (persisten) menjadi lebih tinggi.

Secara global, risiko kanker orofaring bahkan tercatat hingga empat kali lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Beda dengan kanker serviks yang memiliki program skrining rutin, kanker orofaring belum memiliki sistem skrining populasi, sehingga sering terlambat terdeteksi. Kondisi ini makin menegaskan pentingnya pencegahan sejak dini, termasuk melalui vaksinasi pada laki-laki.

"Dengan melindungi diri, laki-laki tidak hanya menjaga kesehatannya sendiri, tetapi juga berperan aktif dalam memutus rantai transmisi HPV kepada pasangan dan masyarakat luas,” kata Dr. Hanny.

3. Vaksin paling efektif diberikan sejak usia anak

Dari perspektif kesehatan anak, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA(K), menekankan bahwa pencegahan infeksi HPV sebaiknya dimulai sejak dini. Menurutnya, sistem imun anak berada pada kondisi paling optimal untuk merespons vaksin pada usia 9–13 tahun.

"Sistem imun anak merespons paling kuat pada usia 9–13 tahun, sehingga efektivitas pencegahan maksimal diraih jika dimulai pada periode ini," jelasnya.

Karena itu, pemberian vaksin HPV pada anak usia sekolah dasar dinilai sebagai langkah paling tepat untuk mendapatkan perlindungan maksimal sebelum terpapar risiko saat dewasa.

Ia juga menambahkan, pencegahan tidak cukup hanya dengan vaksinasi, tetapi perlu dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin, menjaga kebersihan, hingga edukasi kesehatan sejak dini.

"Imunisasi HPV bagi anak-anak adalah bentuk kesetaraan hak kesehatan agar mereka terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah," tegasnya, sekaligus mengingatkan agar stigma tidak menghambat upaya perlindungan ini.

Vaksin HPV bukan hanya penting untuk perempuan, tetapi juga menjadi perlindungan krusial bagi laki-laki dari berbagai risiko penyakit serius di masa depan. Dengan vaksinasi sejak dini dan edukasi yang lebih luas, perlindungan terhadap HPV dapat dilakukan secara lebih menyeluruh untuk seluruh anak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More