Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Jakarta, pada Kamis (08/01/2026).
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Jakarta, pada Kamis (08/01/2026) (IDN Times/Misrohatun)

Intinya sih...

  • Kesehatan anak memengaruhi proses belajar.

  • Minimnya angka sarjana di Indonesia terkait dengan kualitas kesehatan dan gizi anak.

  • Stunting berdampak pada kualitas pendidikan dan kepemimpinan masa depan Indonesia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama ini, upaya mencetak pemimpin berkualitas di Indonesia kerap difokuskan pada perbaikan sistem pendidikan dan akses ke jenjang perguruan tinggi. Namun, pendekatan tersebut belum menyentuh fondasi paling awal pembentukan sumber daya manusia.

Menurut Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, kualitas kepemimpinan bangsa justru ditentukan sejak masa kanak-kanak, ketika kesehatan, nutrisi, dan daya tahan tubuh membentuk kemampuan kognitif anak secara berkelanjutan.

“Kecerdasan tidak bisa berdiri sendiri. Jika tidak dibarengi dengan imunitas yang baik, anak akan sering sakit, proses belajar terganggu, dan potensi akademiknya tidak berkembang optimal,” ujarnya dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Jakarta, pada Kamis (08/01/2026).

Sering sakit ganggu proses belajar

Berbagai penelitian skala besar menunjukkan bahwa anak dengan daya tahan tubuh yang buruk cenderung mengalami gangguan dalam proses belajar. Anak yang sering sakit akan lebih banyak absen dari sekolah, kehilangan kesempatan stimulasi kognitif, dan mengalami penurunan konsentrasi saat belajar.

Kondisi ini berdampak langsung pada prestasi akademik dan capaian pendidikan jangka panjang. Dr. Ray menjelaskan bahwa ketika anak mengalami infeksi berulang, energi tubuh akan lebih banyak dialihkan untuk proses pemulihan, bukan untuk perkembangan otak. Akibatnya, potensi kognitif yang seharusnya berkembang optimal justru terhambat sejak dini.

Minimnya angka sarjana di Indonesia

ilustrasi sarjana (pexels.com/Emily Ranquist)

Dampak kesehatan anak terhadap pendidikan tercermin pada capaian pendidikan tinggi di Indonesia. Hingga kini, proporsi penduduk Indonesia yang berhasil menamatkan pendidikan sarjana masih berada di kisaran 20–30 persen. Angka ini menunjukkan bahwa akses dan kualitas pendidikan tinggi belum sepenuhnya merata.

Namun, persoalannya tidak semata-mata berada di bangku sekolah atau perguruan tinggi. Rendahnya capaian pendidikan tersebut juga berkaitan erat dengan kualitas kesehatan dan gizi anak sejak dini, termasuk tingginya prevalensi stunting dan masalah imunitas. Sejumlah kajian akademik bahkan menunjukkan bahwa tanpa perbaikan signifikan pada status gizi dan kesehatan anak, peningkatan jumlah lulusan sarjana akan sulit tercapai dalam jangka panjang.

Stunting pengaruhi kualitas pendidikan

Masalah stunting menjadi salah satu penjelasan utama mengapa kualitas pendidikan dan kepemimpinan masa depan Indonesia sulit melonjak. Stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak, tetapi juga dengan perkembangan otak, kemampuan kognitif, dan daya tahan tubuh.

Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan bahwa jika prevalensi stunting tetap berada pada level seperti saat ini, peningkatan jumlah lulusan sarjana di Indonesia tidak akan signifikan hingga setidaknya dua dekade ke depan.

Anak yang mengalami stunting sejak usia dini cenderung memiliki kapasitas belajar yang lebih rendah, lebih rentan sakit, dan menghadapi hambatan dalam menyelesaikan pendidikan tinggi, sehingga berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Jika Indonesia ingin memiliki lebih banyak pemimpin berkualitas di masa depan, maka investasi terbesar bangsa tidak bisa hanya difokuskan pada ruang kelas dan kurikulum. Fondasi kepemimpinan dibangun jauh lebih awal, melalui kesehatan anak yang optimal—mulai dari kecukupan nutrisi, daya tahan tubuh yang kuat, hingga sistem pencernaan yang sehat.

Upaya menurunkan stunting, mencegah anemia, dan memastikan anak tumbuh jarang sakit bukan sekadar isu kesehatan, melainkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan, produktivitas, dan daya saing bangsa. Pemimpin masa depan Indonesia lahir dari keluarga yang mampu menjaga kesehatan anak sejak dini, karena dari sanalah peradaban yang kuat benar-benar dimulai.

Editorial Team