Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Minum air putih.
ilustrasi air minum (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Minum air berlebihan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh.

  • Overhidrasi bisa memicu kondisi serius seperti hiponatremia.

  • Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, tidak bisa disamaratakan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Minum air putih kerap dianggap sebagai solusi hampir semua keluhan. Lelah sedikit, minum air. Tenggorokan gatal, minum. Kulit kering, minum. Sakit kepala, minum. Menjaga hidrasi memang penting karena pada dasarnya air berperan besar dalam mengatur suhu tubuh, melancarkan sirkulasi, membantu fungsi ginjal, hingga menjaga kerja otak.

Namun, seperti banyak hal lainnya, yang berlebihan jarang membawa manfaat. Tubuh manusia memiliki sistem keseimbangan cairan yang presisi. Ketika asupan air jauh melampaui kemampuan tubuh untuk mengelolanya, masalah justru bisa muncul. Kondisi ini dikenal sebagai overhidrasi atau water intoxication (keracunan air).

Dalam kasus tertentu, minum air berlebihan bisa mengencerkan kadar elektrolit penting, terutama natrium, dan memicu gangguan serius pada sistem saraf, jantung, hingga otak.

Berikut delapan ciri-cri yang bisa mengindikasikan kamu terlalu banyak minum air.

1. Warna urine sangat jernih

Warna urine adalah indikator sederhana keseimbangan cairan tubuh. Urine yang sehat umumnya berwarna kuning pucat. Ketika warnanya terus-menerus jernih, ini bisa menandakan bahwa tubuh menerima cairan lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

Ginjal bekerja menyaring darah dan membuang kelebihan cairan melalui urine. Namun, saat volume air yang masuk terlalu besar, ginjal dipaksa bekerja ekstra untuk mengeluarkannya. Ini bukan kondisi ideal jika berlangsung terus-menerus.

Urine yang selalu bening, terutama tanpa aktivitas fisik berat atau cuaca panas, dapat menjadi salah satu tanda awal overhidrasi, terutama jika disertai gejala lain seperti pusing atau lemas.

2. Buang air kecil terus-menerus

ilustrasi laki-laki sedang buang air kecil (IDN Times/Novaya)

Sering buang air kecil memang normal ketika asupan cairan meningkat. Namun, jika kamu harus ke toilet hampir setiap 30–60 menit sepanjang hari, ini patut diperhatikan.

Frekuensi buang air kecil yang berlebihan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas tidur, terutama jika harus terbangun berkali-kali di malam hari (nokturia). Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi keseimbangan elektrolit tubuh.

Asupan cairan berlebihan dapat “mengencerkan” sinyal haus alami tubuh, sehingga kamu terus minum meski sebenarnya tidak dibutuhkan.

3. Sakit kepala tanpa penyebab yang jelas

Ironisnya, minum air terlalu banyak justru bisa memicu sakit kepala. Ini berkaitan dengan pembengkakan sel otak akibat rendahnya kadar natrium dalam darah, kondisi yang disebut hiponatremia.

Ketika darah menjadi terlalu encer, cairan bergerak masuk ke dalam sel otak melalui osmosis. Tekanan di dalam tengkorak meningkat, dan sakit kepala pun muncul, sering kali disertai rasa berat atau berdenyut.

Sakit kepala yang sering terjadi menjadi gejala awal hiponatremia sebelum berkembang menjadi gangguan neurologis yang lebih serius.

4. Mual dan rasa tidak nyaman di perut

ilustrasi mual dan muntah (IDN Times/Novaya Siantita)

Perut kembung, mual, atau rasa penuh berlebihan bisa muncul ketika lambung dan usus dibanjiri cairan. Kondisi ini bukan karena makanan, melainkan volume air yang terlalu besar.

Selain efek mekanis pada lambung, ketidakseimbangan elektrolit juga memengaruhi kontraksi otot polos saluran cerna. Akibatnya, pencernaan terasa tidak nyaman meski tidak ada masalah makanan.

Mual sering menjadi tanda awal overhidrasi sebelum gejala neurologis muncul.

5. Pembengkakan di tangan, kaki, atau bibir

Edema atau pembengkakan ringan bisa terjadi ketika cairan berpindah dari pembuluh darah ke jaringan tubuh. Ini sering terlihat di jari tangan, pergelangan kaki, atau bibir.

Berbeda dengan edema akibat penyakit jantung atau ginjal, pembengkakan karena overhidrasi sering muncul tiba-tiba dan bersifat simetris. Biasanya disertai rasa tegang atau berat, bukan nyeri.

Pembengkakan ini berkaitan langsung dengan pengenceran natrium darah, yang mengganggu distribusi cairan antar jaringan.

6. Otot terasa lemah atau sering kram

ilustrasi kram otot (freepik.com/drobotdean)

Natrium, kalium, dan elektrolit lain berperan penting dalam kontraksi otot. Ketika kadar elektrolit ini turun akibat terlalu banyak minum air, sinyal saraf ke otot menjadi terganggu.

Akibatnya, otot bisa terasa lemah, gemetar, atau mengalami kram tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini sering dialami atlet yang minum air berlebihan tanpa diimbangi elektrolit.

Hidrasi saat aktivitas fisik harus mempertimbangkan keseimbangan elektrolit, bukan hanya volume air.

7. Lelah dan sulit fokus

Kelebihan air bisa membuat tubuh terasa “kosong” secara energi. Bukan karena kurang cairan, tetapi karena sel-sel tubuh tidak mendapatkan lingkungan kimia yang optimal untuk bekerja.

Hiponatremia ringan dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga rasa bingung. Gejala ini sering disalahartikan sebagai kurang minum, padahal penyebabnya justru sebaliknya.

Perubahan kecil pada kadar natrium saja sudah cukup memengaruhi fungsi kognitif.

8. Berat badan naik dalam waktu singkat

ilustrasi menimbang berat badan (freepik.com/freepik)

Kenaikan berat badan yang cepat, dalam hitungan jam atau hari, bisa menjadi tanda retensi cairan. Ini berbeda dengan kenaikan berat badan akibat lemak atau otot.

Jika berat badan naik 1–2 kilogram tanpa perubahan pola makan, sangat mungkin itu berasal dari cairan berlebih yang belum dikeluarkan tubuh.

Perubahan berat badan mendadak sebagai salah satu indikator ketidakseimbangan cairan yang perlu diwaspadai.

Minum air tetap penting bagi kesehatan. Namun, kebutuhan cairan tidak bisa disamaratakan menjadi angka mutlak seperti delapan gelas sehari. Faktor usia, aktivitas fisik, suhu lingkungan, kondisi medis, hingga pola makan sangat memengaruhi kebutuhan setiap individu.

Tubuh sebenarnya memiliki sistem alarm yang cukup andal melalui rasa haus, warna urine, dan sinyal fisik lainnya. Intinya adalah keseimbangan, termasuk dalam hal hidrasi.

Referensi

"What the Color of Your Pee Says About You." Cleveland Clinic. Diakses Januari 2026.

"Frequent Urination." Mayo Clinic. Diakses Januari 2026.

Preeti Rout and Madhu Badireddy, “Hyponatremia,” StatPearls - NCBI Bookshelf, December 13, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470386/.

"Water Intoxication." Cleveland Clinic. Diakses Januari 2026.

"Overhydration." Healthline. Diakses Januari 2026.

Victor A. Convertino et al., “ACSM Position Stand: Exercise and Fluid Replacement,” Medicine & Science in Sports & Exercise 28, no. 10 (October 1, 1996): i–ix, https://doi.org/10.1097/00005768-199610000-00045.

"How much water should you drink?" Harvard Health Publishing. Diakses Januari 2026.

"Hyponatremia (low sodium level in the blood)." National Kidney Foundation. Diakses Januari 2026.

Editorial Team