ilustrasi pemeriksaan kesehatan (unsplash.com/Mufid Majnun)
Karena TBC ginjal tidak muncul secara tiba-tiba, pencegahannya sangat erat kaitannya dengan pencegahan dan pengendalian TBC secara umum, yang dapat menurunkan risiko penyebaran M. tuberculosis ke organ lain.
Sebagian besar kasus TBC ginjal terjadi akibat penyebaran bakteri dari TBC paru melalui aliran darah, sering kali bertahun-tahun setelah infeksi awal. Karena itu, diagnosis dan pengobatan TBC paru secara cepat dan tuntas menjadi langkah pencegahan paling penting. Terapi TBC yang adekuat dapat secara signifikan menurunkan risiko TBC ekstrapulmoner, termasuk keterlibatan ginjal.
Penghentian obat TBC sebelum waktunya meningkatkan risiko TBC persisten dan reaktivasi laten, yang dapat menyebar ke ginjal. Kepatuhan penuh terhadap regimen pengobatan TBC tidak hanya menyembuhkan infeksi aktif, tetapi juga mencegah komplikasi jangka panjang dan resistansi obat.
TBC ginjal lebih sering ditemukan pada individu dengan sistem imun yang terganggu, seperti orang dengan HIV, diabetes, penyakit ginjal kronis, atau mereka yang menggunakan obat imunosupresan jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa pengendalian penyakit penyerta, terutama HIV dan diabetes, berperan penting dalam menurunkan risiko TBC ekstrapulmoner.
TBC laten dapat “tidur” selama bertahun-tahun sebelum aktif kembali dan menyebar ke organ lain, termasuk ginjal. WHO merekomendasikan skrining dan terapi TBC laten pada kelompok berisiko tinggi, seperti kontak erat pasien TBC aktif dan individu dengan gangguan imunitas, sebagai langkah pencegahan berbasis populasi.
Ventilasi yang baik, penggunaan masker pada pasien TBC aktif, dan edukasi tentang etika batuk tetap relevan. Intervensi ini terbukti menurunkan transmisi TBC dan secara tidak langsung mengurangi risiko komplikasi jangka panjang, termasuk TBC ginjal.
Secara keseluruhan, mencegah TBC ginjal berarti mencegah TBC itu sendiri, terutama dengan memastikan infeksi terdeteksi lebih awal, diobati secara tuntas, dan tidak diberi kesempatan untuk menyebar ke organ vital lainnya.
TBC ginjal adalah salah satu bentuk TBC ekstrapulmoner yang meskipun jarang, tetap merupakan kondisi serius dan sering terdiagnosis terlambat karena gejala yang tidak spesifik dan mirip ISK. Penyakit ini terjadi karena penyebaran bakteri dari paru-paru atau bagian tubuh lain melalui darah dan merupakan bagian dari TBC genitourinaria yang kompleks.
Diagnosis yang teliti ditambah pengobatan yang konsisten dapat mencegah komplikasi serius seperti kehilangan fungsi ginjal permanen. Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami gejala urine yang tidak biasa, berkonsultasilah dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
Referensi
Kristina Roddy et al., “Genitourinary Tuberculosis,” StatPearls - NCBI Bookshelf, August 16, 2024, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557558/.
Muneer, A., Macrae, B., Krishnamoorthy, S. et al. "Urogenital tuberculosis — epidemiology, pathogenesis and clinical features." Nat Rev Urol 16, 573–598 (2019). https://doi.org/10.1038/s41585-019-0228-9.
Zachoval R, Nencka P, Vasakova M, Kopecka E, Borovička V, Wallenfels J, Cermak P. The incidence of subclinical forms of urogenital tuberculosis in patients with pulmonary tuberculosis. J Infect Public Health. 2018 Mar-Apr;11(2):243-245. doi: 10.1016/j.jiph.2017.07.005.
"What to Know About Renal (Kidney) Tuberculosis." Healthline. Diakses Januari 2026.
“Treatment of Tuberculosis American Thoracic Society, CDC, and Infectious Diseases Society of America,” June 20, 2003, https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5211a1.htm.
"Global tuberculosis report 2025." WHO. Diakses Januari 2026.