ilustrasi virus corona (IDN Times/Aditya Pratama)
Untuk menguji replikasi virus BA.2 secara in vivo, para peneliti Jepang lagi-lagi mengujinya terhadap hamster. Para peneliti membandingkannya dengan BA.1.1 yang menyebabkan penurunan berat badan dan gangguan pernapasan. Di sisi lain, BA.1 menunjukkan gejala ringan atau asimtomatik.
Sambil memantau keadaan para hamster yang terinfeksi BA.2, para peneliti melihat bahwa keadaan para hamster amat berbeda dari hamster yang tak terinfeksi dan yang terinfeksi BA.1. Keparahan BA.2 setara dengan BA.1.1. Oleh karena itu, para peneliti menduga bahwa BA.2 jauh lebih patogenik dibanding BA.1.
ilustrasi virus corona (IDN Times/Aditya Pratama)
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai keganasan patogenik BA.2, para peneliti Jepang meneliti bagian kanan paru-paru hamster pada hari ke-1, ke-3, dan ke-5 pascainfeksi. Dibanding BA.1, risiko kerusakan paru akibat BA.2 jauh lebih besar, terutama akibat komplikasi seperti:
- Bronkitis atau bronkiolitis
- Pendarahan
- Kerusakan alveolus
- Kongesti edema
Hiperplasia pneumosit tipe II di hari ke-5 pascainfeksi lebih besar pada hamster yang terinfeksi BA.2, dibanding BA.1.1 dan BA.1. Pada paru-paru yang terinfeksi BA.2 dan BA.1.1, inflamasi hiperplasia pneumosit tipe II terlihat pada setiap lobus. Oleh karena itu, BA.2 mencatat skor keparahan lebih tinggi dibanding BA.1.