Alasan Sutradara Gunakan Breaking The 4th Wall di Film Balas Budi

- Pakai "Breaking the Fourth Wall" untuk mendekatkan isu utama kepada penonton
- Balas Budi pada awalnya tidak dirancang menggunakan breaking the fourth wall. Reka mengungkap bahwa konsep awal film ini adalah narasi konvensional.
- Reka Wijaya juga mengakui bahwa ada beberapa film dan serial yang turut memengaruhi pendekatan Balas Budi. Salah satu inspirasi terbesarnya adalah serial Fleabag (2016) dan karakter "Manic Pixie Dream Girl".
Jakarta, IDN Times — Film terbaru Im-a-gin-e, Balas Budi (2026), tak hanya menyenggol isu love scamming dalam balutan komedi romantis, tetapi juga mencuri perhatian lewat pendekatan naratif yang tak biasa. Sutradara Reka Wijaya memilih menggunakan konsep breaking the fourth wall, teknik penceritaan yang membuat karakter seolah "menyapa" langsung penonton.
Pilihan ini bukan sekadar gaya, melainkan keputusan kreatif yang lahir dari proses panjang pengembangan naskah. Lewat pendekatan tersebut, Balas Budi berupaya mengemas isu serius agar tetap ringan, dekat, dan mudah dicerna audiens.
1. Pakai "Breaking the Fourth Wall" untuk mendekatkan isu utama kepada penonton

Breaking the fourth wall adalah teknik penceritaan ketika karakter dalam film atau serial menyadari keberadaan penonton dan berbicara langsung ke kamera. Disebut demikian karena seolah menembus "dinding keempat" yang biasanya memisahkan dunia cerita dan audiens.
Menurut Reka Wijaya, konsep ini dipilih agar cerita terasa ringan tanpa kehilangan esensinya.
"Kalau pakai breaking the fourth wall karena pengen terasa lebih light, tapi tetap punya muatan," ujarnya saat bincang-bincang di XXI Metropole, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Ia kemudian menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan penonton ikut terlibat secara emosional.
"Karena ingin membawa penonton juga ikut dalam ceritanya. Jadi ada interaksi antara karakter dengan isu dan kontennya sendiri. Supaya terasa lebih dekat aja ke audiens," jelas Reka.
Konsep ini sebenarnya bukan hal baru di perfilman Indonesia. Tahun lalu, film Tinggal Meninggal (2025) arahan Kristo Immanuel juga menggunakan pendekatan serupa untuk menciptakan kedekatan dan humor yang lebih personal.
2. Sempat pakai konsep linear, sampai merombak naskah

Menariknya, Balas Budi pada awalnya tidak dirancang menggunakan breaking the fourth wall. Reka mengungkap bahwa konsep awal film ini adalah narasi konvensional. Namun setelah melalui proses panjang, tim merasa pendekatan tersebut kurang efektif.
"Tadinya ini konsepnya gak breaking the fourth wall, linear biasa aja, naratif biasa. Begitu kita exercise, kayaknya pendekatannya lebih asik kalau dibawa ke breaking the fourth wall," tuturnya.
Salah satu pertimbangan lainnya adalah tone cerita. "Kalau kita bikin dengan yang normatif, kayaknya jadi stressful ya, dan jadi gak ada pembeda antara konsep komedi rom-com-nya," lanjut Reka.
Akhirnya, tim melakukan berbagai eksperimen bersama penulis dan departemen kamera. Dari awalnya ada tiga konsep, sampai breaking the fourth wall dipakai untuk film ini.
"Nge-tweaking karakternya juga lumayan lama, karena perubahannya signifikan. Sampai akhirnya kita sepakat pakai breaking the fourth wall," jelasnya.
3. Reka Wijaya akui terinspirasi dari Flebag dan karakter "Manic Pixie Dream Girl"

Reka Wijaya juga mengakui bahwa ada beberapa film dan serial yang turut memengaruhi pendekatan Balas Budi. Salah satu inspirasi terbesarnya adalah serial Fleabag (2016).
"Yang paling utama terinspirasi sama series Fleabag. Kalau saya pribadi, karena karakternya dari awal memang kita bikin Pixie Dream Girl untuk Alma," ujarnya.
Karakter Manic Pixie Dream Girl (MPDG) adalah sosok perempuan yang unik, spontan, ceria, dan sering berfungsi sebagai katalis perubahan bagi karakter lain. Dalam konteks film Balas Budi, Alma (Michelle Ziudith) dirancang sebagai MPDG.
"Ini Pixie Dream banget nih cewek, si Alma ini. Ketemu dengan karakter lain, kawinlah. Dari situ kita ngerubah konsepnya (jadi breaking the fourth wall)," kata Reka.
Dengan pendekatan ini, Alma tidak hanya menjadi karakter dalam cerita, tetapi juga semacam "pemandu" yang mengajak penonton masuk ke dalam dinamika emosional film. Mirip karakter Phoebe Waller-Bridge di Fleabag.


















