potret Anggun C. Sasmi di kantor IDN, Jakarta, Rabu (1/4/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Anggun C. Sasmi mengaku percaya fenomena kerasukan. Namun menurutnya, kerasukan bukan hanya soal hal mistis seperti yang sering diperbincangkan dalam budaya Indonesia, melainkan juga memiliki berbagai lapisan yang berbeda-beda.
“Kalau secara personal, aku percaya banget. Hipnotisme juga termasuk kerasukan, kan?” ujar Anggun dengan nada yang cukup serius.
Ia pun mencontohkan pengalaman menonton dokumenter Prancis tentang hipnotisme yang digunakan untuk operasi orangtua yang tidak bisa dibius. Berdasarkan cerita Anggun, metode tersebut memungkinkan pasien tetap sadar, tetapi seperti hilang kesadaran. Menurutnya, hal ini pun termasuk ke dalam sebuah bentuk kerasukan.
Ia pun menekankan bahwa pemahaman soal kerasukan ini seharusnya tidak one-dimensional. Menurutnya, ada banyak kultur di dunia yang memiliki praktik serupa, tapi sering kali hanya sisi negatifnya saja yang terekspos.
“Jadi buat aku, sebenarnya yang kita tahu di sini, kita terlalu latah bilang kerasukan setan. Ternyata tidak, ada banyak sekali lapisannya itu. Yang aku suka adalah ini memberi tahu kita bahwa sesuatu itu tidak hanya one-dimensional. Kita harus bisa belajar juga melihat ada sisi-sisi lain, yang mungkin malah justru positif. Tapi tergantung bentuknya, tergantung motivasinya,” lanjutnya.
Anggun juga membandingkan kerasukan yang terjadi di Indonesia dengan yang di luar negeri. Misalnya, di Turki ada penari yang in trance hanya lewat gerakan dan energi kolektif, tanpa bantuan substansi apa pun. Sementara di Amerika Latin, ada beberapa ritual yang menggunakan jamur atau zat tertentu untuk memasuki alam halusinasi.