Apakah Star Wars Terinspirasi dari Perang Vietnam?

- George Lucas menyatakan pemberontak dalam Star Wars terinspirasi Viet Cong, menggambarkan perang asimetris ketika kelompok kecil melawan kekaisaran berteknologi tinggi.
- Lucas menempatkan politik dan sistem sosial sebagai inti cerita; naskah Star Wars dipengaruhi Perang Vietnam serta kekhawatirannya tentang demokrasi yang berubah menjadi kediktatoran.
- Nuansa politik berlanjut dalam trilogi prekuel dan Andor, yang mengangkat kerusakan demokrasi, imperialisme militer, penahanan massal, pengusiran penduduk asli, serta genosida.
Star Wars yang kita kenal adalah petualangan di luar angkasa tentang penyihir luar angkasa, monster raksasa, dan pedang laser. Namun, di balik alur cerita alien hingga menjamurnya mitos Arthurian, franchise ini juga menyimpan beberapa tema dan paralel politik yang lebih subversif.
George Lucas adalah sineas yang politis. Bahkan, film fitur pertamanya yang berjudul THX 1138 (1971) berlatar di masa depan distopia, ketika emosi dikendalikan oleh konsumsi obat-obatan secara paksa dan anak-anak dibesarkan di dalam tabung.
Kendati begitu, Star Wars sendiri tidak terlalu eksplisit menggambarkan politiknya, tetapi ada beberapa adegan yang menyindir politik. Nah, apakah Star Wars merupakan alegori dari Perang Vietnam? Coba kita bahas, ya!
1. Pemberontakan dan kekaisaran dalam Star Wars gak asing seperti di dunia nyata

The Rebel Alliance dalam Star Wars (dok. Lucasfilm/Star Wars) Yap, George Lucas sendiri sering berbicara tentang makna di balik pemberontakan dan kekaisaran dalam Star Wars. Dalam wawancara George Lucas dalam dokumenter AMC pada 2018, James Cameron bilang, "Orang baik adalah para pemberontak. Mereka menggunakan perang asimetris melawan kekaisaran yang sangat terorganisir. Saya pikir kita menyebut orang-orang itu 'teroris' hari ini. Kita menyebut mereka 'mujahidin.' Kita menyebut mereka Al-Qaeda."
Nah, George Lucas setuju dengan pernyataan James Cameron. Lucas pun berkomentar, "Saat saya membuatnya (pemberontak di Star Wars), mereka adalah Viet Cong." Lucas menjelaskan bahwa alegori Perang Vietnam menjadi fokus utamanya saat membuat original Star Wars pada pertengahan 1970-an, seperti halnya Revolusi Amerika.
"Kita melawan kekaisaran terbesar di dunia, dan kita hanyalah sekelompok orang desa bertopi bulu berang yang tidak tahu apa-apa, dan hal yang sama terjadi pada Vietnam," kata George Lucas. "Ironisnya, dalam kedua kasus itu, pihak kecil menang dan kekaisaran besar yang sangat berteknologi tinggi, kekaisaran Inggris, dan kekaisaran Amerika, kalah."
2. Star Wars punya inti politis ketimbang sains dalam ceritanya

cuplikan adegan yang diperankan Harrison Ford dalam film Star Wars: Episode VI - Return of the Jedi (dok. Lucasfilm Ltd./Star Wars: Episode VI - Return of the Jedi) Dalam wawancara yang sama dengan James Cameron, George Lucas menjelaskan bahwa minat utamanya dalam fiksi ilmiah bukanlah pada bagian sainsnya. "Saya berasal dari antropologi," katanya, "jadi fokus saya adalah sistem sosial. Dalam fiksi ilmiah, ada dua cabang. Satu adalah sains, dan satunya lagi adalah sosial."
Seperti yang pernah dijelaskan Lucas dalam sebuah wawancara dengan Chicago Tribune, yang dilansir Time Magazine, naskah Star Wars aslinya dimotivasi oleh Perang Vietnam dan skandal yang menyeret nama presiden saat itu, Richard Nixon.
"Ini benar-benar tentang Perang Vietnam, dan itu adalah periode ketika Nixon mencoba untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, yang membuat saya berpikir secara historis tentang bagaimana demokrasi berubah menjadi kediktatoran?" Imbuh Lucas.
3. Franchise Star Wars dengan fokus politiknya masih terasa hingga kini

Andor (dok. Lucasfilm/Andor) Fokus politik menjadi dasar seluruh trilogi prekuel Star Wars, sebuah kisah tentang demokrasi yang sudah lama berdiri, tetapi demokrasi ini rusak karena imperialisme militer. Pada saat Sheev Palpatine menobatkan dirinya sebagai kaisar dalam Star Wars Episode III: Revenge of the Sith (2005), sistem yang ia bangun sangat keliru. Namun, ia disambut dengan tepuk tangan meriah. Bahkan hubungan Anakin dengan Padmé merupakan analogi liberalisme dan akhirnya dihancurkan oleh fasisme.
Adapun setelah George Lucas menjual Star Wars ke Disney, nuansa politik ini masih menjadi landasan franchise tersebut. Sebab, serial Disney+ yang mendapat pujian kritis berjudul Andor (2022) mengembalikan Star Wars ke akar revolusionernya.
Andor membahas tema-tema seperti penahanan massal, pengusiran penduduk asli, dan genosida. Showrunner Tony Gilroy mengatakan kepada Deadline tentang inspirasinya, "Ini adalah Revolusi Rusia. Ini adalah Montagnard. Ini adalah sesuatu yang menarik yang terjadi di Revolusi Haiti. Ini adalah ANC. Oh, ini adalah Gedung Irgun, Palestina. Ini adalah Kongres Kontinental."
Alegori dalam sebuah film merupakan ironi dalam kehidupan nyata. Ketika penggambaran ini semakin jelas, kita semakin sadar bahwa pemikiran sineas gak jauh dari kegelisahan seorang manusia.
























