Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ariana Grande Ngamuk Lagu "Bye" Dipakai TikTok Gedung Putih
Ariana Grande kecam penggunaan lagu "Bye" oleh Gedung Putih (dok. instagram.com/arianagrande | TikTok.com/WhiteHouse)
  • Ariana Grande marah karena lagu terbarunya digunakan dalam video promosi kebijakan imigrasi Gedung Putih di TikTok tanpa izin, dan ia menilai konten tersebut bertentangan dengan nilai kemanusiaannya.
  • Pihak Gedung Putih melalui juru bicara Abigail Jackson membela penggunaan video itu serta menolak tudingan Ariana, sambil menegaskan fokus mereka pada isu keamanan perbatasan Amerika Serikat.
  • Kasus ini bukan pertama kalinya pemerintahan Trump memakai lagu artis populer untuk konten politik; sebelumnya Sabrina Carpenter dan beberapa musisi besar juga pernah mengecam tindakan serupa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ariana Grande meluapkan kemarahannya setelah salah satu lagunya digunakan dalam video promosi terkait kebijakan imigrasi pemerintah Amerika Serikat. Video tersebut diunggah melalui akun TikTok resmi Gedung Putih dan menampilkan kompilasi aktivitas petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE).

Penggunaan lagu "Bye" sebagai musik latar langsung memicu reaksi keras dari Ariana Grande. Bintang film Wicked (2024) itu bahkan turun langsung ke kolom komentar untuk menyampaikan keberatannya terhadap unggahan yang dianggap bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang ia yakini.

1. Ariana Grande bilang "F*ck ICE" dalam komentarnya

Ariana Grande sebagai Glinda (dok. film Wicked/Universal Pictures)

Dari keterangan hingga isi unggahan, video tersebut mempromosikan kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump. "Selamat tinggal! Presiden Trump telah mewujudkan perbatasan paling aman dalam sejarah," demikian keterangan yang tertulis dalam unggahan tersebut.

Musik latar yang digunakan adalah lagu "Bye" milik Ariana Grande yang dirilis pada 2024 dalam album Eternal Sunshine. Penggunaan lagu tersebut rupanya membuat Grande geram. Penyanyi berusia 32 tahun itu kemudian meninggalkan komentar yang langsung menjadi sorotan publik.

"Tolong jangan pernah menggunakan musik saya terkait dengan omong kosong yang biadab, tidak manusiawi, dan keji ini. Persetan dengan ICE," tulis pemeran Glinda tersebut, dilansir Variety (11/6/2026).

Tak lama setelah komentar Ariana Grande viral di media sosial, video tersebut dibisukan, suara latarnya diganti, dan komentar sang penyanyi dikabarkan telah dihapus dari unggahan tersebut.

2. Pihak Gedung Putih angkat suara soal komentar Ariana Grande

Komentar Ariana Grande langsung mendapat respons dari pihak Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, membela penggunaan video tersebut dan menolak tudingan yang dilontarkan pelantun "We Can't Be Friends" itu.

"Yang benar-benar biadab, tidak manusiawi, dan keji adalah para imigran ilegal kriminal yang telah melukai dan membunuh warga negara Amerika yang tidak bersalah," ujar Jackson kepada media AS.

Video tersebut muncul setelah Donald Trump menandatangani undang-undang yang menyetujui pendanaan lebih dari 70 miliar dolar AS untuk lembaga imigrasi selama sisa masa jabatannya yang masih berlangsung sekitar 2,5 tahun. Kebijakan tersebut memang telah menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam pemerintahan Trump dan terus memicu perdebatan di tengah masyarakat Amerika Serikat.

3. Bukan pertama kali Gedung Putih memakai lagu Ariana Grande

Ariana Grande (dok. instagram.com/arianagrande)

Ini bukan pertama kalinya pemerintahan Trump menggunakan lagu-lagu populer untuk konten terkait kebijakan imigrasi. Pada Desember tahun lalu, Gedung Putih juga sempat mengunggah video serupa yang menggunakan lagu Sabrina Carpenter berjudul "Juno" dari album Short n' Sweet.

Merujuk pada lirik lagu tersebut, unggahan itu menggunakan keterangan berbunyi, "Pernahkah Anda mencoba yang ini? Selamat tinggal." Sabrina Carpenter saat itu juga mengecam penggunaan musiknya dalam konteks tersebut.

"Video ini jahat dan menjijikkan. Jangan pernah melibatkan saya atau musik saya untuk kepentingan agenda tidak manusiawi Anda," ujarnya.

Ariana Grande bukan satu-satunya musisi yang pernah menolak karya mereka digunakan dalam kegiatan politik Donald Trump. Sejumlah nama besar seperti ABBA, Celine Dion, dan Beyoncé juga pernah menyampaikan keberatan serupa selama masa kampanye pemilihan presiden AS 2024.

Editorial Team

Related Article