Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Artis Indonesia yang Dikritik karena Dianggap Tone Deaf

4 min read
4 Artis Indonesia yang Dikritik karena Dianggap Tone Deaf
potret Maia Estianty (instagram.com/maiaestiantyreal)
  • Maia Estianty dikritik setelah unggahan tentang rezeki dan kerja keras dinilai mengabaikan realitas pekerja yang tetap kesulitan memenuhi kebutuhan meski bekerja keras.

  • Video Maudy Ayunda mengenai mindfulness dan pembatasan berita buruk dianggap kurang peka terhadap masyarakat yang terdampak langsung krisis, bencana, tekanan ekonomi, serta kebijakan.

  • Maudy meminta maaf dan mengakui menjauh dari pemberitaan adalah privilese; artikel juga menyoroti kritik warganet terhadap figur publik yang dinilai kurang peka di ruang publik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akhir-akhir ini, istilah tone deaf tengah ramai digunakan warganet untuk mengkritik sikap figur publik yang dianggap kurang peka terhadap kondisi masyarakat saat ini. Sejumlah artis Indonesia pun pernah menjadi sorotan setelah pernyataan atau unggahan mereka memicu perdebatan di media sosial.

Mulai dari Maia Estianty, Maudy Ayunda, hingga Marissa Anita, nama-nama ini masuk dalam artis Indonesia yang dikritik karena dianggap tone deaf. Lantas, apa yang membuat mereka mendapat kritik tajam dari warganet? Berikut rangkumannya.

  1. 1. Maia Estianty

    Baru-baru ini, nama Maia Estianty menjadi sorotan warganet karena unggahannya di Threads. Melalui unggahannya pada 9 Oktober 2026, ia membahas soal rezeki dan kerja keras dengan mengibaratkan manusia seperti burung liar yang harus terbang mencari makan.

    Unggahan tersebut dianggap menekankan bahwa setiap orang perlu berusaha untuk mendapatkan rezeki. Namun, pernyataan tersebut menuai kritik karena sebagian warganet menilai kondisi ekonomi gak bisa dijelaskan hanya melalui kerja keras atau kemauan individu.

    Mereka menyoroti kenyataan bahwa ada orang yang sudah bekerja berjam-jam, bahkan menjalani lebih dari satu pekerjaan, tetapi penghasilannya tetap belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gak tanggung-tanggung, bahkan ada warganet yang menyeret pencapaian anak-anak Maia Estianty ke dalam perdebatan.

    Mereka menilai kesuksesan Al, El, dan Dul gak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarga serta akses terhadap berbagai fasilitas yang mereka miliki. Alhasil, sebagian warganet menganggap pernyataan Maia kurang peka terhadap perjuangan orang-orang yang harus menghadapi keterbatasan ekonomi.

  2. 2. Maudy Ayunda

    Artis Indonesia yang Dikritik karena Dianggap Tone Deaf
    Maudy Ayunda Living in the age of bad news (youtube.com/modmedia)

    Dikenal sebagai aktris dan penyanyi berbakat, Maudy Ayunda justru tersandung kontroversi setelah videonya tentang mindfulness menuai kritik dari warganet. Dalam video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah 21 Agustus 2026, Maudy membahas pentingnya menjaga kesehatan mental dan mengelola paparan informasi negatif.

    Namun, pembahasannya dianggap kurang peka terhadap kondisi Indonesia saat ini. Sebagian warganet menilai bahwa saran untuk membatasi paparan berita buruk bisa terdengar berbeda bagi orang-orang yang harus berhadapan langsung dengan berbagai kesulitan hidup.

    Apalagi, Indonesia tengah menghadapi beragam persoalan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, bencana alam, hingga tekanan ekonomi dan polemik kebijakan pemerintah. Bagi mereka, masalah-masalah tersebut bukan sekadar kabar buruk yang bisa dihindari karena dampaknya dirasakan secara langsung oleh sebagian masyarakat.

    Menanggapi kritik tersebut, Maudy akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf melalui kolom komentar video YouTube-nya pada 13 September 2026. Ia mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari pemberitaan merupakan sebuah privilese yang gak dimiliki semua orang, terutama mereka yang terdampak langsung oleh berbagai persoalan tersebut.

    Maudy juga menegaskan bahwa dirinya gak bermaksud mengajak orang untuk berhenti peduli atau mengabaikan realitas sosial. Menurutnya, mindfulness justru dapat membantu seseorang tetap memahami keadaan dan menjaga kepedulian tanpa merasa kewalahan oleh derasnya informasi. Begitu, ya, Guys!

  3. 3. Marissa Anita dan Pancatera

    Selanjutnya, ada Marissa Anita dan Pancatera yang disebut tone deaf karena kehadiran mereka dalam acara kenegaraan. Kontroversi ini bermula ketika mereka menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026.

    Setelah acara tersebut, foto mereka bersama Presiden Prabowo Subianto dan Didit Hediprasetyo beredar di media sosial. Kehadiran mereka kemudian memicu perdebatan. Sebagian warganet menilai foto itu bertentangan dengan citra kritis dan independen yang selama ini melekat pada In Her View.

    Alhasil, Marissa dan Pancatera dianggap kurang peka terhadap kritik publik terhadap pemerintah. Bagi sebagian warganet, figur publik yang kerap membahas isu sosial perlu menjelaskan sikap dan pilihan mereka agar gak menimbulkan kesan yang bertolak belakang dengan pesan yang selama ini disampaikan.

    Menanggapi polemik tersebut, pihak Pancatera menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf. Peristiwa ini pun memunculkan diskusi tentang batas antara menghadiri acara kenegaraan dan menunjukkan dukungan politik. Bagaimana menurutmu?

  4. 4. Hanum Mega

    Artis Indonesia yang Dikritik karena Dianggap Tone Deaf
    Bithday Party Hanum Mega dan Arthada (Instgram/@arthaadaa & Instagram/@real.hanummegaa

    Terakhir, ada selebgram Hanum Mega yang baru-baru ini menuai sorotan karena pesta ulang tahunnya. Acara perayaan ulang tahun ke-26 tersebut digelar pada 20 September 2026 di MOJA Museum, kawasan kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

    Pesta bertema Y2K Gyaru itu dihadiri sejumlah artis dan influencer, seperti Fuji, Rachel Vennya, Erika Carlina, dan Nathalie Holscher. Namun, apa yang membuat Hanum Mega dianggap tone deaf? Alasannya, sebagian warganet menilai perayaan tersebut kurang peka terhadap situasi ekonomi masyarakat saat ini.

    Salah satu warganet bahkan mempertanyakan mengapa sosoknya gak mendapat cancel dari masyarakat dan menyebutnya kurang sensitif terhadap kondisi ekonomi saat ini. Menanggapi kritik tersebut, Hanum Mega akhirnya buka suara.

    Ia menjelaskan bahwa acara tersebut melibatkan lebih dari 50 vendor yang bekerja untuk menyukseskan perayaan ulang tahunnya. Dengan penjelasan tersebut, Hanum ingin menunjukkan bahwa pestanya bukan hanya tentang perayaan pribadi, tetapi juga melibatkan para pekerja dan pelaku usaha.

    Pada akhirnya, kritik terhadap artis Indonesia yang dianggap tone deaf dapat menjadi pengingat pentingnya kepekaan terhadap kondisi sekitar, terutama saat menyampaikan pendapat di ruang publik. Namun, kamu juga perlu menyikapinya secara bijak agar gak sekadar ikut-ikutan menghakimi tanpa memahami konteksnya, ya.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More