Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Bacaan Wajib untuk Bikin Review Film yang Lebih Tajam

4 min read
5 Bacaan Wajib untuk Bikin Review Film yang Lebih Tajam
rekomendasi buku untuk penulis ulasan film (dok. Routledge/Reel to Real | dok. Penguin/Orientalism)
  • Lima buku nonfiksi direkomendasikan untuk memperkaya review film melalui kritik budaya yang melampaui teori film dan sampel ulasan.
  • The Devil Finds Work, Reel to Real, dan Orientalism membekali pembaca membaca representasi ras, kelas, gender, serta stereotip Barat terhadap Timur dalam film.
  • Masculinities dan Men, Women, and Chain Saws menawarkan kerangka membedah maskulinitas, relasi kuasa gender, eksploitasi perempuan, dan pola dalam film horor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tertarik bikin konten tentang film? Pasarnya memang bagus, sih. Namun, kamu perlu pembeda yang bikin ulasan dan kritikmu lebih tajam dan tentunya menarik. Selain menonton film dan tentunya membaca sampel review, kamu juga perlu membekali diri dengan bahan bacaan yang berdaging.

Gak terbatas di buku-buku tentang teori film, justru kamu bisa menemukan celah dan kekurangan film lewat buku-buku nonfiksi berikut, lho. Memakai pendekatan interseksional dan interdisipliner, kamu akan dilatih untuk jadi kritikus budaya yang gak standar. Siap upgrade diri? Gulir ke bawah untuk tahu 5 rekomendasi bukunya.

  1. 1. The Devil Finds Work (James Baldwin)

    The Devil Finds Work
    The Devil Finds Work karya James Baldwin (dok. Penguin Random House/The Devil Finds Work)

    The Devil Finds Work adalah esai panjang James Baldwin yang diterbitkannya pada 1976. Baldwin yang dikenal lewat prosa-prosa epiknya, kali ini akan mengajakmu melihat Hollywood dari sudut pandangnya sebagai seorang kulit hitam. Ia tak memungkiri kalau Hollywood mengisi masa kecilnya, tetapi ia juga tak mengingkari bahwa sedikit orang seperti dirinya yang bisa mengakses industri itu. Ia bahkan mengenal film gara-gara seorang guru berkulit putih. Dalam esai, ini Baldwin mencoba membedah film-film favoritnya dari kacamata rasial sembari mengajakmu jadi penonton yang lebih kritis.

  2. 2. Reel to Real: Race, Class and Sex at the Movies (Bell Hooks)

    Bell Hooks Reel to Real
    Reel to Real: Race, Class and Sex at the Movies karya Bell Hooks (dok. Routledge/Reel to Real)

    Kalau Baldwin baru menyinggung ras, Bell Hooks menggunakan prinsip interseksional saat mengkritik film-film Hollywood. Ia menyenggol bagaimana gender, kelas, dan ras saling berkelindan membentuk dinamika dalam film dan mirisnya, sering terlewat begitu saja oleh sineas. Hooks bahkan gak ragu mengkritik beberapa film yang mendapuk aktor kulit hitam sebagai protagonis utamanya, macam Waiting to Exhale (1996), She’s Gotta Have It (1986), Rising Sun (1993). Ketiganya dikupasnya dengan seksama, teliti, dan langsung pada intinya. Cocok buat kamu yang ingin menulis kritik lebih tajam dengan pendekatan interseksional.

  3. 3. Orientalism (Edward Said)

    Orientalism Edward Said
    Orientalism karya Edward Said (dok. Penguin/Orientalism)

    Kritikus film juga sering memakai konsep “orientalisme” yang diperkenalkan Edward Said untuk mengulik sebuah karya sinematik. Terma itu dipakainya untuk mendeskripsikan stereotip yang jadi pedoman orang Barat saat menggambarkan orang-orang di bagian Timur planet Bumi. Stigma dan prasangka itu bahkan makin didramatisasi ketika disertakan dalam proses pembuatan produk hiburan seperti film. Implikasinya bisa kita lihat dalam berbagai bentuk dan contoh. Diterbitkan pertama kali pada 1978, buku Orientalism gak kehilangan relevansinya sampai sekarang.

  4. 4. Masculinities (Raewyn W. Connell)

    Masculinities Raewyn Connell
    Masculinities karya Raewyn Connell (dok. Wiley/Masculinities)

    Dalam Masculinities, Raewyn W. Connell akan mengajakmu memikirkan ulang arti maskulinitas dan bagaimana mereka bisa berubah sesuai dinamika yang berkembang. Bersamaan dengan itu, Connell juga membahas beberapa terma menarik lain tentang maskulinitas seperti maskulinitas hegemonik, persengkokolan yang disadari dan tidak (complicit masculinities), subordinasi gender dan orientasi seksual selain pria cisgender heteroseksual, sampai marginalisasi yang hubungannya dengan ras dan kelas. Meski sama-sama pakai pendekatan interseksionalitas, Masculinities lebih kuat di teori ketimbang esai seperti bukunya Bell Hooks. Konsepnya Connell sering dipakai untuk membedah sebuah fenomena sosio-kultural, cocok juga buat film.

  5. 5. Men, Women, and Chain Saws: Gender in the Modern Horror Film (Carol J. Clover)

    Men, Women, and Chain Saws: Gender in the Modern Horror Film Carol J. Clover
    Men, Women, and Chain Saws: Gender in the Modern Horror Film karya Carol J. Clover (dok. Princeton University Press/Men, Women, and Chain Saws)

    Merasa ada yang salah dengan film-film horor? Coba deh baca bukunya Carol J. Clover yang secara spesifik membedah bagaimana peran dan stigma gender dibawa ke layar lebar lewat film-film horor. Ada kecenderungan yang bikin Clover gerah dalam film-film yang pakai trope “rape revenge”, “final girl”, “slasher”, dan “ocult”. Yakni, fakta bahwa perempuan selalu jadi korban dari kebengisan pelaku sadisme yang seringkali pria. Ada eksploitasi tubuh dan psikis perempuan di dalamnya yang lagi-lagi melanggengkan male gaze. Meski pakai studi kasus film-film Barat, kamu tetap bisa menarik benang merah dari kritik Clover untuk mengupas film-film horor lokal yang ternyata punya pola serupa.

    Siapa bilang kamu bisa berhenti belajar setelah keluar dari bangku pendidikan formal? Sebaliknya, untuk tetap relevan, jangan malas buat asah keterampilan dan menambah wawasanmu dengan baca sumber-sumber kredibel. Mau menulis review film yang beda, perluas referensi lewat beberapa buku tadi, yuk!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More