Still cut film Gowok: Kamasutra Jawa (Instagram.com/hanungbramantyo)
Lewat workshop tersebut, para pemain bisa menyampaikan batasan mereka, agar merasa nyaman ketika syuting. Bahkan, saat beradegan dewasa, para pemain memakai alat khusus, supaya bagian tubuh private mereka tidak langsung bersentuhan.
"Misalnya ada dua orang, Kamanjaya dan Ratri, ketika mereka beradegan dewasa itu diganjel, biar gak bersentuhan alat vitalnya. Itu kan ada aturannya," ujar director of photography dari film Gowok: Kamasutra Jawa (2025) ini.
Sebelum syuting di mulai, seberapa dalam adegan intimate yang akan diproduksi dan disajikan juga harus dijelaskan secara detail di dalam kontrak. Menurut Satrio, hal ini kontrak harus ada agar kru film juga bisa menyesuaikan seberapa jauh mereka bisa mengeksplor adegan intimate tersebut.
"Dan itu ada di kontrak, bahwa aku gak mau begini-begini. Oke, jadi kita juga gak seolah-olah mengeksploitasi mereka," lanjutnya.
Selain itu, para pemain juga berhak menggunakan body double dalam melakukan adegan intimate. Satria mengungkap, "Ada beberapa (pakai body double). Makanya itu ada ilusi, tipu muslihat. Itu kan tipuan lensa, tipuan kamera, tipuan gerak."
Maka dari itu, tugas director of photography adalah membuat penggunaan body double terlihat nyata dengan tipuan kamera. Mulai dari mengambil gambar sambil terhalang objek lain, disorot dari kejauhan, atau membuat lensanya sedikit blur.