Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Amethisya Puspitorini di balik layar film Agak Laen: Menyala Pantiku!
Amethisya Puspitorini di balik layar film Agak Laen: Menyala Pantiku! (dok. Pribadi/Amethisya Puspitorini)

Intinya sih...

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Apakah kamu sudah menonton Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025)? Penasaran gak sih sama sosok di balik wardrobe yang dipakai para karakter di dalam film arahan Muhadkly Acho tersebut?

Sudah terlibat sejak film pertamanya, Amethisya Puspitorini selalu menghadirkan konsep wardrobe yang menunjang kepribadian hingga penceritaan karakter sebagai costume designer. Berkarier sejak tahun 2015, ayo kenalan lebih dekat dengan Tisha lewat biodata dan profilnya di bawah ini!

1. Biodata Amethisya Puspitorini

Amethisya Puspitorini di balik layar film Agak Laen: Menyala Pantiku!

  • Nama lengkap: Amethisya Puspitorini

  • Tempat lahir: Jakarta

  • Tanggal lahir: 8 September 1992

  • Kewarganegaraan: Indonesia

  • Profesi: Costume Designer

  • Tahun aktif: 2015 sampai sekarang

  • Universitas: IKJ

  • Fakultas : Film dan Televisi

  • Jurusan : Tata Artistik

  • Instagram: @ametysh

2. Perjalanan karier dan filmografi Amethisya Puspitorini

Amethisya Puspitorini di balik layar film Agak Laen: Menyala Pantiku! (dok. Pribadi/Amethisya Puspitorini)

Amethisya Puspitorini dikenal sebagai costume designer dari beberapa film Indonesia arahan Imajinari, seperti Agak Laen (2024) dan Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025). Filmmaker yang akrab disapa Tisha ini mengawali karier sebagai wardrobe assistant di film Untuk Angeline (2016).

Namun, kamu tahu gak sih kalau Tisha dulunya kuliah jurusan Tata Artistik di IKJ. Sebelum terjun ke dunia film, ia sempat berkecimpung di dunia artistik, tapi hanya untuk photoshoot dan video clip.

"Beberapa kali shooting masih jadi art itu, capeknya itu parah ya pak, kayak capek banget. Terus pas di wardrobe enak nih, ih sempet mandi nih," ungkap Tisha melalui podcast Di Belakang Layar yang dibawakan oleh Dipa Andika dan Sulung Landung.

Tisha mengawali karier sebagai chief wardrobe lewat film Star Sindrome (2023) dan ditawari secara langsung oleh Soleh Solihun. Sepak terjangnya tidak perlu diragukan lagi, karena pernah terlibat dalam film bergenre horor, komedi, romantis, hingga drama, berikut daftar filmografi Tisha!

  • Untuk Angeline (2016) sebagai wardrobe assistant

  • Nini Thowok (2018) sebagai wardrobe assistant

  • Dimsum Martabak (2018) sebagai wardrobe assistant

  • Belok Kanan Barcelona (2018) sebagai wardrobe assistant

  • PSP: Gaya Mahasiswa (2019) sebagai wardrobe team

  • Mantan Manten (2019) sebagai wardrobe team

  • Ghost Writer (2019) sebagai wardrobe assistant

  • Love for Sale 2 (2019) sebagai wardrobe team

  • Ratu Ilmu Hitam (2019) sebagai wardrobe assistant

  • Si Manis Jembatan Ancol (2019) sebagai wardrobe assistant

  • Story of Kale: When Someone’s in Love (2020) sebagai wardrobe team

  • Generasi 90an: Melankolia (2020) sebagai wardrobe team

  • Story of Dinda: The Second Chance of Happiness (2021) sebagai wardrobe team

  • Ben & Jody (2022) sebagai wardrobe team

  • Baby Blues (2022) sebagai wardrobe team

  • Ivanna (2022) sebagai wardrobe assistant

  • Star Syndrome (2023) sebagai costume designer

  • Mohon Doa Restu (2023) sebagai wardrobe assistant

  • Agak Laen (2024) sebagai costume designer

  • Do You See What I See (2024) sebagai wardrobe team

  • Kaka Boss (2024) sebagai costum designer

  • Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024) sebagai costume designer

  • Komang (2025) sebagai wardrobe team

  • Pernikahan Arwah (2025) sebagai costum designer

  • Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025) sebagai costume designer

3. Fakta unik Amethisya Puspitorini

Amethisya Puspitorini di balik layar film Agak Laen: Menyala Pantiku! (dok. Pribadi/Amethisya Puspitorini)

Lewat wawancara eksklusif bersama IDN Times, Tisha spill beberapa fakta menarik soal profesinya. Mulai dari workflow sebagai costume designer hingga kesulitan yang dihadapi tim wardrobe saat memproduksi film.

  • Amethisya Puspitorini pernah terlibat di berbagai genre film, mulai dari horor, komedi, drama hingga romansa. Dalam menentukan wardrobe, setiap genre punya kesulitan dan effort-nya masing-masing. “Sebenarnya semua genre itu pasti punya kendala masing-masing ya, punya kesulitannya masing-masing. Jadi sebenarnya semua itu dikerjakan dengan effort yang berbeda-beda.” ungkap Tisha.

  • Tisha juga berbagi workflow saat bekerja di sebuah film, khususnya pada tahap pra produksi. Ia berkata, “Biasanya sebelum mulai itu kan aku lihat script. Terus dari script itu nanti aku baca. Dari situ nanti, kami meeting dengan director, namanya director brief. Dari situ pas director brief, nanti aku akan dikasih tahu bagaimana konsep semuanya, background karakternya, konsep make up-nya, konsep wardrobe-nya, dan konsep warnanya. Dari situ baru aku bisa menggambarkan referensi wardrobe-nya.”

  • Workflow di atas membutuhkan waktu kurang lebih seminggu hingga dua minggu sampai Tisha menentukan look book. “Paling bisa seminggu sampai dua minggu untuk membuat look book. Tergantung karakternya berapa banyak, tergantung karakternya seberapa sulit untuk dikulik.” jelasnya.

  • Sebagai tim wardrobe atau costume designer, Tisha mengalami beragam kesulitan, khususnya soal timeline yang terlalu mepet. “Ada yang timeline-nya terlalu mepet. Waktu persiapannya terlalu pendek gitu dan filmnya lumayan heboh, lumayan grande, tapi persiapannya kayak cuma sebulan. Itu sih kendala yang paling besar menurut aku dan tim.” ungkapnya.

  • Selain itu, ketiadaan stok barang yang dibutuhkan juga menjadi kendala lainnya. Ia berkata, “Barang yang kami inginkan, baju yang harus kami siapkan, harus di-pack kayak harus dua atau tiga, sampai delapan. Sedangkan biasanya kami itu beli satu dulu untuk checking, apakah approve atau tidak. Kalau sudah di-approve, sudah kami tentukan untuk scene yang lumayan panjang, kami harus siapkan duplikatnya sampai delapan mungkin. Nah, itu tiba-tiba barangnya gak ada. Itu bisa harus cari sampai ke toko-toko di seluruh Indonesia. Kita telepon, cari di website, cari di Instagram.”

  • Seandainya barang itu tidak ditemukan, tim wardrobe terpaksa membuat copy-nya. “Kalau sama sekali gak ada, kami akhirnya harus membuat copy-nya. Kami harus mencari bahan yang mirip dan kami harus bikin barang tersebut dari nol, biar tidak mirip gitu. Maksudnya biar tidak memakai barang tersebut, akhirnya kami bikin delapan, tapi dengan bahan yang kami beli.” ceritanya.

  • Tisha menjelaskan, bahwa tim wardrobe atau costume designer bekerja sama dengan desainer atau brand tertentu itu sangat memungkinkan. Ia berkata, “Sebenarnya kalau untuk kerja sama memungkinkan sekali, tapi kebetulan aku belum pernah dapat proyek yang harus dikerjasamakan dengan desainer.”

  • Nah, kapan sih seorang costume designer dalam produksi film membutuhkan kerjasama dengan sponsor? Ini kata Tisha, “Tapi itu mungkin tergantung bagaimana ceritanya, tergantung kebutuhan wardrobe-nya. Misalnya filmnya berhubungan dengan fashion atau kelas-kelas tertentu atau model-model baju tematik yang memang dibutuhkan sesuai cerita. Itu pasti akan dicari di desainer gitu atau sponsor.”

  • Seandainya ada kerja sama dengan sponsor, tapi kostum yang dipinjam mengalami kerusakan, ternyata ada cara-cara tertentu untuk menanggulanginya. “Sebelum peminjaman itu ada yang namanya deposit. Jadi sejauh ini sih, aku pinjam ke desainer belum pernah, tapi aku kalau pinjam ke beberapa sponsor, yang jatuhnya sponsor brand, aku beberapa kali melakukan itu.” ujarnya.

  • Namun, perjanjian deposit dengan brand juga beragam, ada yang hanya membayar sewa atau perlu bentuk kerjasama lain. Tisha melanjutkan, “Biasanya kami ada deposit, tergantung perjanjian, misalnya hanya sewa kah atau tidak perlu sewa, tapi dengan timbal balik kayak unggahan atau foto behind the scene.”

  • Seandainya barang yang dipinjam rusak, resikonya uang deposit tidak kembali. “Jadi kalau misalnya baju rusak atau baju kenapa-kenapa, depositnya tidak akan kembali ke kami gitu. Tapi kalau bajunya aman, ya depositnya akan kembali seperti semula.” tutur Tisha melalui interview virtual pada 10 Desember 2025 lalu.

Apakah setelah mendengar kisah Tisha, kamu jadi tertarik untuk bekerja di dunia film sebagai tim wardrobe? Selain Agak Laen, kami bisa intip karya-karya Tisha lainnya, ya! Selamat menonton!

Editorial Team