Bos DC Ungkap Alasan Manga Jepang Lebih Sukses Ketimbang Komik AS

- Manga memiliki cakupan cerita dan genre yang sangat luas, tidak hanya superhero seperti komik AS.
- Di AS, komik banyak dipandang sebagai bacaan untuk anak-anak, berbeda dengan Jepang yang memiliki banyak pilihan manga untuk orang dewasa.
- DC Comics sukses puncaki penjualan karena mengikuti formula eksplorasi cerita dari manga, dengan menonjolkan genre horor, sci-fi, hingga slice of life dalam cerita mereka.
Tak bisa dipungkiri, manga tidak hanya mencetak kesuksesan di Jepang tapi juga secara global. Beberapa manga dengan judul besar seperti Dragon Ball Z, One Piece, dan Naruto misalnya, telah diterbitkan dan diterjemahkan di lebih dari 40 negara dunia.
Amerika Serikat juga punya industri komik yang besar. Kamu bisa menonton film-film superhero favorit di layar lebar saat ini juga tak lepas dari pengaruh komik, yang pertama kali menciptakan sosok seperti Superman, Batman, Iron Man, hingga Spider-Man.
Meski begitu, kesuksesan komik Amerika Serikat masih kalah jauh lho dibandingkan manga Jepang. Kok bisa, ya?
Table of Content
1. Cakupan cerita manga lebih luas, gak melulu superhero kayak komik AS

Baru-baru ini, bos DC Comics, Jim Lee, dalam sebuah wawancara dengan NikkeiXTrend, membahas alasan kenapa komik AS belum bisa menyamai kesuksesan manga Jepang. Menurutnya, salah satu faktor utamanya adalah genre dan cakupan cerita. Manga memiliki cakupan cerita dan genre yang sangat luas.
Manga memiliki kategori andalan misalnya shonen yang lekat dengan action dan adventure seperti Naruto, One Piece, hingga Attack On Titan. Juga kategori shojo yang biasanya mengusung genre drama, romance, hingga persahabatan layaknya Fruits Basket hingga Your Lie in April. Ada juga genre ringan yang diangkat seperti slice of life dan komedi, misalnya Doraemon dan Crayon Shinchan. Ataupun genre sports dan sci-fi yang kesemuanya punya judul-judul yang sangat populer.
Berbeda dengan di Amerika Serikat yang menurut Lee, produksi komik masih berkutat di genre superhero saja, setidaknya itu yang paling terkenal. Sehingga, cakupan audiensnya pun tidak begitu luas. Khalayak yang tidak menyukai dunia superhero mungkin akan jarang membaca komik, karena tidak memiliki variasi genre dan kategori lain yang menonjol dan populer.
"Di Jepang, manga lebih dekat dengan ‘sastra’, siapa pun bisa membacanya, dan ceritanya tidak hanya tentang pahlawan. Ragam genrenya jauh lebih luas, seperti cerita tentang memasak atau sepak bola," kata Jim Lee, seperti dikutip dari ComicBook pada Selasa (27/1/2026).
2. Di AS, komik banyak dipandang sebagai bacaan untuk anak-anak

Perbedaan lain yang diungkap bos DC Comics adalah soal cara pandang masyarakat Jepang dan As yang berbeda. Di AS, banyak orang yang menganggap bahwa komik dan animasi adalah media atau tontonan yang diperuntukkan anak-anak. Oleh karena eksplorasi genre manga Jepang yang sangat luas, maka Jepang memiliki banyak pilihan manga untuk orang dewasa.
Manga dan anime juga sudah menjadi identitas dan budaya masyarakat dan negara Jepang. Manga bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga dinilai sebagai budaya pop yang memunculkan tren bukan hanya digemari oleh orang lokal, tapi juga banyak orang di mancanegara.
3. DC Comics sukses puncaki penjualan karena mengikuti formula manga

Saat ini, DC Comics merupakan penerbit yang memuncaki penjualan komik superhero di Amerika Serikat. Ini adalah pertama kalinya setelah beberapa tahun hanya menjadi buntut dari pesaing mereka, Marvel Comics.
Jim Lee membongkar kunci kenapa komik-komik DC bisa menjadi yang terlaris di pasar AS, salah satunya adalah karena mengikuti formula eksplorasi cerita dari manga. Dalam beberapa waktu terakhir, DC mulai banyak melakukan perkembangan cerita di dunia komik superhero. Mereka mulai banyak menonjolkan genre horor, sci-fi, bahkan hingga slice of life dalam cerita mereka. Meskipun masih menggunakan karakter-karakter hero populer, namun ceritanya dikemas fresh tidak seperti cerita superhero-superhero pada umumnya.
Kalau di Indonesia, manga tentu saja lebih populer karena aksesibilitasnya yang mudah ditemui di toko buku terdekat. Tidak seperti komik superhero AS yang tidak mudah ditemukan, atau bahkan jarang yang memiliki versi terjemahan bahasa Indonesia.

















