Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Buka FFI 2026, Fadli Zon: Film adalah Blencong di Era Modern

Buka FFI 2026, Fadli Zon: Film adalah Blencong di Era Modern
Fadli Zon saat konferensi pers "FFI 2026" di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (18/6/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Intinya Sih
  • FFI 2026 resmi dibuka dengan tema 'Askala Karya Sinema Indonesia', menyoroti film sebagai cahaya yang merekam perjalanan bangsa dan menyatukan generasi melalui kisah sinema.
  • Fadli Zon bangga atas dominasi film lokal di pasar domestik, mencatat 67% penonton kini lebih memilih karya sineas Indonesia dibandingkan film asing.
  • Kementerian Kebudayaan mendorong sineas Indonesia tampil di festival internasional seperti Cannes dan Busan, guna memperluas jangkauan serta memperkuat posisi perfilman nasional di dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Festival Film Indonesia (FFI) kembali hadir tahun ini dengan mengusung tema besar "Askala Karya Sinema Indonesia." Berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sinar atau cahaya, Askala merepresentasikan sinema sebagai medium yang menerangi kehidupan sekaligus menjadi ruang lahirnya berbagai cerita lintas generasi.

Tema tersebut mendapat dukungan penuh dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Dalam konferensi pers yang digelar di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (18/6/2026), ia menilai film memiliki peran penting sebagai "cahaya" yang membantu masyarakat Indonesia memahami perjalanan bangsa di masa lalu, masa kini, dan juga masa depan.

1. Fadli Zon sebut sinema sebagai "cahaya" bagi peradaban

Fadli Zon sebut sinema sebagai cahaya bagi peradaban.JPG
Fadli Zon saat konferensi pers "FFI 2026" di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (18/6/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Dalam pidato pembuka, Fadli Zon menjelaskan bahwa tema Askala dipilih karena memiliki makna yang sangat dekat dengan esensi sinema. Menurutnya, film bukan sekadar hiburan, melainkan medium yang mampu merekam dan meneruskan perjalanan sebuah bangsa.

"Hari ini kita berkumpul untuk menandai dimulainya FFI 2026, momentum yang menjadi ruang bersama merayakan daya hidup sinema Indonesia dalam merekam, merawat, dan meneruskan kehidupan bangsa. Dan melalui film, kita menemukan cara memahami masa lalu, merefleksikan masa kini, dan juga membayangkan masa depan," kata Fadli.

Ia kemudian mengaitkan perkembangan sinema modern dengan tradisi budaya Nusantara yang telah lebih dulu mengenal konsep cahaya sebagai medium bercerita. Menurutnya, makna cahaya dalam sinema jauh lebih luas dibanding sekadar unsur teknis dalam proses produksi film.

"Sebelum sebuah cerita diproyeksikan kepada publik, telah ada cahaya yang memungkinkan manusia mendengar, membayangkan, dan mengingat. Dengan tema besar FFI tahun ini, 'Askala Karya Sinema Indonesia' memiliki makna yang mendalam. Cahaya bukan sekedar usul teknis di dalam sinematografi, tapi cahaya merupakan simbol pengetahuan, harapan, ingatan. Selaras dengan tema besar FFI 2026," tambahnya.

Fadli lalu menyamakan peran film masa kini dengan blencong atau lampu minyak yang digunakan dalam pertunjukan wayang.

"Dalam tradisi wayang, kita kenal sebuah sumber cahaya yang disebut glencong (lampu minyak). Di abad ke-21, penyala glencong itu bertransformasi menjadi lensa kamera modern yang menangkap realita sosial di Indonesia," tegasnya.

2. Bangga sinema Indonesia yang berhasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri

Bangga sinema Indonesia yang berhasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri.JPG
Fadli Zon saat konferensi pers "FFI 2026" di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (18/6/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Selain membahas tema FFI 2026, Fadli juga menyoroti perkembangan industri perfilman Indonesia yang dinilainya semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir. Ia merasa bangga karena film-film lokal kini mampu mendominasi pasar domestik.

"Tentu kami sangat senang sekali, di Kementerian Kebudayaan, bahwa perfilman Indonesia dari waktu ke waktu semakin menjadi tuan rumah di negeri sendiri," katanya.

Menurutnya, kondisi ini berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu ketika film asing mendominasi layar bioskop nasional. Kini, masyarakat Indonesia justru semakin antusias menyaksikan karya sineas dalam negeri.

"Ini yang paling penting ya, karena selama bertahun-tahun kita tidak pernah menjadi tuan rumah di Indonesia sendiri. Sekarang orang Indonesia lebih suka nonton film Indonesia. Market share-nya kalau tidak salah 67%," ucap Fadli.

Ia menilai capaian tersebut menjadi kabar baik bagi ekosistem perfilman nasional karena sinema dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai generasi dan perspektif.

"Ini merupakan satu berita gembira bagi kita. Jadi gak apa-apalah, ga usah terlalu banyak nonton film asing, tapi film Indonesia dikonton oleh 67% rakyat Indonesia," lanjutnya.

3. Dorong film-film Indonesia agar lebih mendunia

Dorong film-film Indonesia agar lebih mendunia.JPG
Fadli Zon saat konferensi pers "FFI 2026" di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (18/6/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Tak hanya fokus pada pasar domestik, Fadli juga mendorong agar film Indonesia semakin aktif tampil di panggung internasional. Menurutnya, Kementerian Kebudayaan akan terus mendukung para sineas untuk berpartisipasi dalam berbagai festival film dunia.

"Dalam konteks film, film-film kita ini semakin visible, semakin terlihat di dunia internasional. Karena itulah Kementerian Kebudayaan mendukung para insan perfilman Indonesia untuk hadir berpartisipasi aktif, berkompetisi di dalam berbagai festival-festival internasional. Mulai dari Festival Film Rotterdam, Clermont-Ferrand, Cannes, Hong Kong Market, kemudian Shanghai Film Festival, lalu Busan Film Festival," ucap Fadli.

Ia optimis prospek perfilman Indonesia ke depan masih sangat cerah. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah film berhasil mencetak rekor penonton yang menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap karya lokal.

"Apalagi setidaknya dari tahun lalu ada dua kali record breaking. Ada Jumbo sampai 10 juta, ada Agak Laen (Menyala Pantiku!) yang sampai 11 juta. Itu kan luar biasa," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria

Related Articles

See More