Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Buku Berlatar Hindia Belanda Tulisan Perempuan, POV yang Langka
Lebih Putih Dariku dan Rubber (dok. Marjin Kiri/Lebih Putih Dariku | dok. Salamander/Rubber)
  • Artikel menyoroti lima buku berlatar Hindia Belanda yang ditulis oleh perempuan, menawarkan sudut pandang berbeda tentang agensi dan peran perempuan di masa kolonial.
  • Masing-masing karya menampilkan kisah unik, mulai dari perjuangan sosial Piranti di ‘Lebih Putih Dariku’ hingga kritik kolonial dalam ‘Rubber’ dan idealisme pendidikan di ‘Manusia Bebas’.
  • Buku-buku seperti ‘Sejarah Organisasi Perempuan Indonesia’ dan ‘The Ten Thousand Things’ memperlihatkan kontribusi serta identitas perempuan dalam konteks sejarah, budaya, dan politik era kolonial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu menemukan satu buku yang rasanya amat mengganggu? Terutama kalau genrenya sejarah dan latarnya Hindia Belanda (Indonesia era kolonial), rasanya tokoh perempuan di sana selalu jadi objek belaka. Tak punya agensi dan kerap mendapat perlakuan tak adil. Parahnya, penulis kadang mendeskripsikan tragedi yang menimpa perempuan dengan cukup detail sampai bikin kamu tak sanggup membacanya.

Sebagai alternatif, coba baca buku berlatar Hindia Belanda yang ditulis oleh perempuan. Ketimbang fokus mendeskripsikan kejadian dan perlakuan tak menyenangkan itu, mereka lebih banyak membahas agensi sang tokoh perempuan. Ini bikin tulisan terasa lebih hidup dan mengena, menonjolkan fakta bahwa perempuan juga subjek, bukan sekadar objek. Ini buku berlatar Hindia Belanda tulisan perempuan yang dimaksud.

1. Lebih Putih Dariku (Dido Michelsen)

Lebih Putih Dariku karya Dido Michielsen (dok. Marjin Kiri/Lebih Putih Dariku)

Lebih Putih Dariku adalah cerita Piranti, perempuan Jawa dari kelas bawah yang besar di lingkungan Keraton dan dipaksa menerima takdir sebagai abdi untuk kalangan atas. Satu hari, untuk menghindari perjodohan dengan lelaki yang usianya jauh lebih tua darinya, Piranti memilih jalan pintas lain.

Piranti berhasil menyakinkan seorang tentara Belanda untuk menjadikannya Nyai. Namun, bukannya mendapat kebebasan yang ia damba, Piranti yang kini berganti nama menjadi Isah justru ditampar oleh hierarki lain berbasis ras yang tak kalah bengis dan membelenggu.

2. Rubber (M.H. Székely-Lulofs)

Rubber karya M.H. Székely-Lulofs (dok. Salamander Pockets/Rubber)

Buku ini sering disandingkan dengan novel berlatar Hindia Belanda legendaris, Max Havelaar. Bedanya, ia ditulis oleh perempuan dan mengambil latar sebuah perkebunan karet di Sumatra.

Seperti Max Havelaar, buku Rubber juga bergenre satir dan mencoba menyindir kebijakan semena-mena kolonial Belanda terhadap warga lokal. Lewat POV seseorang yang menjadi bagian dari penjajah, ia menyorot gaji imut yang mau tak mau harus diterima para pekerja lokal. Székely-Lulofs terinspirasi oleh pengalaman personalnya sendiri ketika menulis novel tersebut.

3. Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspito)

Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito (dok. Penerbit Djambatan/Manusia Bebas)

Manusia Bebas adalah petualangan pasutri idealis bernama Sulastri dan Sudarmo. Punya bekal pendidikan, mereka berusaha menyebarluaskannya lewat jalan yang tak konvensional. Mereka menolak masuk ke dalam sistem kolonial dan memutuskan untuk membangun “sekolah liar” untuk anak-anak yang tak punya akses ke pendidikan formal.

Manusia Bebas juga menyenggol berbagai isu yang banyak dialami perempuan pada masa itu. Tak ada plot jelas dalam novel ini, tetapi gaya bahasanya menyegarkan serta mengalir. Bikin kita sadar betapa kayanya dan indahnya sastra Indonesia lawas.

4. Sejarah Organisasi Perempuan Indonesia (Mutiah Amini)

Sejarah Organisasi Perempuan Indonesia karya Mutiah Amini (dok. UGM Press/Sejarah Organisasi Perempuan Indonesia)

Buku ini membedah awal mula dan perkembangan organisasi perempuan di Indonesia. Dimulai dengan terciptanya kelas baru di perkotaan yang lahir karena pendidikan, dilanjutkan dengan institusionalisasi kepentingan perempuan lewat organisasi-organisasi resmi.

Tak semua lancar. Selama peralihan kekuasaan dan Orde Baru, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan dan absennya dukungan. Buku ini bakal membuatmu mengapresiasi peran perempuan dalam berbagai sektor di tengah dominasi dan kecenderungan penokohan laki-laki.

5. The Ten Thousand Things (Maria Dermout)

The Ten Thousand Things karya Maria Dermout (dok. NYRB/The Ten Thousand Things)

The Ten Thousand Things adalah perjalanan Felicia, perempuan yang leluhurnya berasal dari Maluku. Ia pindah ke Eropa bersama sang ibu dan akhirnya memutuskan kembali ke Maluku pada usia dewasa. Felicia sudah punya anak dan saat itu pengaruh Belanda di Indonesia mulai runtuh.

Buku ini punya struktur unik dengan karakter yang kaya dan berlapis. Buku ini menariknya lebih fokus pada keunikan budaya dan warisan leluhur yang berpadu dengan kompleksnya konstelasi politik saat itu.

Buku berlatar Hindia Belanda memang beragam, tetapi harus diakui, mencari yang ditulis oleh perempuan bukan perkara mudah. Kalau tertarik mendalami perspektif perempuan selama era kolonial, silakan lirik salah satu buku di atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article