5 Buku Nonfiksi Karya Perempuan yang Jelaskan Kondisi Dunia

- Lima buku nonfiksi karya perempuan menawarkan perspektif tajam tentang isu global, mulai dari kekuasaan, kapitalisme, hingga feminisme yang saling berkaitan dengan kondisi sosial dan politik dunia.
- Hannah Arendt, Naomi Klein, Ellen Meiksins Wood, Nancy Fraser, dan Grace Blakeley mengupas hubungan antara kekuasaan, ekonomi, serta ketimpangan sosial melalui riset dan analisis kritis mereka.
- Artikel menyoroti pentingnya membaca karya intelektual perempuan untuk memahami kompleksitas dunia modern secara lebih interseksional dan menyeluruh dibandingkan narasi dominan penulis laki-laki.
Heran dengan kondisi dunia yang makin carut-marut? Mencoba tanya AI atau internet, tetapi jawabannya gak memuaskan? Ini saatnya kamu kembali ke sumber lain yang infonya lebih utuh, seperti buku. Tidak perlu yang tebal dan lawas, beberapa buku nonfiksi kontemporer karya perempuan berikut bisa jadi jawabannya.
Begitu relevan dan kerangka berpikirnya interseksional, mereka bisa bikin kamu makin melek dan mengerti betapa kompleksnya sebuah isu. Dari ekonomi sampai politik dan keamanan, semuanya bakal terbaca jelas lewat penjelasan dan argumen mereka. Mari bahas satu per satu daftar buku nonfiksi karya perempuan yang jelaskan kondisi dunia berikut ini.
1. On Violence (Hannah Arendt)

On Violence adalah refleksi Hannah Arendt tentang kekuasaan (power) dan kekerasan (violence). Kedua kata ini sering disebut bersamaan dan dianggap berkaitan erat oleh banyak ilmuwan pria di masa lalu. Namun, setelah melakukan riset dan renungan sendiri, Arendt berargumen kalau keduanya adalah hal terpisah yang bisa jadi saling berlawanan.
Kekuasaan datang dari dukungan banyak pihak, sementara kekerasan adalah instrumen dan aksi yang bisa dipakai untuk mencapai kepentingan tertentu, termasuk merebut kekuasaan. Namun, kekerasan tidak bisa selamanya mempertahankan kekuasaan tersebut. Argumen Arendt bisa kamu pakai untuk menjelaskan banyak fenomena politik yang terjadi di dunia.
2. This Changes Everything: Capitalism vs. The Climate (Naomi Klein)

This Changes Everything adalah buku yang ditulis Naomi Klein soal krisis iklim dan kaitannya dengan kapitalisme. Menurutnya, kapitalisme dan sistem ekonomi global secara umum tidak pernah benar-benar berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Krisis iklim menurutnya juga amat dekat dengan isu sehari-hari, termasuk di antaranya memperparah ketimpangan. Hal ini mungkin beberapa tahun lalu terlihat terlalu jauh dari realitas, tetapi kini makin terang benderang interkoneksinya. Kamu bakal belajar banyak istilah menarik dan penting di buku ini, seperti korporatisasi dan neoliberalisme.
3. The Origin of Capitalism (Ellen Meiksins Wood)

Terbit perdana pada 1999, The Origin of Capitalism karya Wood memang menembus zaman. Buku setebal 200-an halaman ini berisi hasil riset sang penulis soal awal mula bagaimana kapitalisme bisa tercipta. Menurutnya, sistem itu tidak lahir secara alamiah dan tak bisa dihindari seperti yang selama ini dipercaya banyak orang dan diagungkan para ilmuwan. Sebaliknya, ada proses akumulasi kekayaan dan penerapan level produktivitas yang disengaja.
4. Fortunes of Feminism: From State-Managed Capitalism to Neoliberal Crisis (Nancy Fraser)

Gemas dengan perang gender yang makin gencar saat ini? Buku Fortunes of Feminism karya Nancy Fraser bisa menjelaskan asal mulanya. Dalam buku tersebut, Fraser menjelaskan kaitan antara kapitalisme dan patriarki lewat istilah-istilah menarik macam androcentrism (menggunakan perspektif laki-laki sebagai pusat peradaban, budaya, sejarah, ekonomi, dan lain sebagainya).
Fraser juga mengkritik gerakan feminis sendiri yang kadang terbatas pada representasi dan identitas, padahal partisipasi adalah aspek yang tak kalah penting. Namun, di sisi lain, ia juga menyoroti bagaimana partisipasi itu justru membuat kita terjebak menjadi penyokong ideologi kapitalis neoliberal yang destruktif.
5. Vulture Capitalism (Grace Blakeley)

Katanya menjanjikan kebebasan dan kesetaraan peluang, kapitalisme yang kita rasakan sekarang justru mengantar kita ke dalam jurang yang berlainan dengan janji-janji tadi. Biaya hidup makin tinggi, ketimpangan makin nyata, dan kita sebenarnya gak bebas-bebas amat seperti yang selama ini kita percaya.
Sebaliknya, kekuasaan dan kekayaan makin terpusat di tangan orang-orang tertentu. Politisi, oligarki, tech-bro, dan pebisnis ultrakaya lainnya. Ini adalah pengamatan menarik dan bikin melek yang, mirisnya, dekat dengan hidup kita sehari-hari.
Kalau kamu merasa jenuh dengan buku nonfiksi karya penulis laki-laki yang masih berkutat pada produktivitas (kebanyakan melupakan tugas domestik), ini saatnya melirik kelima buku di atas. Mereka membuktikan kalau ilmuwan perempuan punya perspektif dan alat analisis yang tajam dan komprehensif.