pemain film Seni Merayu Tuhan di kantor IDN, Jumat (23/7/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Setelah membaca bukunya, Rieke menjelaskan, karya Habib Ja’far tersebut mengajak pembaca untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan tanpa terjebak pada ritual keagamaan yang kaku. Menurutnya, buku Seni Merayu Tuhan juga membawa sudut pandang baru mengenai relasi dengan Tuhan tanpa mengesampingkan hubungan dengan sesama manusia.
“Jadi inti sari dari buku itu adalah bagaimana merayu Tuhan itu tidak dengan ritual keagamaan yang kaku. Dia menggunakan bahasa yang indah, ada definisi baru tentang cinta, definisi baru tentang bagaimana memaknai relasimu dengan Tuhan itu bukan berarti kamu kemudian melupakan relasimu dengan sesama,” lanjutnya.
Karena buku karya Habib Ja’far tersebut tidak memiliki tokoh maupun alur cerita layaknya novel, Rieke pun menilai proses adaptasi Seni Merayu Tuhan ke layar lebar bukanlah hal yang mudah. Kendati demikian, ia menilai para kreator berhasil menerjemahkan pesan utama buku ke dalam sebuah cerita fiksi.
Rieke yang juga aktif sebagai anggota DPR-RI pun mengapresiasi penulis skenario Salman Aristo yang dinilainya mampu mengembangkan gagasan dalam buku menjadi cerita dengan karakter yang hidup tanpa menghilangkan esensi karya aslinya.
“Yang perlu diapresiasi, selain Habib Ja'far dengan karyanya, adalah penulis skenario Mas Salman. Bagaimana Mas Salman mengadaptasi pesan-pesan inti dari buku ini menjadi suatu karya fiksi dengan karakter yang hidup.”
Tak hanya itu, Rieke juga memberikan apresiasi kepada sutradara Cesa David Luckmansyah. Menurutnya, Cesa berhasil menerjemahkan naskah ke dalam bahasa visual, termasuk melalui penggunaan film analog untuk membedakan adegan mimpi dengan realitas. Ia juga menilai latar belakang Cesa sebagai editor membuat proses produksi menjadi lebih matang karena kebutuhan gambar sudah diperhitungkan sejak proses syuting berlangsung.