Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Hanung Bramantyo Diam-diam Nonton Film G30S/PKI saat Kecil
Hanung Bramantyo setelah press screening film "Lobang Buaya" di ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (25/9/26) (dok. Istimewa/Goodwork)
  • Hanung Bramantyo mengenang diam-diam menonton Pengkhianatan G30S/PKI saat kecil, meski dilarang orang tua karena adegan kekerasannya membuat film tersebut terasa seperti horor.

  • Pengalaman itu mendorong Hanung menggarap Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah, film horor fiksi berlatar 1964 yang bukan remake Pengkhianatan G30S/PKI.

  • Hanung berharap Lobang Buaya mengajak generasi muda membicarakan sejarah dan mengingat peristiwa 1965; film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 1 Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bagi sebagian orang yang tumbuh pada era Orde Baru, film Pengkhianatan G30S/PKI (1984) mungkin menjadi tontonan yang identik dengan akhir September. Namun bagi Hanung Bramantyo, kenangan terhadap film tersebut terasa lebih personal karena penayangannya selalu berdekatan dengan hari ulang tahunnya.

Pengalaman masa kecil itu kemudian turut memengaruhi cara Hanung memandang hubungan antara film, sejarah, dan rasa takut. Kini, ia menuangkannya lewat Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah, film horor berlatar Indonesia pada 1960-an yang akan tayang pada 1 Oktober 2026.

1. Hanung kenang curi-curi nonton film G30S/PKI saat kecil

Hanung Bramantyo setelah press screening film "Lobang Buaya" di ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (25/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Hanung mengenang masa kecilnya ketika film Pengkhianatan G30S/PKI menjadi tayangan rutin menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Film karya Arifin C. Noer tersebut pertama kali dirilis pada 1984 dan kemudian ditayangkan secara rutin di televisi hingga era Reformasi. Setelah Reformasi, kewajiban penayangan tersebut dihentikan.

"Saya sebagai filmmaker dan juga sebagai bangsa Indonesia yang lahir 10 tahun setelah peristiwa 1965, yaitu 1 Oktober 1975. Saya hidup dalam sebuah rezim di mana setiap malam ulang tahun saya selalu ada film horor, yaitu Pengkhianatan G30S/PKI," ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2026).

Hanung bahkan menyebut film tersebut sebagai film horor dalam kenangan masa kecilnya. Saat itu, orang tuanya sempat melarang Hanung menonton karena khawatir dengan adegan kekerasan yang ditampilkan.

"Kenapa saya sebut horor pada saat itu? Karena pada saat ditayangkan di televisi itu jam 7 sampai jam 11 semua televisi di Indonesia tidak boleh menayangkan selain film itu. Dan pada saat saya menonton, ibu saya mematikan televisi. 'Sudah, enggak usah nonton,' 'Kenapa?' (tanya Hanung). 'Itu film serem,' 'Ini kan film perjuangan,' 'Enggak, itu film serem'," kenangnya sambil menirukan percakapan dengan sang ibu.

Rasa penasaran ternyata membuat Hanung mencari cara lain untuk menonton. Ia akhirnya menyaksikan film tersebut secara diam-diam.

"Jadi, akhirnya saya nonton di kamarnya nenek saya. Jadi saya diam-diam nonton itu, dan memang serem ternyata," lanjut Hanung.

2. Pengalaman tersebut memacu Hanung membuat film Lobang Buaya

Hanung Bramantyo setelah press screening film "Lobang Buaya" di ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (25/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Pengalaman masa kecil itu kemudian menjadi salah satu alasan Hanung dalam mengembangkan Lobang Buaya. Ia melihat bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat meninggalkan kesan tertentu melalui medium film, terutama ketika disampaikan dengan pendekatan yang menekankan ketegangan dan kekerasan.

"Jadi peristiwa 30 September 1965, enggak tahu kenapa itu dibuat seram karena memang tujuannya untuk menakut-nakuti bahwa ideologi komunis itu ideologi yang sangat berbahaya. Karena itu makanya pemerintah Orde Baru membuat tragedi itu menjadi horor dan terus dikonsumsi sampai hari ini. Itulah dasar pijakan saya kenapa saya membuat film horor," jelas Hanung.

Sementara itu, Hanung menegaskan bahwa Lobang Buaya tidak dibuat sebagai remake Pengkhianatan G30S/PKI. Film ini merupakan fiksi yang mengambil konteks sosial-politik Indonesia pada 1964, atau sekitar 309 hari sebelum peristiwa 30 September 1965. Ia juga menyoroti bahwa tragedi 1965 tidak hanya berkaitan dengan tujuh perwira yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan.

"Enggak cuma tujuh perwira yang meninggal di Lubang Buaya, tapi tujuh perwira itu semacam dijadikan trigger oleh pemerintah Orde Baru untuk menghilangkan atau melakukan pembunuhan massal yang seolah-olah sepertinya terkoordinir," ucapnya.

3. Lewat film Lobang Buaya, Hanung ingin generasi muda lebih melek sejarah

Hanung Bramantyo setelah press screening film "Lobang Buaya" di ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (25/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Hanung sendiri berharap filmnya dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk kembali membicarakan sejarah Indonesia. Ia tidak ingin penonton hanya berhenti pada pertanyaan mengenai siapa dalang sebuah peristiwa.

"Saya pengin masyarakat kita menuntut untuk betul-betul dilakukan semacam investigasi yang betul untuk menjawab pertanyaan: 'Kenapa peristiwa 30 September itu harus terjadi?' Bukan siapa dalangnya, tapi kenapa peristiwa itu harus terjadi?" ujar Hanung.

Bagi Hanung, Lobang Buaya juga menjadi salah satu film personal dalam perjalanan kreatifnya. Ia ingin film tersebut membangkitkan kembali ingatan kolektif mengenai peristiwa sejarah yang mungkin semakin jauh dari generasi muda.

"Itu makanya di bulan September ini saya mencoba untuk memilih gimana caranya agar supaya film personal saya ini bisa dinikmati oleh penonton dan kemudian membuat, membangkitkan ingatan kolektif kepada anak muda kita, 'Oh ada peristiwa itu toh'," pungkasnya.

Lobang Buaya mengisahkan misteri pembunuhan berantai di sebuah desa pada 1964. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga Mathias Muchus dan dijadwalkan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article