Hanung Bramantyo setelah press screening film "Lobang Buaya" di ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (25/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Hanung mengenang masa kecilnya ketika film Pengkhianatan G30S/PKI menjadi tayangan rutin menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Film karya Arifin C. Noer tersebut pertama kali dirilis pada 1984 dan kemudian ditayangkan secara rutin di televisi hingga era Reformasi. Setelah Reformasi, kewajiban penayangan tersebut dihentikan.
"Saya sebagai filmmaker dan juga sebagai bangsa Indonesia yang lahir 10 tahun setelah peristiwa 1965, yaitu 1 Oktober 1975. Saya hidup dalam sebuah rezim di mana setiap malam ulang tahun saya selalu ada film horor, yaitu Pengkhianatan G30S/PKI," ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2026).
Hanung bahkan menyebut film tersebut sebagai film horor dalam kenangan masa kecilnya. Saat itu, orang tuanya sempat melarang Hanung menonton karena khawatir dengan adegan kekerasan yang ditampilkan.
"Kenapa saya sebut horor pada saat itu? Karena pada saat ditayangkan di televisi itu jam 7 sampai jam 11 semua televisi di Indonesia tidak boleh menayangkan selain film itu. Dan pada saat saya menonton, ibu saya mematikan televisi. 'Sudah, enggak usah nonton,' 'Kenapa?' (tanya Hanung). 'Itu film serem,' 'Ini kan film perjuangan,' 'Enggak, itu film serem'," kenangnya sambil menirukan percakapan dengan sang ibu.
Rasa penasaran ternyata membuat Hanung mencari cara lain untuk menonton. Ia akhirnya menyaksikan film tersebut secara diam-diam.
"Jadi, akhirnya saya nonton di kamarnya nenek saya. Jadi saya diam-diam nonton itu, dan memang serem ternyata," lanjut Hanung.