Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Sutradara dan Cast tentang Parodi Politik di Bapak Paling Jujur

4 min read
Cerita Sutradara dan Cast tentang Parodi Politik di Bapak Paling Jujur
Andovi da Lopez saat roundtable interview film "Bapak Paling Jujur" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Film komedi Bapak Paling Jujur karya Fajar Nugros mengisahkan politikus yang tak bisa berbohong, diadaptasi dari film Brasil O Candidato Honesto dan dibintangi Andovi da Lopez.
  • Teaser film memicu komentar seragam yang menyerang Fajar serta Andovi, termasuk tuduhan keberpihakan politik; keduanya menegaskan film ini tidak mendukung pihak tertentu.
  • Konsultan komedi David Nurbianto menyatakan satire film berangkat dari keresahan bersama, bukan kebencian, sementara penerimaan dan rasa tersinggung penonton tidak dapat dikendalikan pembuat karya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bagaimana jadinya jika seorang politikus tiba-tiba tidak bisa berbohong sama sekali? Premis unik tersebut menjadi bahan utama dalam film komedi terbaru Bapak Paling Jujur (2026) yang disutradarai Fajar Nugros. Diproduksi Cahaya Pictures bersama Studio Antelope, film ini menggandeng Andovi da Lopez, Claresta Taufan, Benidictus Siregar, hingga Soleh Solihun sebagai pemainnya.

Sejak merilis still cut dan teaser bulan September lalu, media sosial langsung dibanjiri dengan beberapa adegan yang terasa familier dengan sejumlah peristiwa viral dewasa ini. Bapak Paling Jujur sendiri diadaptasi dari O Candidato Honesto, film komedi Brasil yang dirilis pada 2014. Dengan premis seorang politikus yang mendadak tidak bisa berbohong, sindiran dalam film satu ini memang terasa mudah dikaitkan dengan berbagai fenomena politik yang pernah terjadi di Indonesia.

  1. 1. Saking blak-blakannya, teaser Bapak Paling Jujur langsung diserang buzzer

    Saking blak-blakannya menyindir realita, teaser Bapak Paling Jujur langsung diserang buzzer.jpg
    Fajar Nugros saat roundtable interview film "Bapak Paling Jujur" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Fajar Nugros mengungkapkan bahwa respons terhadap Bapak Paling Jujur sudah terasa bahkan sebelum filmnya dirilis. Ketika teaser diluncurkan, ia tiba-tiba mendapatkan banyak komentar dengan narasi yang hampir seragam di akun Instagram miliknya.

    "Waktu kita ngeluarin teaser (trailer), Instagram saya sempet ada banyak komentar yang bejibun gitu ya tiba-tiba. Saya jarang banget selfie, tapi pada hari itu tuh saya inget banget habis sholat Jumat tiba-tiba ada banyak komentar yang nadanya sama semua," ucap Fajar Nugros dalam roundtable interview di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).

    Menurut Fajar, komentar-komentar tersebut mempertanyakan kapasitasnya untuk membuat film yang membawa isu kejujuran dan politik. Ia bahkan disebut sok suci hanya karena mengangkat cerita tersebut.

    "Narasinya sama, kalimatnya tuh gini, 'Kita tahu kamu siapa ya, enggak usah sok jujur untuk bikin film kayak gini.' Jadi dia pikir saya harus suci banget untuk boleh bikin film ini," tambahnya.

    Alih-alih menganggap hal tersebut sebagai serangan personal semata, Fajar melihat respons tersebut sebagai bagian dari konsekuensi ketika sebuah film merefleksikan realita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia pun menegaskan bahwa Bapak Paling Jujur dibuat bukan dengan niat menyerang pihak tertentu.

    "Padahal kan ya film ini refleksi dari saya sendiri, saya juga berharap seperti itu dan hopefully bisa diterima. Tapi bukan berarti saya harus suci banget, karena kita tidak bikin film ini dengan niat jahat," lanjut Fajar.

  2. 2. Andovi da Lopez ikut kena serangan karena perankan politikus

    Andovi da Lopez ikut kena serangan karena perankan politikus.jpg
    Andovi da Lopez saat roundtable interview film "Bapak Paling Jujur" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Pengalaman serupa juga dirasakan Andovi da Lopez yang memerankan Jonas Prakoso, seorang politikus dalam Bapak Paling Jujur. Seperti diketahui, memerankan karakter politikus bukan pengalaman pertama bagi Andovi. Aktor berusia 32 tahun tersebut bahkan pernah memerankan anggota DPR hingga Presiden Joko Widodo dalam Epic Rap Battles of Presidency pada 2014.

    Karena rekam jejak tersebut, Andovi mengaku sudah tidak terlalu kaget ketika kembali mendapatkan respons negatif saat memerankan politikus. "Tanpa film ini pun saya juga diserang," canda Dovi.

    Namun, serangan yang diterimanya tidak selalu berkaitan langsung dengan film. Andovi mengungkapkan bahwa dirinya pernah dituduh memiliki keberpihakan politik tertentu, termasuk dengan Pilpres 2024.

    "Ada yang merasa bahwa film ini adalah film yang mendukung paslon siapa di pemilu 2024. Padahal tidak, kita tidak mendukung siapa pun," tambahnya.

  3. 3. David Nurbianto bicara batas komedi: berangkat dari keresahan, bukan kebencian

    David Nurbianto bicara batas komedi berangkat dari keresahan, bukan kebencian.jpg
    David Nurbianto saat roundtable interview film "Bapak Paling Jujur" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Sebagai konsultan komedi Bapak Paling Jujur, David Nurbianto menjelaskan batas antara humor, satire, dan isu sensitif. Terlebih, film yang mengangkat dunia politik berpotensi membuat penonton menghubungkan lelucon dengan realitas atau tokoh tertentu. Menurut David, persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh pembuatnya. Penerimaan setiap orang terhadap komedi bisa berbeda.

    "Kalau aman, itu bukan urusan kita. Kalau aman atau enggak, itu kan tergantung penerimaan orang, kan? Kita enggak bisa ngatur ketersinggungan orang," jelas David.

    David kemudian mengambil contoh pertunjukan stand-up comedy Pandji Pragiwaksono untuk menggambarkan bagaimana materi yang berangkat dari keresahan tetap bisa mendapatkan respons beragam dari penonton.

    "Seperti halnya Mens Rea-nya Pandji, kita enggak bisa ngatur ketersinggungan orang. Kita cuma berusaha menghadirkan base-nya dari keresahan. Film ini hadir karena keresahan, bukan kebencian," singgung David.

    Bagi David, terdapat perbedaan antara membuat karya berdasarkan kebencian terhadap seseorang dan mengangkat keresahan yang dirasakan bersama.

    "Kalau kebencian, itu akan beda-beda tuh. 'Gua benci sama dia,' belum tentu lu benci juga, kan? Tapi kalau keresahan biasanya related selama kita hidup di timeline waktu yang sama, tempat yang sama, keadaan yang sama. Jadi kita ngejar itunya dulu, sih," tutur David.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More