SEEN (instagram.com/seenbyseen_)
Kalau ngomongin boyband dan girlband, Indonesia memang sudah punya banyak nama dari dulu walau dengan sebutan yang berbeda, yaitu grup vokal. Sebelum era SM*ASH di 2010-an, kita punya Coboy, M.E, Trio Libels, dan banyak lagi pada tahun 90 hingga 2000-an.
Setiap era punya ciri khas masing-masing yang jadi tren pada masa itu. Nah, pada generasi sekarang, seperti no na, MARBLES, SEEN, dan grup lainnya, pengamat musik Aldo Sianturi melihat ada perubahan bagaimana industri mempersiapkan serta mengelola apa yang kini disebut sebagai boy dan girl group dibanding era sebelumnya.
“Lebih terstruktur dan lebih banyak duitnya. Kalau dulu kan tadi pemodal personal, jadi selama dia udah surplus, ya menurut dia udah lah. Jadi second bisnisnya gak di-top-up lagi, mereka (pemodal) balik ke hilirisasi, bisnis utamanya,” ujar Aldo saat dihubungi IDN Times pada Senin (28/9/2026).
Menurut Aldo, proses pengembangan idol group Indonesia kini secara bisnis juga semakin dipikirkan sejak awal. Grup tidak lagi hanya dipandang sebagai proyek untuk menghasilkan lagu. Ada potensi yang lebih besar untuk mengembangkan mereka sebagai sebuah IP yang bisa bergerak ke berbagai pasar, termasuk kolaborasi di luar industri musik, seperti brand makanan hingga pakaian.
“Di musik industri itu dibutuhkan IP yang bisa dimainkan bersama-sama. Artinya, as you know mereka adalah intellectual property yang bisa dikembangkan menjadi konten, performance, community, merchandise, endorsement sampai entertainment franchise,” jelas Aldo.
Dengan pendekatan tersebut, keberadaan beberapa member dalam satu grup adalah nilai tambah. Setiap member membawa karakter, kepribadian, dan potensi audiens yang berbeda sehingga grup punya lebih banyak pintu untuk menjangkau publik. Hal ini semakin relevan dengan kondisi industri musik saat ini yang menurut Aldo berada dalam era attention economy. Perhatian publik menjadi sesuatu yang perlu diperebutkan, termasuk melalui berbagai platform digital.
“We are living in the attention economy sekarang. Jadi kalau grup dibanding dengan solo pasti berbeda. Misalnya grup itu ada lima orang, berarti kan dia ada lima wajah, lima personality, lima sumber konten, terus lima pintu masuk ke audience. Jadi dalam algoritmanya TikTok, Instagram, sama YouTube, personality itu adalah aset distribusi,” tuturnya.
Konsep pengembangan grup yang mengandalkan IP serta kedekatan antara member dan fandom sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Salah satu contohnya adalah JKT48 yang sejak awal mengadopsi konsep dari AKB48. JKT48 merupakan sister group resmi AKB48 dan membawa konsep “idola yang dapat dijumpai” sehingga penggemar bisa melihat para member secara rutin di teater JKT48, fX Sudirman.
Bedanya, di era media sosial sekarang, ruang untuk mengembangkan karakter dan IP tersebut menjadi jauh lebih luas. Member gak hanya bisa dikenal lewat panggung atau aktivitas grup, tetapi juga melalui konten digital dan berbagai platform yang memungkinkan mereka menjangkau audiens secara lebih personal lewat karakter setiap membernya.