Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Evolusi Pemeran Jean Grey di Film Live Action X-Men
Jean Grey versi live action (dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand | X-Men: Dark Phoenix | dok. Marvel Studios/Spider-Man: Brand New Day)
  • Famke Janssen memulai debut Jean Grey live-action di X-Men (2000), menampilkan versi dewasa dan tragis yang menjadi Dark Phoenix akibat trauma psikologis.
  • Sophie Turner mengambil alih peran dalam semesta baru sejak X-Men: Apocalypse (2016), dengan Jean Grey remaja yang terhubung Phoenix Force dan lebih mendekati komik.
  • Artikel menyebut Sadie Sink memerankan Jean Grey MCU sebagai villain di Spider-Man: Brand New Day (2026), sebelum film X-Men Marvel Studios yang dijadwalkan rilis 2028.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jean Grey alias Phoenix merupakan salah satu mutan utama dalam cerita X-Men. Ia sudah muncul dalam komik pertama, The X-Men #1 (1963), sebagai anggota pendiri X-Men. Meskipun sangat populer di skena komik superhero, ia baru dikenal luas berkat adaptasi ke serial dan film. Versi animasinya sudah muncul sejak serial The Marvel Super Heroes (1966). Sementara itu, adaptasi live-action Jean Grey baru muncul lewat film X-Men (2000).

Suksesnya film tersebut akhirnya membuat Jean Grey makin dikenal. Mulai dari film tersebut hingga era Marvel Cinematic Universe (MCU) Jean Grey telah diperankan oleh beberapa aktris dengan ciri khas masing-masing. Penasaran siapa saja mereka dan apa perbedaanya? Yuk, simak evolusi Jean Grey di film live-action dari masa ke masa di bawah ini!

1. Famke Janssen adalah aktris yang membawa Jean Grey ke layar lebar lewat X-Men

Jean Grey versi Famke Janssen (dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand)

Jean Grey muncul dalam film live action untuk pertama kali dalam film X-Men. Karakter ini diperankan oleh aktris Famke Janssen yang berhasil menghidupkan versi yang lebih dewasa dari Jean Grey. Setelah debutnya di film tersebut, Famke Janssen kembali memerankan Jean Grey dalam beberapa sekuel, yakni; X2: X-Men United (2003)dan X-Men: The Last Stand (2006), juga menjadi cameo di The Wolverine (2013) dan X-Men: Days of Future Past (2014).

Penggambaran Famke Janssen cukup bebas dan tidak banyak terikat versi komik. Yang paling menonjol adalah dalam X-Men: The Last Stand saat ia menjadi antagonis utama, Dark Phoenix. Alih-alih mendapatkan kekuatan dahsyat tersebut dari entitas kosmik bernama Phoenix Force seperti di komik, Dark Phoenix di film tersebut adalah kepribadian ganda yang tercipta dari trauma psikologis.

Versi Jean ini lebih tragis dan emosional, terutama dalam kisah cintanya dengan Cyclops (James Marsden) dan Wolverine (Hugh Jackman). Sama seperti Spider-Man versi Tobey Maguire, ia punya pendekatan berbeda dari versi komik, tetapi populer karena menjadi yang pertama mengenalkan tokoh komik ke audiens yang lebih luas. Sayangnya, ia belum dikonfirmasi menyusul pemeran X-Men klasik lainnya untuk tampil di Avengers: Doomsday (2026).

2. Sophie Turner akhirnya dipercaya untuk menjadi Jean Grey versi baru di waralaba X-Men

Jean Grey versi Sophie Turner (dok. 20th Century Fox/X-Men: Dark Phoenix)

Memasuki bagian cerita baru, Sophie Turner akhirnya menggantikan Famke Janssen sebagai Jean Grey di waralaba X-Men. Sophie baru debut sebagai Jean di film X-Men: Apocalypse (2016). Namun, karena sejarah ditulis ulang dalam film X-Men: Days of Future Past (2014), ia bukan versi remaja dari Jean Grey yang diperankan Famke Janssen. Namun, versi baru di semesta yang baru setelah soft-reboot.

Versi Sophie Turner ini lebih comic-accurate. Seperti di komik, Jean adalah mutan level Omega yang kesulitan mengendalikan kekuatan telepatinya akibat Phoenix Force yang memilihnya sebagai inang. Sophie berhasil menghidupkan karakter remaja Jean yang rapuh karena trauma dan gangguan mental. Versi ini tidak fokus pada cinta segitiga ikonis dari versi komik, tetapi upayanya mencari jati diri menguasai Phoenix Force.

Seperti versi Famke Janssen, lagi-lagi Jean Grey berubah menjadi Dark Phoenix di film X-Men: Dark Phoenix (2019). Bedanya, versi baru ini benar-benar menampilkan kekuatan Dark Phoenix seperti di komik. Sayangnya, banyak yang menilai naskah filmnya terlalu lemah sehingga Sophie Turner tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk memaksimalkan perannya sebagai Jean Grey.

3. Sadie Sink perankan Jean Grey di MCU yang debut sebagai villain Spider-Man

Sadie Sink sebagai Jean Grey MCU (dok. Marvel Studios/Spider-Man: Brand New Day)

Setelah mendapatkan lisensi X-Men kembali, Marvel Studios akhirnya membuat film X-Men mereka sendiri yang akan dirilis 5 Mei 2028 mendatang. Meskipun masih dua tahun lagi, Jean Grey versi MCU sudah debut lebih dulu lewat film Spider-Man: Brand New Day (2026). Sosok Jean Grey di MCU tersebut diperankan oleh aktris muda, Sadie Sink, yang dikenal lewat serial Stranger Things.

Menariknya, ia tidak debut sebagai superhero, melainkan sebagai villain utama. Dalam film tersebut, Jean Grey adalah mutan tragis yang menyimpan dendam terhadap Department of Damage Control (DODC) karena telah menculik dan melakukan eksperimen kejam terhadap adiknya, Sara. Seperti kebanyakan karakter MCU, ia menambahkan cerita orisinal tetapi tetap menjaga keaslian dan ciri khas karakter dari versi komik.

Versi Sadie Sink dianggap sukses menampilkan mental Jean yang rapuh, tetapi dengan kekuatan telepati yang dahsyat. Di filmnya, ia berhasil mengendalikan Hulk (Mark Ruffalo) dan berbagai penjahat kuat hanya dengan kekuatannya sendiri. MCU sepertinya bakal menyimpan cerita Phoenix Force untuk sekuel mendatang, sih.

Dari ketiga versi Jean Grey di atas, menurutmu mana yang paling memorable? Apakah yang mencoba tampil beda yakni versi Famke Jenssen, Sophie Turner yang comic-accurate, atau Sadie Sink yang memadukan versi komik dan unsur original MCU?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article