5 Film Adaptasi Buku Paling Mengecewakan Sepanjang Masa

- Eragon (2006) - Terlalu terburu-buru, kehilangan esensi cerita aslinya.
- The Dark Tower (2017) - Mereduksi saga besar menjadi cerita aksi sederhana.
- Percy Jackson & the Olympians (2010–2013) - Kehilangan identitas dan humor ringan bukunya.
Adaptasi buku ke film selalu datang dengan ekspektasi besar. Pembaca berharap dunia yang mereka bayangkan selama ini bisa hidup di layar lebar dengan kedalaman cerita dan karakter yang tetap setia pada versi aslinya. Sayangnya, tidak semua adaptasi mampu memenuhi harapan tersebut, bahkan ada yang justru terasa seperti cerita yang sama sekali berbeda.
Beberapa film memang sukses secara komersial atau cukup menghibur jika berdiri sendiri. Namun, ketika dibandingkan dengan buku sumbernya, perbedaannya terasa terlalu jauh dan menghilangkan esensi cerita. Berikut ini lima film adaptasi buku yang sering dianggap paling mengecewakan karena tidak sesuai cerita aslinya. Apakah kamu menyetujuinya?
1. Eragon (2006)

Sebagai adaptasi dari novel fantasi populer karya Christopher Paolini, Eragon seharusnya menjadi awal dari franchise besar. Ceritanya tentang seorang anak desa yang menemukan telur naga dan terseret ke konflik besar penuh sihir dan peperangan epik. Sayangnya, film ini terasa seperti ringkasan super singkat dari novel tebal yang seharusnya dibangun perlahan.
Masalah utamanya ada pada tempo cerita yang terlalu terburu-buru. Perkembangan karakter nyaris tidak terasa, hubungan emosional antartokoh dangkal, dan dunia fantasinya gagal terasa hidup. Banyak elemen penting di buku dihilangkan begitu saja yang membuat film ini terasa kosong. Tak heran jika rencana lanjutan filmnya langsung kandas setelah satu rilisan.
2. The Dark Tower (2017)

Stephen King dikenal dengan dunia cerita yang kompleks dan saling terhubung, dan The Dark Tower adalah puncak dari semua itu. Kisah Roland Deschain, sang gunslinger, seharusnya menjadi perjalanan panjang yang penuh emosi. Namun versi filmnya justru mereduksi semua itu menjadi cerita aksi yang terlalu sederhana.
Film ini mencoba memadatkan saga besar menjadi satu kisah singkat, hasilnya terasa terburu-buru dan membingungkan. Karakter tidak diberi ruang untuk berkembang dan dunia yang luas justru terasa sempit. Baik penggemar lama maupun penonton baru sama-sama dibuat bingung, menjadikannya contoh klasik adaptasi yang tidak memahami skala cerita aslinya.
3. Percy Jackson & the Olympians (2010–2013)

Buku Percy Jackson dicintai karena kombinasi mitologi Yunani, humor ringan, dan sudut pandang remaja yang segar. Film adaptasinya justru menghilangkan banyak elemen tersebut. Karakter dibuat lebih tua, humor dipangkas, dan dunia mitologinya terasa jauh lebih kaku dibanding versi buku.
Jika dilepas dari status adaptasi, film ini sebenarnya masih bisa dinikmati sebagai hiburan fantasi biasa. Namun sebagai penerjemahan buku ke layar lebar, film ini kehilangan identitasnya. Bahkan sang penulis, Rick Riordan, secara terbuka mengkritik hasilnya. Kesuksesan serial Percy Jackson versi terbaru justru semakin menegaskan betapa gagalnya adaptasi film pertama.
4. Divergent Series (2014–2016)

Film pertama Divergent sempat terlihat menjanjikan dengan konsep dunia distopia berbasis kepribadian. Namun seiring berjalannya seri, arah ceritanya makin tidak jelas. Banyak perubahan besar dari novel yang justru membuat cerita terasa dangkal dan terburu-buru.
Alih-alih menggali tema kontrol sosial, film-film lanjutannya malah fokus pada aksi tanpa bobot emosional yang kuat. Karakter berkembang tidak konsisten, konflik dipermudah, dan akhirnya franchise ini berhenti di tengah jalan. Padahal, materi bukunya punya potensi besar jika digarap dengan lebih sabar dan terarah.
5. World War Z (2013)

Sebagai film zombi, World War Z tergolong seru dan menegangkan. Namun sebagai adaptasi novel karya Max Brooks, film ini hampir tidak ada hubungannya dengan buku aslinya. Novel World War Z disusun seperti kumpulan kesaksian dari berbagai negara, menyoroti dampak global wabah zombi secara kolektif.
Film justru mengubahnya menjadi kisah satu pahlawan utama dengan alur khas Hollywood. Fokus pada satu karakter menghilangkan sudut pandang luas yang menjadi kekuatan utama bukunya. Kesalahan terbesarnya bukan sekadar mengubah cerita, tapi menghapus pesan inti tentang kekacauan bersama dan respons kemanusiaan secara global.
Adaptasi buku ke film memang bukan perkara mudah, tetapi kegagalan memahami ruh cerita sering kali menjadi kesalahan fatal. Dari daftar di atas, mana yang menurutmu paling menyakitkan untuk ditonton setelah membaca bukunya?


















