Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Sinners Difavoritkan Menang Best Picture Oscar 2026?

Kenapa Sinners Difavoritkan Menang Best Picture Oscar 2026?
Sinners (dok. Warner Bros. /Sinners)
Intinya Sih
  • Sinners karya Ryan Coogler difavoritkan di Oscar 2026 berkat pesan sosial kuat tentang eksploitasi budaya kulit hitam dan latar sejarah era Jim Crow yang dikemas dalam genre horor supranatural.
  • Film ini memadukan horor, drama musikal, dan sejarah secara harmonis, menjadikannya kandidat langka yang berpotensi menembus dominasi genre non-horor di kategori Best Picture Oscar.
  • Sinners mencetak rekor 16 nominasi Oscar, meraih pujian kritikus dan penonton dengan pendapatan global tinggi serta performa akting solid dari Michael B. Jordan dan jajaran pemeran pendukungnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sinners (2025) tengah diperbincangkan sebagai salah satu pesaing kuat di ajang Academy Awards 2026 atau Oscar 2026. Disutradarai Ryan Coogler, ia melanjutkan ciri khas sang sineas yang kerap menempatkan karakter kulit hitam sebagai pusat cerita. Pendekatan ini sudah terlihat sejak Creed (2015) dan Black Panther (2018), dua film yang turut melambungkan kariernya di industri perfilman.

Sinners masuk dalam nominasi Film Terbaik (Best Picture) bersama One Battle After Another, Marty Supreme, Hamnet, Sentimental Value, Frankenstein, F1: The Movie, Train Dreams, Bugonia, dan The Secret Agent. Meski persaingannya ketat, Sinners digadang-gadang sebagai salah satu favorit untuk membawa pulang piala Best Picture.

Lantas, apa yang membuat film ini disebut sebagai kandidat terkuat untuk memenangkan Best Picture Oscar 2026? Ini beberapa alasan yang mendasarinya.

1. Sinners mengangkat pesan sosial tentang eksploitasi budaya kulit hitam

Sinners
Sinners (dok. Warner Bros. Pictures/Sinners)

Sinners bukanlah film horor vampir yang dibuat asal-asalan. Berkat tangan dingin Ryan Coogler, film ini hadir sebagai horor supranatural yang berlatar di Mississippi pada era 1930-an. Pada masa itu, Amerika Serikat masih memberlakukan Jim Crow, yaitu aturan yang secara legal memisahkan kehidupan masyarakat kulit hitam dan kulit putih.

Di balik nuansa sejarahnya yang elegan, Sinners juga menyimpan kritik sosial yang tajam dengan menyinggung praktik eksploitasi terhadap budaya dan kesenian masyarakat kulit hitam. Dalam ceritanya, vampir tidak hanya digambarkan sebagai makhluk pengisap darah, tetapi juga menjadi simbol pihak yang "menghisap" warisan masyarakat kulit hitam. Melalui analogi ini, Sinners menyoroti bagaimana budaya kulit hitam kerap diambil dan dikomersialkan tanpa menghargai nilai aslinya.

2. Sinners menggabungkan drama musikal dan sejarah secara harmonis

Sinners
Sinners (dok. Warner Bros. Pictures/Sinners)

Sejarah mencatat kalau Oscar cukup jarang memberikan apresiasi kepada film bergenre horor. Hingga kini, The Silence of the Lambs (1991) karya sutradara Jonathan Demme masih menjadi satu-satunya film horor yang berhasil memenangkan Best Picture di Oscar. Setelahnya, film horor lain yang masuk nominasi Best Picture, seperti Black Swan (2010) dan The Substance (2024), gagal meraih penghargaan utama dan hanya menonjol di kategori teknis.

Sinners dianggap mampu mendobrak tren tersebut karena sukses memadukan unsur horor, drama musikal, serta sejarah secara kuat. Cooger menyebut bahwa dirinya terinspirasi oleh film dan media klasik yang membantunya mengeksplorasi pendekatan genre-fluid yang jarang ditemui di film horor pada umumnya. Karena itu, Sinners berpotensi menjadi film horor kedua yang mendapatkan Best Picture setelah The Silence of the Lambs.

3. Sinners berhasil menyatukan penilaian kritikus dan penonton awam

Sinners
Sinners (dok. Warner Bros. Pictures/Sinners)

Belakangan ini, pemenang Best Picture di ajang Oscar sering menuai respons yang bertolak belakang antara kritikus dan penonton awam. Para kritikus menilai film-film ini unggul secara artistik dan berkualitas tinggi, tetapi sebagian penonton menganggap filmnya kurang menghibur karena alurnya terasa berat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Oscar belum sepenuhnya mampu menjembatani selera kritikus dan penonton awam.

Menariknya, tren tersebut seolah terpatahkan oleh Sinners. Pada 2025, film ini berhasil masuk jajaran 20 film terlaris dunia dengan pendapatan sekitar 369 juta dolar Amerika Serikat (Rp6,23 triliun). Kritikus pun memberikan apresiasi tinggi dengan skor 97 persen di Rotten Tomatoes dan rating 7,5/10 di IMDb.

4. Sinners memaksimalkan aspek teknis untuk menghadirkan latar yang nyata

Sinners
Sinners (dok. Warner Bros. Pictures/Sinners)

Sinners merupakan film produksi Warner Bros. Pictures, studio yang dikenal sering menggarap proyek berskala besar. Kualitas tersebut terlihat jelas dalam eksekusi teknis film ini yang matang. Sinners benar-benar mengajakmu ke Amerika Serikat pada era 1930-an ketika isu rasisme dan segregasi masih kental.

Sinners sukses menggambarkan era tersebut secara detail, mulai dari jalanan setapak hingga hamparan ladang kapas. Pemandangan indah tersebut semakin hidup berkat sinematografer Autumn Durald Arkapaw yang memanfaatkan kamera IMAX dan Ultra Panavision untuk menerjemahkan visi Coogler. Hasilnya, Sinners menjadi film horor yang kuat secara visual sekaligus menyajikan atmosfer cerita yang terasa nyata.

5. Performa para pemeran Sinners yang solid tanpa ada karakter yang tersingkir

Michael B. Jordan dalam Sinners
Michael B. Jordan dalam Sinners (dok. Warner Bros. Pictures/Sinners)

Naskah dan penyutradaraan yang baik tidak akan maksimal tanpa didukung performa solid dari para pemeran. Sebagai tokoh utama, Michael B. Jordan layak mendapat sorotan khusus berkat perannya sebagai saudara kembar Smoke dan Stack. Dirinya menghidupkan dua karakter dengan kepribadian dan gestur berbeda, tetapi masih mempertahankan ikatan emosional di antara keduanya.

Akting Jordan juga diperkuat oleh penampilan para pemeran pendukung yang tak kalah meyakinkan. Miles Caton, misalnya, berperan sebagai Sammie Moore, seorang musisi blues muda yang berbakat dan idealis. Kehadiran Delroy Lindo, Hailee Steinfield, dan Wunmi Mosaku turut membuat dinamika karakter dalam Sinners terasa lebih hidup.

6. Sinners memecahkan rekor dengan mengamankan 16 nominasi Oscar

Sinners
Sinners (dok. Warner Bros. Pictures/Sinners)

Karena dinilai efektif memaksimalkan hampir seluruh aspek produksi, Sinners tampil bersinar di Oscar 2026. Ia bahkan mencetak sejarah dengan meraih 16 nominasi yang menjadikannya film dengan nominasi terbanyak di ajang tersebut tahun ini. Pencapaian Sinners melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh All About Eve (1950), Titanic (1997), dan La La Land (2016) dengan perolehan 14 nominasi.

Salah satu nominasi paling bergengsi yang diraih Sinners adalah Best Picture, kategori utama yang menandakan pengakuan dari anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) terhadap kualitas film terbaik sepanjang tahun. Selain itu, film ini masuk dalam berbagai kategori penting, termasuk Sutradara Terbaik (Best Director), Aktor Terbaik dalam Peran Utama (Best Actor in a Leading Role), dan Sinematografi Terbaik (Best Cinematography). Deretan nominasi ini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu kandidat terkuat untuk memenangkan Best Picture di Oscar 2026.

Dari seluruh keunggulan di atas, Sinners memang layak disebut sebagai salah satu favorit di kategori Best Picture. Meski begitu, film ini harus berkompetisi dengan One Battle After Another dan pesaing lain yang juga memiliki peluang besar untuk menang. Pengumuman pemenang pada Senin (16/3/2026) pukul 06.00 WIB akan menjadi momen penentuan apakah Sinners benar-benar mampu membawa pulang trofi Best Picture di Oscar 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More