4 Film Adaptasi Novel Jane Austen dengan Dua Versi, Klasik vs Modern

Penggemar novel sastra pasti tidak asing dengan nama Jane Austen, penulis terkenal abad ke-18 yang karyanya laris diadaptasi menjadi film. Gak cuma satu versi, sejak pembuatan film pertama tahun 90-an, banyak sutradara yang membuat adaptasi film dari novel yang sama dengan versi yang lebih modern. Hal ini membuktikan, cerita dari novel Jane Austen bisa menjadi sangat timeless.
Novel karya Jane Austen seolah gak pernah kehilangan pesonanya meski sudah melewati berbagai generasi. Kisah cinta, konflik keluarga, hingga kritik sosial yang ia tulis masih terasa relevan dan terus dihidupkan melalui adaptasi film maupun serial televisi. Menariknya, beberapa novel populer Jane Austen bahkan memiliki lebih dari satu versi adaptasi dengan pendekatan yang berbeda.
Dari versi klasik ke versi modern, film adaptasinya punya daya tarik tersendiri. Film Sense and Sensibility (1995) ataupun Sense and Sensibility (2026), kedua film selalu punya cara tersendiri untuk memikat penonton lintas generasi. Gak Cuma satu judul saja, ternyata ada beberapa film yang juga memiliki 2 versi pembuatan. Yuk simak ulasannya disini.
1. Pride and Prejudice (1995 dan 2005)

cuplikan film Pride and Prejudice 1995 dan 2005 (dok.Mubi/Pride and Prejudice|dok.Focus Features/Pride and Prejudice) Pride and Prejudice mengisahkan Elizabeth Bennet, perempuan cerdas dan berpendirian teguh yang berasal dari keluarga Bennet. Pertemuannya dengan Fitzwilliam Darcy, pria kaya yang terkesan angkuh dan sulit didekati, membuat keduanya terjebak dalam prasangka dan kesalahpahaman. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bahwa penilaian pertama tidak selalu mencerminkan perasaan dan kepribadian seseorang yang sebenarnya.
Adaptasi BBC tahun 1995 ini hadir dalam format miniseri televisi yang disutradarai oleh Simon Langton. Jennifer Ehle memerankan Elizabeth Bennet, sedangkan Colin Firth menjadi Mr. Darcy. Dengan durasi cerita yang lebih panjang, versi ini dikenal karena kesetiaannya pada alur novel, termasuk perkembangan karakter dan konflik sosial yang membentuk hubungan keduanya.
Sedangkan pada tahun 2005, film layar lebar ini disutradarai oleh Joe Wright dengan Keira Knightley sebagai Elizabeth Bennet dan Matthew Macfadyen sebagai Mr. Darcy. Versi ini mengemas kisah klasik tersebut melalui sinematografi yang romantis, suasana pedesaan Inggris yang indah, serta pendekatan emosional yang lebih sinematik.
Versi 1995 lebih leluasa mengembangkan detail cerita, dialog, dan dinamika antarkarakter karena formatnya berupa miniseri. Sebaliknya, versi 2005 memadatkan alur menjadi film layar lebar dengan penekanan lebih kuat pada visual, ekspresi, dan ketegangan romantis antara Elizabeth dan Darcy. Keduanya sama-sama menonjolkan tema prasangka dan cinta, tetapi menawarkan pengalaman menonton yang berbeda: lebih mendalam pada versi 1995 dan lebih dramatis secara visual pada versi 2005.
2. Emma (1996 dan 2020)

cuplikan film Emma 1996 dan 2020 (dok. Rotten Tomatoes Classic Trailers/Emma|dok.Focus Features/ Emma) Emma mengikuti kehidupan Emma Woodhouse, perempuan muda kaya yang merasa dirinya pandai memahami urusan cinta orang lain. Ia gemar menjodohkan teman-temannya, termasuk Harriet Smith, tetapi kerap salah membaca perasaan dan situasi yang sebenarnya. Di tengah berbagai kekeliruan tersebut, Emma perlahan belajar memahami dirinya sendiri, termasuk perasaannya terhadap sahabat lama sekaligus tetangganya, Mr. Knightley.
Di tahun 1996, film adaptasi ini disutradarai oleh Douglas McGrath, dengan Gwyneth Paltrow sebagai Emma Woodhouse dan Jeremy Northam sebagai Mr. Knightley. Adaptasi ini menyajikan komedi romantis periode dengan suasana klasik yang hangat. Ceritanya menonjolkan kecerdikan Emma, interaksi sosial kalangan berada, dan proses pendewasaannya dalam memahami cinta.
Sedangkan di tahun 2020, film ini disutradarai oleh Autumn de Wilde dan dibintangi Anya Taylor-Joy sebagai Emma Woodhouse dan Johnny Flynn sebagai Mr. Knightley. Penampilannya mencuri perhatian lewat palet warna pastel, kostum yang menawan, komposisi gambar yang simetris, serta desain produksi yang menonjolkan estetika era Regency. Nuansa komedinya juga terasa lebih ekspresif melalui gestur, ekspresi, dan kecanggungan karakter.
Versi 1996 cenderung menghadirkan romansa klasik dengan pendekatan yang relatif konvensional dan hangat. Sementara itu, versi 2020 tampil lebih berani secara visual dengan warna cerah, detail kostum, dan komedi situasional yang terasa tajam. Perbedaan ini membuat versi 1996 cocok bagi penonton yang menyukai drama periode klasik, sedangkan versi 2020 menarik bagi mereka yang mengutamakan estetika visual dan humor yang lebih ekspresif.
3. Persuasion (1995 dan 2022)

cuplikan film Persuasion 1995 dan 2022 (dok.Mubi/Persuasion|dok.Netflix/Persuasion) Persuasion berkisah tentang Anne Elliot, perempuan yang pernah membatalkan pertunangannya dengan Frederick Wentworth karena nasihat orang-orang di sekitarnya. Bertahun-tahun kemudian, keduanya kembali bertemu ketika Wentworth telah menjadi kapten angkatan laut yang sukses. Anne pun harus menghadapi penyesalan masa lalu, perasaan yang belum padam, dan kemungkinan untuk memperbaiki hubungan yang sempat terputus.
Pada tahun 1995, film adaptasi yang disutradarai oleh Roger Michell ini dibintangi Amanda Root sebagai Anne Elliot dan Ciarán Hinds sebagai Captain Wentworth. Adaptasi tersebut dikenal dengan pendekatan yang tenang, atmosfer klasik, serta penggambaran emosi yang tidak selalu disampaikan melalui dialog. Perasaan Anne banyak terlihat melalui tatapan, gestur kecil, dan pergulatan batin yang perlahan terungkap.
Film produksi Netflix ini disutradarai oleh Carrie Cracknell, dengan Dakota Johnson sebagai Anne Elliot dan Cosmo Jarvis sebagai Captain Wentworth. Versi modern ini menggunakan gaya penceritaan yang lebih modern, termasuk adegan ketika Anne berbicara langsung kepada penonton atau memecah fourth wall. Dialog dan ekspresi karakternya juga terasa lebih kontemporer dibandingkan adaptasi 1995.
Dari versi 1995 yang mempertahankan nuansa melankolis dan kedalaman emosi menjadi kekuatan novel Jane Austen. Sebaliknya, versi 2022 menghadirkan Anne yang lebih ekspresif, jenaka, dan komunikatif dengan penonton melalui pendekatan narasi modern. Perbedaan ini membuat kedua film menawarkan interpretasi yang cukup kontras terhadap karakter Anne, meskipun sama-sama berangkat dari kisah cinta yang dipenuhi penyesalan dan kesempatan kedua.
4. Sense and Sensibility (1995 dan 2026)

cuplikan film Sense and Sensibility 1995 dan 2026 (dok.Mubi/Sense and Sensibility|dok. Focus Features/Sense and Sensibility) Sense and Sensibility mengisahkan tiga bersaudara keluarga Dashwood yang harus menghadapi perubahan hidup setelah ayah mereka meninggal dunia. Elinor Dashwood dikenal rasional dan mampu menahan perasaan, sedangkan adiknya, Marianne, lebih spontan serta berani mengikuti kata hati dalam urusan cinta. Ketika kondisi ekonomi keluarga berubah, keduanya harus menghadapi persoalan cinta, perbedaan kelas sosial, dan harapan untuk menemukan kebahagiaan.
Versi klasik 1995, film ini disutradarai oleh Ang Lee dengan naskah yang ditulis Emma Thompson, yang juga memerankan Elinor Dashwood. Kate Winslet berperan sebagai Marianne Dashwood, sementara Hugh Grant dan Alan Rickman masing-masing memerankan Edward Ferrars dan Colonel Brandon. Adaptasi ini memadukan drama keluarga, romansa, dan kritik sosial dengan pendekatan klasik yang menyoroti pertentangan antara akal dan perasaan.
Sedangkan versi modern 2026, disutradarai oleh Georgia Oakley berdasarkan naskah Diana Reid. Daisy Edgar-Jones memerankan Elinor Dashwood, sedangkan Esmé Creed-Miles berperan sebagai Marianne, dengan George MacKay sebagai Edward Ferrars dan Herbert Nordrum sebagai Colonel Brandon. Film adaptasi terbaru ini menawarkan interpretasi yang lebih membumi dan emosional, sekaligus memberi perhatian besar pada hubungan antarsaudara serta kesulitan perempuan dalam menghadapi keterbatasan ekonomi dan aturan sosial pada era Regency.
Versi 1995 menghadirkan kisah yang seimbang antara romansa, humor, dan kritik sosial, dengan emosi karakter yang kerap disampaikan secara halus. Sementara itu, versi 2026 mengambil pendekatan yang lebih mentah dan realistis, menampilkan tekanan ekonomi serta pergulatan emosional keluarga Dashwood secara lebih intens. Perbedaan lainnya terlihat pada penekanan cerita, di mana adaptasi 2026 lebih menonjolkan ikatan persaudaraan Elinor dan Marianne sebagai pusat emosional kisah, sehingga penonton dapat melihat cerita Jane Austen dari sudut pandang yang terasa lebih dekat dengan penonton masa kini.
Film-film di atas membuktikan bahwa karya Jane Austen bisa terus berkembang tanpa kehilangan daya tarik cerita aslinya. Versi lama umumnya memberi ruang bagi pengembangan karakter dan suasana klasik, sedangkan versi baru menawarkan interpretasi visual maupun gaya penceritaan yang lebih modern. Namun, perbedaan tersebut tidak selalu berarti satu versi lebih baik daripada yang lain karena setiap adaptasi memiliki kekuatan tersendiri.
Kalau kamu ingin menikmati romansa klasik dengan detail cerita yang lebih mendalam, versi lama bisa menjadi pilihan menarik. Sebaliknya, jika kamu menyukai sinematografi estetik dan pendekatan karakter yang lebih segar, versi baru layak masuk daftar tontonanmu.
























