Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Film Adaptasi Stephen King yang Mengecewakan Dibanding Novelnya

Pet Sematary
Pet Sematary (dok. Paramount Pictures/Pet Sematary)
Intinya sih...
  • Adaptasi film Stephen King sering gagal menangkap kedalaman dan emosi novelnya
  • Film Salem’s Lot (2024) terburu-buru, The Dark Tower (2017) terlalu ringkas, Pet Sematary (2019) kurang emosional
  • Needful Things (1993), The Dead Zone (1983), The Running Man (2025) juga kehilangan nuansa dan intensitas dari novelnya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Stephen King dikenal sebagai salah satu penulis horor paling produktif dan sering diadaptasi ke layar lebar. Banyak film yang diangkat dari novelnya sukses besar, tapi tidak sedikit juga yang hasilnya kurang memuaskan. Masalahnya bukan karena ceritanya jelek, melainkan versi filmnya gagal menangkap kedalaman dan emosi yang ada di bukunya.

Beberapa adaptasi film Stephen King terasa terlalu disederhanakan atau diubah arahnya demi durasi dan kebutuhan pasar. Padahal, kekuatan utama karya King sering justru ada di detail karakter serta pembangunan ketegangan yang pelan, tapi mantap. Berikut daftar film adaptasi Stephen King yang dianggap mengecewakan jika dibandingkan dengan novel aslinya.

1. Salem’s Lot (2024)

Salem’s Lot
Salem’s Lot (dok. HBO Max/Salem’s Lot)

Novel Salem’s Lot dikenal sebagai salah satu karya vampir terbaik Stephen King dengan atmosfer kota kecil yang pelan-pelan berubah mencekam. Versi bukunya membangun rasa takut secara bertahap, sehingga membuat pembaca merasa ikut terjebak di tengah ancaman yang makin nyata. Ketegangannya datang dari detail dan rasa tidak nyaman.

Adaptasi film 2024 justru terasa terburu-buru dan kurang menggali rasa horor tersebut. Alur ceritanya memang masih sama, yakni tentang kota yang disusupi vampir, tapi nuansa slow burn yang jadi kekuatan utama novel terasa hilang. Ritmenya terasa tidak cukup cepat, tapi juga tidak cukup dalam untuk bikin merinding. Hasilnya jadi terasa datar untuk ukuran cerita sebesar ini.

2. The Dark Tower (2017)

film The Dark Tower
film The Dark Tower (dok. Sony Pictures/The Dark Tower)

Seri The Dark Tower adalah proyek ambisius Stephen King yang menggabungkan fantasi, horor, dan fiksi ilmiah dalam skala besar. Dunia ceritanya kompleks dan penuh mitologi internal yang saling terhubung. Banyak penggemar berharap adaptasi filmnya bisa jadi awal franchise epik baru.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Filmnya terasa seperti ringkasan super padat dari materi yang sangat panjang. Banyak elemen penting dihilangkan atau diubah, sehingga ceritanya terasa dangkal. Baik sebagai adaptasi maupun sebagai film berdiri sendiri, hasilnya tetap terasa kurang menggigit dan membingungkan.

3. Pet Sematary (2019)

Pet Sematary
Pet Sematary (dok. Paramount Pictures/Pet Sematary)

Novel Pet Sematary sering disebut sebagai salah satu buku Stephen King paling gelap dan emosional. Ceritanya bukan cuma soal horor supranatural, tapi juga tentang kehilangan dan obsesi manusia melawan kematian. Dampak emosinya sangat kuat di versi buku.

Film versi 2019 mencoba memberi sentuhan baru, termasuk beberapa perubahan besar di alur cerita. Namun, perubahan itu justru mengurangi kekuatan tragis dan rasa ngeri yang seharusnya jadi inti cerita. Ketakutannya ada, tapi tidak menghantam secara emosional. Dibanding membaca novelnya, pengalaman menontonnya terasa jauh lebih ringan.

4. Needful Things (1993)

Needful Things
Needful Things (dok. Columbia Pictures/Needful Things)

Needful Things adalah novel panjang yang membangun konflik secara perlahan di sebuah kota kecil. Toko misterius yang menjual barang sesuai keinginan terdalam warga menjadi pemicu kekacauan sosial yang meningkat sedikit demi sedikit. Menariknya, horor di sini datang dari sifat manusia sendiri.

Versi filmnya kesulitan memadatkan cerita yang sangat luas ini. Banyak karakter dan konflik terasa dipercepat, sehingga dampaknya tidak maksimal. Kekacauan tetap ada, tapi tidak terasa seintens di buku. Cerita yang seharusnya terasa seperti bom waktu malah jadi seperti rangkaian kejadian aneh yang lewat begitu saja.

5. The Dead Zone (1983)

The Dead Zone
The Dead Zone (dok. ACFC/The Dead Zone)

Novel The Dead Zone menghadirkan premis menarik tentang pria yang bisa melihat masa depan setelah koma panjang. Stephen King menggabungkan drama, tragedi, dan thriller politik dengan cukup seimbang. Pembaca diajak masuk ke dilema moral yang berat.

Filmnya punya beberapa momen kuat, tapi alurnya terasa terlalu diringkas. Pengembangan karakter utama tidak sedalam di novel sehingga konflik batinnya kurang terasa. Meski ada yang menganggap film ini cukup bagus, banyak pembaca buku merasa ada lapisan emosi yang hilang saat dipindahkan ke layar lebar.

6. The Running Man (2025)

The Running Man
The Running Man (dok. Paramount Pictures/The Running Man)

Novel The Running Man adalah thriller distopia yang keras dan penuh rasa putus asa. Nuansanya gelap, brutal, dan sangat satir terhadap budaya tontonan dan kekuasaan media. Versi bukunya terasa tegang dan kejam dari awal sampai akhir.

Adaptasi 2025 memang lebih dekat ke materi sumber dibanding versi lama, tapi tetap terasa lebih aman dari novelnya. Filmnya cukup menghibur sebagai tontonan aksi, tetapi kehilangan rasa nekat dan tekanan psikologis yang membuat bukunya begitu mengguncang. Intensitasnya menurun demi membuatnya lebih ramah penonton umum.

Adaptasi film Stephen King memang selalu menarik untuk dibahas karena perbandingannya hampir pasti muncul. Buku-bukunya sering menawarkan pengalaman yang lebih emosional dibanding versi layar lebarnya. Dari daftar film Stephen King di atas, mana yang menurutmu paling terasa mengecewakan saat ditonton setelah membaca bukunya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More

The Changcuters akan Tur di UK, Akhirnya Hijrah ke London!

11 Feb 2026, 13:54 WIBHype