Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Wuthering Heights Gak Boleh Ditonton Anak di Bawah Umur?

Wuthering Heights 2.jpeg
Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)
Intinya sih...
  • Wuthering Heights diberi rating D17 (17 tahun ke atas) oleh LSF
  • Film ini memiliki banyak adegan seksual dan BDSM yang tidak cocok untuk anak di bawah 17 tahun
  • Anak-anak belum siap menerima konten dewasa seperti seks, kekerasan relasi, atau dinamika emosional ekstrem
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Wuthering Heights akhirnya tayang di Indonesia mulai 11 Februari 2026. Versi terbaru ini merupakan penafsiran personal sutradara Emerald Fennell atas novel legendaris karya Emily Brontë dengan fokus pada hubungan cinta yang intens dan destruktif antara Heathcliff dan Catherine "Cathy" Earnshaw.

Alih-alih roman klasik yang lembut, Wuthering Heights justru tampil gelap, sensual, dan emosional. Inilah alasan utama kenapa film ini secara tegas tidak dianjurkan untuk penonton di bawah umur.

1. Wuthering Heights diberi rating D17 (17 tahun ke atas)

Wuthering Heights.jpeg
Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)

Artinya, penonton berusia di bawah 17 tahun tidak dianjurkan menyaksikan film ini. Di Indonesia, klasifikasi usia ditetapkan oleh LSF (Lembaga Sensor Film) dengan kategori seperti Semua Umur, 13+, 17+, dan 21+. Rating ini dibuat sebagai panduan orangtua, bukan sekadar formalitas.

Perlu dicatat, baik LSF maupun pihak bioskop biasanya hanya memberi informasi rating, bukan melarang secara aktif anak-anak masuk ke studio. Jadi, peran terbesar tetap ada di tangan orangtua atau pendamping. Kalau sudah begini, kontrol sepenuhnya kembali ke keluarga.

2. Wuthering Heights memiliki banyak adegan seksual dan BDSM

Wuthering Heights.jpeg
Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)

Sejak awal, Wuthering Heights versi Emerald Fennell dipenuhi adegan kekerasan emosional, relasi toksik, serta aktivitas seksual yang cukup eksplisit, baik ditampilkan langsung maupun lewat simbolisme visual.

Ini juga bukan adaptasi yang "kalem." Fennell secara sadar membuat versi yang jauh lebih "seksi" dan provokatif dibanding adaptasi sebelumnya. Tema obsesif, dominasi, dan hubungan tidak sehat menjadi menu utama film ini, yang jelas bukan konsumsi aman untuk anak-anak maupun remaja awal di bawah 17 tahun.

3. Alasan untuk tidak mengajak anak-anak menonton Wuthering Heights

Wuthering Heights 5.jpeg
Wuthering Heights (dok. Warner Bros. Pictures/Wuthering Heights)

Dari sudut padang biologis, mental anak belum sepenuhnya siap menerima konten dewasa seperti seks, kekerasan relasi, atau dinamika emosional ekstrem. Beberapa risiko yang bisa muncul jika anak menonton konten seperti ini antara lain:

  • Anak jadi mudah cemas atau mengalami mimpi buruk
  • Sulit tidur karena terbawa suasana film
  • Bingung memahami relasi orang dewasa yang rumit dan tidak sehat
  • Trauma ringan akibat paparan visual atau tema yang terlalu berat

Efek-efek ini mungkin terlihat sepele, tapi bisa berdampak pada aktivitas belajar, bermain, hingga kondisi emosional anak sehari-hari.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk menjelaskan bahwa rating usia bukan dibuat untuk "melarang," melainkan untuk melindungi kesehatan mental anak agar tidak dipaksa dewasa sebelum waktunya. Jika anak penasaran karena filmnya sedang ramai dibicarakan, cobalah alihkan dengan kegiatan lain atau tontonan yang lebih sesuai usia mereka.

Jika kamu sendiri penasaran dengan versi Wuthering Heights yang gelap ini, silakan tonton di bioskop. Tapi pastikan sudah cukup umur, ya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More

10 Rekomendasi Anime Romantis Rilis 2026, Cocok Ditonton di Hari Valentine

11 Feb 2026, 14:28 WIBHype