Marlon Brando merupakan salah satu aktor paling berpengaruh dalam sejarah perfilman Hollywood. Namanya identik dengan akting natural, karakter yang kuat, dan sejumlah film klasik yang sampai sekarang masih dianggap penting. Namun, tidak semua film Brando mampu melewati ujian waktu dengan baik.
Film Marlon Brando yang Dulu Dipuji Tapi Kini Sulit Dinikmati

- Lima film Marlon Brando yang dahulu dipuji kini dinilai sulit dinikmati karena representasi ras, budaya, dan sejarahnya bermasalah bagi penonton modern.
- The Teahouse of the August Moon, Sayonara, dan Viva Zapata! dikritik atas penggunaan whitewashing, yellowface, brownface, serta penggambaran karakter Asia dan Meksiko yang stereotipikal.
- The Nightcomers terasa janggal karena aksen Irlandia Brando, sementara Last Tango in Paris menuai kontroversi setelah Maria Schneider mengungkap pengalaman emosional saat syuting adegan seksual.
Beberapa filmnya memang pernah mendapat pujian kritikus, penghargaan, bahkan dianggap sebagai karya penting pada masanya. Sayangnya, ketika dilihat dari sudut pandang penonton modern, sejumlah judul justru terasa bermasalah karena cara menggambarkan ras, budaya, sejarah, hingga proses produksi yang menyisakan persoalan etika. Berikut lima film Marlon Brando yang dulu dipuji tapi kini sulit dinikmati.
1. The Teahouse of the August Moon (1956)

The Teahouse of the August Moon (dok. MGM/The Teahouse of the August Moon) Dalam The Teahouse of the August Moon, Marlon Brando memerankan Sakini, seorang penerjemah Jepang yang membantu pasukan Amerika di Okinawa. Film ini sebenarnya ingin mengangkat pertemuan budaya Jepang dan Amerika serta menunjukkan bagaimana kedua pihak perlahan belajar memahami satu sama lain. Masalahnya, niat tersebut justru bertabrakan dengan cara karakter Sakini digambarkan.
Brando menggunakan penampilan dan gaya bicara yang sangat dibuat-buat sehingga sosoknya terasa seperti karikatur orang Jepang, bukan karakter manusia yang realistis. Praktik aktor kulit putih memerankan karakter dari ras atau etnis lain memang masih cukup lazim di Hollywood pada era tersebut, tetapi kini hal itu dipandang jauh lebih problematis. Bahkan pada akhir 1940-an, sudah ada suara dari kalangan Hollywood yang mengkritik penggunaan aktor kulit putih untuk memerankan karakter non-kulit putih.
2. The Nightcomers (1971)

The Nightcomers (Dok. Embassy Pictures/The Nightcomers) Sebelum kembali menjadi salah satu bintang terbesar Hollywood lewat The Godfather, karier Marlon Brando sempat mengalami masa yang kurang bersinar. Salah satu film yang muncul pada periode tersebut adalah The Nightcomers, sebuah prekuel dari cerita horor klasik The Turn of the Screw. Brando berperan sebagai Peter Quint, karakter yang kemudian dikaitkan dengan berbagai peristiwa misterius dalam kisah aslinya.
Perannya bahkan membawanya mendapatkan nominasi BAFTA untuk Aktor Terbaik. Namun, reputasi film ini terasa lebih aneh jika ditonton sekarang. Salah satu hal yang paling sering menjadi bahan lelucon adalah keputusan Brando untuk menggunakan aksen Irlandia yang dianggap tidak meyakinkan. The Nightcomers memang tidak seproblematis judul lain, tetapi nuansanya tetap terasa janggal.
3. Sayonara (1957)

Sayonara (Pennebeker Prod./Sayonara) Sayonara pada awalnya merupakan salah satu film besar dalam karier Marlon Brando. Ia memainkan Major Lloyd “Ace” Gruver, seorang perwira Amerika yang ditempatkan di Jepang dan jatuh cinta kepada Hana-ogi, perempuan Jepang yang diperankan Miiko Taka. Kisah cinta mereka menghadapi persoalan ras, status sosial, serta aturan yang melarang pernikahan antara orang dari kelompok ras berbeda di Amerika.
Film ini mendapat sambutan luar biasa dan memperoleh 10 nominasi Oscar, dengan beberapa di antaranya berakhir sebagai kemenangan. Meski membawa pesan tentang toleransi rasial, Sayonara kini tidak bisa dilepaskan dari persoalan representasinya. Cara perempuan Jepang digambarkan dalam hubungan dengan pria kulit putih dianggap terlalu menyederhanakan dan cenderung menempatkan mereka dalam posisi yang tunduk. Film ini juga menggunakan yellowface melalui Ricardo Montalban untuk memerankan karakter Jepang-Amerika, sesuatu yang semakin sulit diterima oleh penonton modern.
4. Viva Zapata! (1952)

Viva Zapata! (Dok. MPTV/Viva Zapata!) Dalam Viva Zapata!, Brando memerankan Emiliano Zapata, tokoh revolusioner Meksiko yang menjadi simbol perjuangan rakyat melawan ketidakadilan. Film arahan Elia Kazan ini dulu mendapat respons positif dan bahkan membuat Brando meraih penghargaan akting di Festival Film Cannes. Dari sisi performa, peran tersebut menunjukkan keseriusan Brando dalam mendalami karakter dan sejarah yang ia mainkan.
Namun, persoalan terbesar film ini justru muncul dari cara Hollywood menggambarkan masyarakat Meksiko. Brando dan sejumlah aktor kulit putih lainnya tampil dengan riasan brownface untuk memainkan karakter Meksiko, sementara pemeran Meksiko yang benar-benar terlibat jumlahnya sangat terbatas. Ironisnya, Anthony Quinn, salah satu aktor Meksiko dalam film tersebut, justru memainkan karakter antagonis yang digambarkan sebagai pengkhianat.
5. Last Tango in Paris (1972)

Last Tango in Paris (Dok. MGM/Last Tango in Paris) Last Tango in Paris merupakan salah satu film paling kontroversial dalam daftar ini sekaligus salah satu karya yang pernah mendapat pujian luar biasa. Film Bernardo Bertolucci tersebut dibintangi oleh Brando sebagai Paul, seorang pria Amerika yang menjalin hubungan seksual dengan Jeanne, karakter yang diperankan oleh Maria Schneider. Ketika dirilis pada 1972, film ini dipuji sejumlah kritikus sebagai karya penting dan bahkan dianggap sebagai salah satu pencapaian besar sinema era 1970-an.
Namun, reputasinya kemudian berubah drastis setelah muncul kesaksian Schneider mengenai proses pembuatan salah satu adegan paling kontroversialnya. Schneider mengungkapkan bahwa ia tidak diberi tahu sebelumnya mengenai detail adegan seksual yang melibatkan penggunaan mentega sebelum proses syuting berlangsung. Ia kemudian mengatakan bahwa pengalaman tersebut membuatnya merasa terhina dan mengalami tekanan secara emosional.
Film klasik memang sering kali perlu dilihat sesuai konteks zamannya, tetapi bukan berarti semuanya harus diterima begitu saja. Dari kelima film Marlon Brando yang dulu dipuji tapi kini sulit dinikmati, mana yang menurutmu paling susah ditonton jika menggunakan perspektif masa kini?






















