Terkadang gertakan langsung tidak bisa mengubah banyak hal, yang ada malah kita berdebat tanpa ujung. Inilah yang mungkin menciptakan satir, yakni seni mengungkapkan ekspresi lewat sindiran. Tak harus kocak, tentunya. Sindiran itu bisa dikemas dengan bungkus yang nampol, bahkan tragis. Tujuan intinya adalah memprovokasi pikiran penonton agar mau merenungkan apa yang salah dari isu tertentu.
6 Film yang Menyindir Maskulinitas Normatif, Siap Tertampol

- Artikel membahas enam film satir yang menyoroti sisi gelap maskulinitas normatif dan bagaimana budaya patriarki membentuk perilaku pria dalam berbagai konteks sosial.
- Film seperti American Psycho, The Art of Self-Defense, hingga Our Sunhi menggambarkan karakter pria yang terjebak dalam standar maskulinitas toksik melalui kisah psikologis, drama, dan komedi.
- Keenam film tersebut mengajak penonton merenungkan ulang konsep kejantanan tradisional serta dampaknya terhadap relasi sosial dan identitas diri di era modern.
Termasuk isu maskulinitas, nih. Sering disebut dan dibicarakan, tetapi masih banyak yang salah kaprah dan menganggap maskulinitas normatif yang kita percaya sebagai sebuah kewajaran, padahal toksik. Saat amarah tidak bisa membuat orang berubah, munculah berbagai karya seni satir yang menyindir maskulinitas. Enam film yang menyindir maskulinitas normatif berikut adalah beberapa contoh menariknya.
1. American Psycho (2000)

American Psycho adalah sebuah film thriller psikologis yang secara sempurna menyindir maskulinitas toksik lewat sesosok pria yang secara umum ideal dalam pandangan tatanan sosial normatif. Ia punya karier cemerlang, kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan berbicara yang baik, dan penampilannya necis. Namun, di balik itu semua, ia ternyata seorang sosiopat yang punya “hobi” mengerikan. Patrick Bateman sang lakon diciptakan oleh Mary Harron sebagai gambaran pria-pria yang sekilas diuntungkan oleh sistem kapitalisme dan patriarki, tetapi sebenarnya mengalami kegamangan yang sulit dijelaskan.
Genre: satir, thriller-psikologi
Pemain: Christian Bale, Jared Leto
Sutradara: Mary Harron
2. The Art of Self-Defense (2019)

Lelah dianggap lemah dan tak berdaya, Casey, pemuda 20 tahunan, memutuskan untuk belajar seni bela diri di sebuah pusat latihan karate (dojo). Kebetulan pengurus dan mentornya menggunakan prinsip-prinsip yang ternyata cukup ekstrem dan asertif. Casey yang awalnya canggung dan ragu pada akhirnya terdoktrin. Ironisnya, apa yang Casey pelajari di dojo tersebut membuatnya nekat melakukan satu hal tak terduga. Seolah jadi senjata makan tuan untuk si pengurus sekaligus mentor dojo tersebut.
Genre: satir, thriller
Pemain: Jesse Eisenberg, Imogen Poots
Sutradara: Riley Stearn
3. Crash Land (2026)

Crash Land mengikuti aksi dua pemuda yang lelah jadi aktor stunt dan berniat untuk bikin film mereka sendiri. Sutradara debutan Dempsey Byrk secara tersirat sedang mengajak kita mengamati dinamika persahabatan antarlelaki yang cukup unik. Apalagi dengan latar belakang tokohnya yang lekat dengan adegan berbahaya dan performa fisik, Byrk ingin membahas kecenderungan pria mengambil risiko tak perlu untuk menunjukkan afeksi atau membentuk koneksi.
Genre: satir, drama
Pemain: Finn Wolfhard, Gabriel LaBelle
Sutradara: Dempsey Bryk
4. The Death of Stalin (2017)

Bukan dokumenter, The Death of Stalin adalah reka ulang peristiwa kematian si diktator bertangan besi dari Uni Soviet dalam bentuk parodi. Diceritakan orang-orang di sekitar Stalin, seperti lawan dan kawan politik serta kerabatnya, justru sibuk mempertahankan kepentingan masing-masing. Film ini memang kuat di plot, tetapi juga punya karakter yang seru untuk dikupas tuntas watak dan posisinya. Kebanyakan dari mereka pria yang sebenarnya dihantui rasa insecure, tetapi cara mereka menutupinya beragam, kocak, tetapi familier.
Genre: satir politik, komedi
Pemain: Rupert Friend, Steve Buscemi
Sutradara: Armando Iannucci
5. Our Sunhi (2013)

Hong Sang Soo memang jagonya film satir dan drama sosial. Salah satu yang menyindir konsep maskulinitas normatif adalah Our Sunhi. Lakon kita sebenarnya Sunhi, seorang perempuan muda yang berniat melanjutkan pendidikan tinggi ke Amerika Serikat. Untuk keperluan itu, ia butuh surat rekomendasi dari dosen pembimbingnya dulu. Pada momen itulah, ia justru harus jadi korban mansplaining (perilaku pria menjelaskan sesuatu kepada perempuan seolah ia paling benar sehingga terkesan menggurui dan sok tahu). Tak hanya si dosen, pada waktu berdekatan selama proses pendaftaran beasiswa itu ia juga bertemu 2 pria lain dari masa lalunya yang ternyata melakukan hal yang sama. Lewat film tersebut, Hong Sang Soo seolah ingin menyindir pria-pria yang egonya terluka ketika bertemu perempuan dengan ambisi.
Genre: satir, drama
Pemain: Jung Yu Mi, Kim Sang Joong
Sutradara: Hong San Soo
6. Daytime Drinking (2008)

Daytime Drinking bisa masuk film Korsel lain yang menyindir maskulinitas normatif. Film indie ini berpusat pada Hyuk Jin, pemuda yang baru diputus pacarnya dan memutuskan untuk melakoni sebuah perjalanan ke Gangwon-do. Ia berharap dengan menaklukan tempat baru, dirinya akan merasa lebih baik. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Hyuk Jin gak sengaja bertemu beberapa pria dan terjebak dalam siklus mabuk yang tak ada habisnya. Bisa ditonton sebagai double feature bareng Another Round (2020), nih.
Genre: satir, petualangan
Pemain: Song Sam Dong, Yuk Sang Yeop
Sutradara: Noh Young Seok
Maskulinitas normatif yang kita anggap wajar punya banyak sisi gelap yang berhasil dibedah oleh 6 film di atas. Plot dari enam film yang menyindir maskulinitas normatif gak pasaran, sinefil harus nonton biar makin melek sosial.














![[REVIEW] A Moment of Romance, Film Ikonik Andy Lau Era 90-an](https://image.idntimes.com/post/20260223/ezgif-8d53136e5def6143_f7b67fc9-41db-47e5-9eb0-480759c6b5d8.jpg)



![[REVIEW] Devil May Cry Season 2—Lebih Dekat ke Game!](https://image.idntimes.com/post/20260519/magen_1cd5cf9b-5895-4e19-8c43-c02309f6e852.jpg)
