Museum Passport: Liburan ke Museum Jadi Makin Seru dan Nagih!

Ada kabar menarik untuk kamu yang senang mengunjungi museum. Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) akan merilis program baru bernama Museum Passport atau paspor museum. Program ini dirancang untuk membuat pengalaman berkunjung ke museum terasa lebih menarik, interaktif, dan menyenangkan bagi masyarakat.
Kehadiran Museum Passport menjadi salah satu upaya untuk menarik lebih banyak wisatawan. Khususnya generasi muda, agar semakin tertarik menjelajahi museum-museum di Indonesia. Selama ini museum sering dianggap sebagai tempat yang hanya berisi benda bersejarah. Padahal, museum juga bisa menjadi ruang belajar sekaligus destinasi wisata yang seru untuk dieksplorasi.
Museum Passport resmi diperkenalkan bertepatan dengan Hari Museum Internasional yang diperingati setiap 19 Mei. Melalui program ini, pengalaman mengunjungi museum diharapkan bukan sekadar melihat koleksi, tetapi juga menghadirkan sensasi berburu pengalaman baru.
1. Jadwal rilis Museum Passport
Kepala MCB, Esti Nurjadin, menyebutkan bahwa Museum Passport akan mulai dirilis pada 16 Juni 2026, bertepatan dengan hari jadi Museum dan Cagar Budaya (MCB).
Saat ini, sudah ada 18 museum dan 34 cagar budaya di bawah pengelolaan MCB yang siap menyediakan stempel bagi para pengunjung. Program ini nantinya tidak hanya berlaku untuk museum nasional saja, tetapi juga akan diperluas ke museum tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi.
Tak hanya itu, museum swasta di berbagai daerah juga direncanakan ikut bergabung. Dengan semakin banyaknya lokasi yang terlibat, pengunjung memiliki lebih banyak pilihan destinasi untuk berburu cap Museum Passport.
2. Cara mendapatkan Museum Passport

Museum Passport dapat dibeli melalui IHA Shop atau toko suvenir yang berada di bawah pengelolaan MCB. Ada pula rencana penjualan Museum Passport di toko buku, sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat luas. Dengan begitu, calon pengunjung bisa mendapatkan paspor museum sebelum memulai kunjungan ke berbagai museum dan cagar budaya.
3. Terinspirasi dari tren koleksi cap perjalanan
Ide Museum Passport ternyata berasal dari tren mengumpulkan cap dalam berbagai kegiatan perjalanan. Konsep ini dinilai cukup dekat dengan kebiasaan generasi Z dan Alpha yang menyukai sesuatu yang bersifat analog dan bisa dikoleksi.
Melalui konsep tersebut, pengalaman mengunjungi museum diharapkan menjadi lebih menyenangkan. Pengunjung tidak lagi hanya datang untuk melihat koleksi sejarah, tetapi juga bisa merasakan pengalaman traveling sambil berburu cap unik dari berbagai tempat.
Dengan hadirnya Museum Passport, kunjungan ke museum bisa menjadi aktivitas yang lebih seru dan personal. Selain menambah wawasan, kamu juga bisa mengumpulkan kenang-kenangan dalam satu buku.
Seru banget, kan?! Jadi ketagihan liburan ke museum, deh!


















