7 Film Perang Berkualitas Tinggi yang Sepi Penonton

- Tujuh film perang berkualitas tinggi ini gagal menarik banyak penonton meski mendapat pujian kritikus dan melibatkan sutradara serta aktor ternama.
- Faktor seperti tema berat, waktu rilis yang kurang tepat, hingga ekspektasi pasar yang meleset menjadi penyebab utama kegagalan komersialnya.
- Walau rugi secara finansial, film-film tersebut tetap diakui karena kekuatan cerita, akting solid, dan pesan moral mendalam tentang sisi manusia dalam perang.
Film perang identik dengan adegan pertempuran besar, ledakan spektakuler, dan kisah heroik yang membakar semangat. Gak jarang, genre ini juga mendapat pujian kritikus karena kedalaman cerita dan kualitas produksinya. Namun anehnya, tidak semua film perang berkualitas tinggi berhasil menarik penonton ke bioskop, lho.
Beberapa di antara film perang justru mengalami kerugian besar meski disutradarai oleh nama besar atau dibintangi oleh aktor papan atas. Faktor tema yang terlalu berat, jadwal rilis yang kurang tepat, hingga ekspektasi pasar yang meleset bisa membuat film bagus malah sepi penonton.
Coba cek, ketujuh film perang berkualitas tinggi yang malah gagal secara komersial ini apakah sudah pernah kamu tonton? Kalau belum, ini saatnya, sih!
1. Devotion (2022)

Disutradarai oleh J. D. Dillard, Devotion mengangkat kisah nyata Jesse Brown, penerbang Angkatan Laut AS kulit hitam pertama. Film ini menyoroti persahabatannya dengan Tom Hudner di tengah panasnya Perang Korea. Visualnya dipuji karena menggunakan pesawat asli dan efek praktis, bukan sekadar CGI.
Dengan anggaran sekitar 90 juta dolar AS atau sekitar Rp1,4 triliun, film ini sayangnya hanya meraup sekitar 21 juta dolar AS atau setara Rp330 miliar secara global. Angka itu jelas jauh dari titik impas. Meski akting Jonathan Majors dan Glen Powell mendapat apresiasi, persaingan ketat saat musim liburan membuat film ini tenggelam di box office.
2. Casualties of War (1989)

Film karya Brian De Palma ini mengangkat kisah kelam dari Perang Vietnam. Casualties of War berfokus pada konflik moral seorang tentara muda yang menentang tindakan keji atasannya. Alih-alih menonjolkan aksi, film ini lebih banyak mengeksplorasi dilema etika dan sisi gelap perang.
Diproduksi dengan budget 22,5 juta dolar AS atau sekitar Rp350 miliar, film ini hanya menghasilkan 18,6 juta dolar AS (sekitar Rp290 miliar). Tema yang sangat suram membuat penonton umum enggan datang ke bioskop. Meski begitu, performa Michael J. Fox dan Sean Penn tetap dikenang sebagai salah satu yang terbaik dalam film bertema Vietnam.
3. Jarhead (2005)

Disutradarai oleh Sam Mendes, Jarhead menawarkan pendekatan berbeda terhadap film perang modern. Alih-alih penuh baku tembak, film ini justru menyoroti kebosanan dan tekanan psikologis tentara selama Perang Teluk. Fokusnya lebih ke mentalitas prajurit dibanding adegan laga.
Dengan biaya produksi sekitar 70 juta dolar AS (sekitar Rp1,1 triliun), film ini meraup 97 juta dolar AS atau sebanyak Rp1,5 triliun. Sekilas terlihat untung, tapi setelah dipotong biaya pemasaran dan distribusi, hasilnya tidak cukup untuk menghasilkan laba signifikan. Penonton yang berharap aksi intens mungkin merasa ekspektasinya tidak terpenuhi.
4. Flags of Our Fathers (2006)

Disutradarai oleh Clint Eastwood, Flags of Our Fathers mengupas sisi lain dari foto legendaris pengibaran bendera di Iwo Jima. Film ini tidak hanya menampilkan pertempuran, tapi juga bagaimana para tentara dijadikan simbol propaganda.
Dengan anggaran sekitar 90 juta dolar AS atau sekitar Rp1,4 triliun, film ini hanya meraih 65 juta dolar AS tau senilai Rp1 triliun. Struktur cerita yang tidak linear dan pendekatan yang lebih reflektif membuatnya kurang ramah bagi penonton umum. Padahal secara teknis dan sinematografi, film ini sangat solid.
5. The Thin Red Line (1998)

Karya puitis dari Terrence Malick ini sering disebut sebagai salah satu film perang paling filosofis. The Thin Red Line mengikuti sekelompok tentara dalam Kampanye Guadalcanal, tapi dengan pendekatan reflektif dan monolog batin yang mendalam.
The Thin Red Line dibuat dengan biaya 52 juta dolar AS (sekitar Rp800 miliar) dan menghasilkan 98 juta dolar AS atau sebanyak Rp1,5 triliun. Meski tampak cukup tinggi, biaya distribusi membuatnya sulit disebut sukses finansial. Dirilis di tahun yang sama dengan Saving Private Ryan, film ini kalah populer meski meraih tujuh nominasi Oscar.
6. Empire of the Sun (1987)

Disutradarai oleh Steven Spielberg, Empire of the Sun menceritakan pengalaman seorang anak Inggris yang terpisah dari orangtuanya saat invasi Jepang ke Shanghai. Film ini menjadi salah satu penampilan awal Christian Bale yang sangat mengesankan.
Dengan anggaran 35 juta dolar AS atau setara Rp550 miliar, film ini hanya meraup 22 juta dolar AS (sekitar Rp340 miliar). Durasi panjang dan tema yang berat membuatnya kurang menarik bagi pasar saat itu. Meski gagal secara komersial, kini film ini dianggap sebagai salah satu karya penting Spielberg.
7. Paths of Glory (1957)

Disutradarai oleh Stanley Kubrick, Paths of Glory adalah film antiperang yang sangat berani pada masanya. Berlatar Perang Dunia I, film ini mengikuti Kolonel Dax yang membela tiga prajurit yang dijadikan kambing hitam oleh petinggi militer.
Karena kritik tajam terhadap institusi militer, film ini sempat dilarang di beberapa negara Eropa. Pembatasan tersebut membuat potensi pendapatannya terhambat dan menjadikannya gagal secara finansial saat rilis awal. Kini, film ini justru dianggap sebagai salah satu film perang terbaik sepanjang masa.
Film perang terbaik tidak selalu identik dengan kesuksesan box office. Meski gagal secara finansial, kualitas cerita, akting, dan pesan moralnya tetap membuat film-film ini bertahan dalam sejarah sinema. Dari daftar ini, film mana yang menurutmu paling layak mendapat kesempatan kedua dari penonton?


















