Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Film Post-Apocalyptic Underrated dari Berbagai Negara

4 min read
7 Film Post-Apocalyptic Underrated dari Berbagai Negara
Second Origin (dok. Produccions Audiovisuals Antàrtida/Second Origin)
  • Artikel merekomendasikan tujuh film post-apocalyptic underrated dari Prancis, Spanyol, Jepang, Cina, Inggris, Meksiko, dan Selandia Baru sebagai alternatif tontonan di luar Hollywood.
  • Kisah-kisahnya menyoroti penyintas menghadapi runtuhnya peradaban, mulai dari bencana global, wabah, banjir ekstrem, hilangnya matahari, hingga lenyapnya populasi Bumi.
  • Pendekatannya beragam, mencakup drama keluarga, romansa, horor, dan fiksi ilmiah, dengan fokus pada isolasi, moralitas, ketergantungan teknologi, serta perjuangan manusia bertahan hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tema dunia pascakiamat memang selalu sukses bikin penonton merinding. Genre ini mampu bikin kita bertanya-tanya bagaimana manusia bakal bertahan hidup ketika hukum dan moralitas sudah tidak lagi berlaku.

Sayangnya, perhatian penonton sering kali hanya tertuju pada film-film mainstream asal Hollywood. Padahal, sineas dari berbagai belahan dunia juga punya film post-apocalyptic dengan cerita dan pendekatan yang gak kalah menarik.

Nah, kalau kamu lagi bosan dengan tontonan post-apocalyptic dari Hollywood, tujuh film underrated dari berbagai negara ini bisa kamu jajal. Ada dari Jepang hingga Selandia Baru!

  1. 1. Time of the Wolf (2003)

    Time of the Wolf
    Time of the Wolf (dok. Les Films du Losange/Time of the Wolf)

    Film asal Prancis ini menggambarkan kehancuran peradaban dengan cara yang dingin dan realistis. Kisahnya berfokus pada sebuah keluarga yang melarikan diri ke pedesaan setelah bencana global menghancurkan tatanan sosial. Sayangnya, mereka justru mendapati rumah peristirahatan mereka telah dikuasai oleh orang asing bersenjata.

    Sang sutradara, Michael Haneke, sengaja menghindari semua elemen fiksi ilmiah maupun efek visual yang megah di sini. Sebagai gantinya, kamu bakal melihat proses runtuhnya moralitas manusia saat hukum sudah tidak berfungsi lagi.

  2. 2. Second Origin (2015)

    Second Origin
    Second Origin (dok. Produccions Audiovisuals Antàrtida/Second Origin)

    Pada 2015, Spanyol meluncurkan proyek adaptasi novel fiksi ilmiah yang cukup ambisius, tapi sayangnya tidak banyak mendapat perhatian. Second Origin diangkat dari novel klasik Mecanoscrit del segon origen karya Manuel de Pedrolo. Gak cuma mengangkat kisah post-apocalyptic, film ini juga menyelipkan romansa antara dua karakter utamanya.

    Ceritanya berpusat pada Alba (Rachel Hurd-Wood) dan Dídac (Andrés Batista/Ibrahim Mané), dua penyintas yang selamat dari bencana misterius yang memusnahkan hampir seluruh umat manusia. Seiring berjalannya waktu, mereka pun mulai dekat dan memikirkan masa depan umat manusia.

  3. 3. Survival Family (2017)

    Survival Family
    Survival Family (dok. Fuji Television Network/Survival Family)

    Jepang selalu punya cara unik untuk menggambarkan peristiwa kiamat global dalam film, dan Survival Family menjadi buktinya. Film ini menceritakan sebuah keluarga asal Tokyo yang mendapati seluruh listrik dan baterai di dunia mati total secara misterius. Demi mencari sumber makanan, mereka pun nekat bersepeda ratusan kilometer ke wilayah pedesaan.

    Alih-alih menyajikan ketegangan yang berdarah-darah, Shinobu Yaguchi selaku sutradara mengemas Survival Family menjadi dramedi keluarga yang hangat. Meski begitu, film ini tetap memberikan sentilan soal ketergantungan manusia modern pada teknologi.

  4. 4. Last Sunrise (2019)

    Last Sunrise
    Last Sunrise (dok. Youku Pictures/Last Sunrise)

    Pencinta fiksi ilmiah dengan konsep kosmik bisa mencoba film post-apocalyptic indie asal Cina satu ini. Diproduksi dengan bujet terbatas, Last Sunrise tetap memiliki visual yang menawan meski dibuat dalam skala kecil. Film ini juga menawarkan premis yang cukup unik tentang kehidupan manusia ketika matahari tiba-tiba menghilang.

    Last Sunrise berlatar di masa depan ketika manusia sepenuhnya bergantung pada energi surya. Ketika matahari tiba-tiba padam dan menghilang, seorang astronom penyendiri terpaksa bekerja sama dengan tetangganya untuk mencari tempat perlindungan terakhir di tengah Bumi yang membeku dan gelap gulita.

  5. 5. The End We Start From (2023)

    The End We Start From
    The End We Start From (dok. BBC Film/The End We Start From)

    The End We Start From diawali dengan bencana yang terasa dekat dengan realitas. Krisis iklim ekstrem menyebabkan banjir besar yang menenggelamkan London dalam waktu singkat. Di tengah kekacauan tersebut, seorang ibu (Jodie Comer) yang baru saja melahirkan terpisah dari suaminya dan harus mengungsi bersama bayinya.

    Film asal Inggris garapan Mahalia Belo ini mengembuskan napas segar ke dalam genre post-apocalyptic lewat perspektif seorang ibu. Hasilnya terasa emosional tanpa perlu terlampau sering menampilkan kehancuran kota dalam skala besar.

  6. 6. Párvulos: Children of the Apocalypse (2024)

    Párvulos: Children of the Apocalypse
    Párvulos: Children of the Apocalypse (dok. Corazón Films/Párvulos: Children of the Apocalypse)

    Meksiko juga menyumbang salah satu hidden gem dalam daftar kurasi genre post-apocalyptic ini lewat Párvulos: Children of the Apocalypse. Film horor ini diisi dengan jajaran aktor muda yang mampu membangun atmosfer mencekam sepanjang ceritanya.

    Di pusat cerita ada tiga bocah bersaudara yang hidup terisolasi di sebuah gubuk di tengah hutan setelah wabah penyakit memusnahkan peradaban. Mereka harus berburu dan menjaga satu sama lain dari ancaman dunia luar. Namun, di balik kepolosan itu, ada rahasia kelam yang mereka sembunyikan rapat-rapat di ruang bawah tanah gubuk mereka.

  7. 7. The Quiet Earth (1985)

    The Quiet Earth
    The Quiet Earth (dok. Cinepro/The Quiet Earth)

    Daftar ini ditutup oleh film lawas asal Selandia Baru berjudul The Quiet Earth. Film ini bercerita tentang Zac Hobson (Bruno Lawrence), ilmuwan yang mendapati setiap manusia dan hewan di Bumi lenyap akibat efek samping dari proyek penelitian rahasia yang ia kerjakan. Rasa terisolasi pun pelan-pelan memengaruhi kewarasannya.

    Film karya Geoff Murphy ini merupakan salah satu pelopor film dengan konsep manusia terakhir di Bumi yang kosong, sebelum tema serupa banyak muncul dalam tontonan post-apocalyptic modern. Sebuah cult classic yang wajib kamu tonton setidaknya sekali seumur hidup!

    Film post-apocalyptic gak selamanya harus soal ledakan megah, CGI mahal, atau kehancuran kota ala Hollywood. Tujuh judul tadi membuktikan kalau atmosfer yang sepi, dingin, dan berfokus pada manusia juga bisa bikin merinding. Jadi, yakin masih mau nonton kisah pascakiamat yang itu-itu aja?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More