10 Film Reboot Paling Mengecewakan di Mata Kritikus, Awkward!

- Godzilla (1998) oleh Roland Emmerich mengecewakan kritikus dan penonton, dengan rating 20% dan 28% di Rotten Tomatoes.
- Pyscho (1998) garapan Gus Van Sant mendapat ulasan buruk, hanya menghasilkan 37 juta dolar AS dibandingkan anggaran 60 juta dolar AS.
- Planet of the Apes (2001) versi Tim Burton mendapat rating rendah, hanya 43% dari kritikus dan 27% dari penonton di Rotten Tomatoes.
Hollywood selalu mencari cara baru untuk membuat gebrakan yang berbeda. Contohnya saja seperti reboot alias pembuatan ulang film-film klasik. Para sinias biasanya akan membuat sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama. Apalagi film-film klasik tersebut berhasil sebelumnya, baik di box office maupun penilaian dari kritikus. Jadi, gak ada salahnya untuk membuat film yang berbeda dari sebelumnya, kan?
Sayangnya, nasib baik gak selalu datang. Studio yang membuat reboot film klasik ini justru gagal total, alih-alih mendapat keuntungan dan penilaian yang bagus dari kritikus. Terlebih lagi, mereka gak hanya punya judul yang terkenal, tetapi juga menggaet bintang besar atau sutradara hebat di dalamnya.
Nah, kali ini kita akan membahas reboot paling mengecewakan, entah itu gagal di box office atau menerima ulasan yang buruk. Yap, lebih buruk lagi, keduanya gagal, nih. Hal ini bisa terjadi karena naskahnya yang buruk, akting aktornya, desain karakter, atau ada hal lain. Berikut ini 10 film reboot paling buruk dalam perfilman yang bikin para kritikus merasa kecewa berat!
1. Godzilla (1998)

Roland Emmerich diumumkan sebagai sutradara film Godzilla setelah ia menyutradarai film Independence Day (1996) yang sangat sukses pada saat itu. Namun, film Godzilla yang digarapnya justru mengecewakan. Selain gagal di box office, film ini juga menjadi film terakhir dari trilogi Godzilla yang baru.
Salah satu faktornya adalah, film Godzilla karya Roland Emmerich sangat berbeda dengan film Godzilla produksi studio aslinya, yakni Toho, yang pertama kali debut pada 1954. Bahkan, monster di film Godzilla garapan Emmerich itu dianggap gak mirip sama sekali dengan Godzilla tahun 1954. Malah disebut-sebut mirip salah satu dinosaurus dari Jurassic Park, yang sangat sukses beberapa tahun sebelumnya.
Nah, menanggapi kritikan tersebut, Roland Emmerich menjelaskan dalam sesi tanya jawab Reddit pada 2012, "Versi Godzilla saya lebih realistis. Ia ramping, bergaya, dan tampak mengintimidasi. Jauh lebih baik daripada monster Toho itu."
Namun, baik kritikus maupun penonton masih gak setuju dengan jawaban Roland Emmerich. Kritikus ngasih rating yang sangat buruk yaitu 20 persen dan rating penonton hanya 28 persen di Rotten Tomatoes. Jadi kenapa, ya, Sony Pictures ngotot reboot film klasik Godzilla? Kenapa juga Ronald Emmerich menerima pekerjaan itu padahal jelas-jelas dia gak terlalu menghormati film aslinya?
2. Psycho (1998)

Psycho (1960) adalah film thriller terkenal yang dibintangi Anthony Perkins dan Janet Leigh. Film ini juga disutradarai Alfred Hitchcock. Psycho garapan Hitchcock ini bahkan melahirkan sebuah franchise dengan tiga sekuel yang terus menggaet Anthony Perkins.
Sayangnya, film reboot Psycho karya Gus Van Sant justru mendapat ulasan yang sangat buruk. Alasannya pun sangat beragam. Pertama, pemeran utama yang dipilih Gus Van Sant gak punya daya tarik seperti yang dipilih oleh pemeran Alfred Hitchcock. Dalam reboot Psycho, aktris Anne Heche yang berperan sebagai Marion Crane dianggap gak punya daya tarik layaknya Janet Leigh. Kemudian Vince Vaughn yang berperan sebagai Norman Bates dianggap gak punya karisma dan aktingnya canggung, jauh beda dengan Anthony Perkins.
Selain itu, dalam reboot Psycho, ada adegan-adegan yang dirasa gak perlu. Contohnya saja seperti Norman Bates yang melakukan masturbasi sambil melihat Marion Crane membuka pakaian di kamar hotelnya. Kesimpulannya, reboot Psycho gagal di box office, hanya menghasilkan 37 juta dolar AS atau setara dengan Rp620 miliar di seluruh dunia dibandingkan dengan anggarannya yang mencapai 60 juta dolar AS atau setara dengan Rp1 triliun. Ditambah lagi, film ini memenangkan Razzie Award untuk remake terburuk dan sutradara terburuk. Aduh!
3. Planet of the Apes (2001)

Di antara seri pertama film Planet of the Apes yang dibintangi Charlton Heston dan Roddy McDowell pada tahun 1960-an dan 70-an, dan seri kedua yang disutradarai oleh Matt Reeves dan Wes Ball pada tahun 2010-an dan 2020-an, punya versi cerita yang berbeda dan reboot-nya di kritisi. Nah, kalau reboot Planet of the Apes (2001) yang disutradarai oleh sutradara kawakan Tim Burton dan dibintangi aktor terkenal Mark Wahlberg, justru mengecewakan di mata kritikus. Meskipun begitu, film reboot ini menarik perhatian penonton di bioskop. Sayangnya, film ini justru menghentikan seri film Planet of the Apes.
Pasalnya, Tim Burton punya versi yang berbeda dalam menggarap Planet of the Apes. Meskipun film garapan Tim Burton ini terlihat luar biasa, tapi filmnya lebih mementingkan hiburan ketimbang membahas isu-isu yang diangkat dalam cerita aslinya. Selain itu, para aktornya yang berperan menjadi kera dianggap kurang sempurna karena riasan prostetiknya. Kemudian ada adegan di akhir film yang dianggap gak masuk akal.
Secara keseluruhan, gak mengherankan jika reboot Planet of the Apes ini menerima rating dari kritikus hanya 43 persen dan rating penonton bahkan lebih buruk lagi, yaitu 27 persen di Rotten Tomatoes. Mark Wahlberg sendiri mengakui kalau film itu memang mengecewakan. Namun ia menyalahkan perusahaan produksinya, yakni 20th Century Fox.
Mark Wahlberg bilang kepada MTV, yang dilansir FandomWire. "Mereka (studio) gak punya naskah yang tepat. Mereka menetapkan tanggal rilis sebelum Tim Burton syuting. Mereka terus mendorongnya ke arah yang salah."
4. RoboCop (2014)

Film RoboCop pertama kali tayang pada 1987. Film ini punya pandangannya yang jeli tentang berbagai hal, mulai dari media hingga kapitalisme. Selain itu, satirnya yang mengandung unsur kekerasan brutal peringkat R (Restricted), menjadikannya film hits dan melahirkan sebuah franchise. Meskipun film-film selanjutnya dianggap berkurang kualitasnya, tapi film RoboCop (1987) masih menjadi film terbaik. Itulah kenapa ada reboot untuk RoboCop yang dirilis pada 2014, meskipun hasilnya kurang memuaskan.
Meskipun akting Joel Kinnaman dan seluruh pemeran filmnya dipuji, beserta efek visual dan naskahnya, reboot RoboCop masih kalah dibandingkan film aslinya. Mungkin karena diberi peringkat PG-13 (bimbingan orangtua), sehingga gak ada aksi kekerasan brutal seperti film aslinya. Baik kritikus maupun penonton kompak mencela film tersebut. Kritikus merasa kalau reboot RoboCop melewatkan inti dari film aslinya, dan menimbulkan pertanyaan tentang apa sebenarnya poin yang ingin disampaikan dalam film ini.
5. Fantastic Four (2015)

Sebelum Marvel mendapatkan hak atas Fantastic Four dan membuat Fantastic Four: First Steps (2025), ada dua seri film Fantastic Four yang rilis pada 2005 dan 2007, yang dibintangi Jessica Alba dan Chris Evans, menjadi film superhero yang jelek. Namun, reboot Fantastic Four yang rilis tahun 2015 dianggap jauh lebih buruk. Reboot Fantastic Four yang disutradarai Josh Trank ini sering dicerca sebagai salah satu kegagalan box office paling terkenal sepanjang masa.
Yap, reboot Fantastic Four (2015) ini hanya meraup 167,8 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,8 triliun, gak sebanding dengan anggaran yang senilai 120 juta dolar AS atau setara dengan Rp2 triliun, ditambah biaya pemasaran, atau bisa dibilang total anggarannya 155 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,6 triliun. Film ini gak balik modalnya, dan juga mendapat ulasan buruk dari kritikus, atau hanya dikasih 9 persen di Rotten Tomatoes, lho. Nah, yang bikin nangis lagi, reboot Fantastic Four ini juga menerima lima nominasi di Razzie Awards, memenangkan tiga penghargaan untuk sutradara terburuk, film terburuk, dan remake terburuk.
Ada banyak alasan untuk kegagalan ini. Pertama, sutradara Josh Trank menggambarkan ceritanya dengan lebih gelap dan kelam. Tentu ini gak sama dengan nuansa di komiknya. Alhasil, Josh Trank sering berseteru dengan banyak orang yang terlibat dalam film tersebut selama proses syutingnya.
Selain itu, studio film Fox, meminta syuting ulang di menit-menit terakhir film. Tapi bukannya makin bagus malah jadi gak nyambung. Secara keseluruhan, pembuatan Fantastic Four jadi benar-benar berantakan, nih. Nah, meskipun menggaet nama populer seperti Miles Teller dan Michael B Jordan, film ini gak mampu bersaing di box office.
6. Ghostbusters (2016)

Film Ghostbusters pertama kali dirilis pada 1984. Film ini menerima ulasan yang sangat bagus, baik itu dari segi pembuatan filmnya, para pemerannya, sutradaranya yang hebat, dan naskah yang luar biasa. Namun sekuelnya, Ghostbusters II (1989) gak sepopuler film pertamanya.
Meski begitu, Ghostbusters masih membayangi para penggemarnya. Itulah sebabnya, penulis skenario sekaligus sutradara Paul Feig menerima tawaran untuk me-reboot film tersebut pada pertengahan tahun 2010-an. Dalam film reboot Ghostbusters ini, para pemerannya diganti perempuan, di antaranya Melissa McCarthy, Kristen Wiig, Kate McKinnon, dan Leslie Jones. Sayangnya, film reboot ini justru mendapat kesan negatif, terutama Leslie Jones, yang menjadi satu-satunya perempuan Afrika-Amerika dalam film tersebut. Nah, banyak penonton yang berkomentar rasis dan seksis tentang film ini.
Namun, alasan utama kenapa film ini gak disukai adalah karena gak lucu sama sekali. Jadi, gak heran kalau film ini hanya menghasilkan 229 juta dolar AS atau setara dengan Rp3,8 triliun di seluruh dunia. Padahal menurut Feig, film ini harus menghasilkan 500 juta dolar AS atau setara dengan Rp8,3 triliun jika ingin sukses. Jadi, alih-alih meluncurkan franchise sendiri, reboot Ghostbusters justru gagal total.
7. The Mummy (2017)

The Mummy pertama kali muncul di layar lebar pada 1932 ketika Boris Karloff berperan sebagai mumi Imhotep. Namun, kamu pasti terngiang dengan trilogi film The Mummy yang dibintangi Brendan Frasier. Reboot The Mummy (1991) karya sutradara Stephen Sommers dan bintangi Brendan Frasier ini memang disukai banyak penonton karena adegan yang penuh aksi. Gak hanya itu, film ini juga menyelipkan humor dan kisah cinta sepasang kekasih.
Nah, jadi gak heran jika Universal Pictures mau membuat reboot-nya. Apalagi studio ini mengira kalau film The Mummy bakal nyiptain semacam Dark Universe sendiri. Yap, mirip-mirip sama Marvel Cinematic Universe, atau setara monster seperti Dracula, Wolfman, dan Invisible Man. Tentu saja, menciptakan Dark Universe dengan The Mummy justru menjadi kesalahan besar karena membunuh kesempatan berharga ini, sebelum franchise-nya benar-benar bisa dikembangkan.
Meskipun reboot The Mummy ini menghasilkan 409 juta dolar AS atau setara dengan Rp6,8 triliun di seluruh dunia, dengan anggaran 125 juta dolar AS atau setara dengan Rp2 triliun, film ini justru hanya menghasilkan 80 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,3 triliun di dalam negeri (Amerika Serikat). Lebih parah lagi, kritikus dan penonton sama-sama membenci film ini, terlepas dari kehadiran Tom Cruise sebagai karakter utamanya.
Film ini hanya mendapat rating 15 persen dari kritikus dan penonton sekitar 35 persen di Rotten Tomatoes. Gak ada yang disukai dari film ini, mulai dari naskah, dialog, hingga karakter-karakternya yang buruk. Pihak studio agaknya mengira kalau kehadiran Tom Cruise sebagai pemeran utama bisa menarik banyak penonton. Sayangnya, mereka salah.
8. Hellboy (2019)

Hellboy (2004 dan 2008) diingat sebagai franchise yang disutradarai oleh Guillermo del Toro dan dibintangi oleh Ron Perlman sebagai karakter utamanya. Film ini dianggap berhasil di mata penonton. Namun, setelah dua film tersebut, Guillermo Del Toro membatalkan film ketiganya, nih. Jadi banyak penonton yang penasaran dengan kisah lanjutannya itu.
Nah, sebagai gantinya, David Harbour berperan sebagai Hellboy yang dirilis pada 2019. Kemudian, sutradara Neil Marshall, yang telah menyutradarai episode Game of Thrones dan Westworld, diminta untuk menggarap proyek reboot tersebut. Sayangnya, film ini gagal. Akting David Harbour sebenernya bagus, tapi ia dianggap gak bisa menggantikan karakter yang diperankan Ron Perlman. Selain itu, Neil Marshall dirasa gak punya visi dan semangat dalam membuat reboot tersebut.
Sebaliknya, reboot Hellboy ini penuh dengan efek CGI yang buruk dan alur cerita yang jelek. Akibatnya, reboot Hellboy ini gagal di box office, atau hanya menghasilkan 55 juta dolar AS atau setara dengan Rp918 miliar di seluruh dunia dengan anggaran 50 juta dolar AS atau setara dengan Rp834 miliar. Di tambah lagi, kritikus gak suka dengan film ini. Reboot Hellboy ini hanya dikasih rating Tomatometer sebesar 17 persen dari 223 ulasan di Rotten Tomatoes.
9. Dolittle (2020)

Dolittle yang dirilis pada 2020 adalah reboot dari Dr. Dolittle, yang populer baik pada 1967 sebagai film yang dibintangi Rex Harrison, maupun dalam serangkaian film yang dibintangi Eddie Murphy pada 1990-an dan awal 2000-an. Jadi, reboot Dolittle dengan aktor Robert Downey Jr. sebagai pemeran utamanya, pasti dianggap sebagai keputusan yang tepat. Apalagi Robert Downey Jr. baru saja menyelesaikan perannya sebagai Iron Man di Marvel Cinematic Universe dan sedang berada di puncak popularitas.
Sayang seribu sayang, reboot Dolittle ini dianggap gak berhasil, termasuk naskah dan visualnya yang buruk. Film ini harus puas dengan rating 15 persen di Rotten Tomatoes. Para kritikus juga sepakat kalau ceritanya berantakan, humornya gak lucu dan akting Robert Downey Jr. dianggap gak sempurna.
10. The Crow (2024)

Sebelum reboot tahun 2024, The Crow dikenal karena proses syutingnya yang menewaskan Brandon Lee. Meski begitu, aktingnya dianggap fantastis dalam film tersebut, ditambah nuansa gotik era 90-an dan soundtrack yang terbilang keren, menjadikan film ini tontonan wajib, terutama remaja era 90-an. Film ini pun meluncurkan sebuah franchise yang sebagian besar buruk, tapi setidaknya film pertama dicintai oleh penonton.
Namun, Rupert Sanders me-reboot franchise tersebut, ia pun membuat The Crow versinya. Sayangnya, hampir setiap keputusan yang ia dan para penulisnya buat justru merugikan film tersebut. Banyak kisah dalan The Crow yang diubah termasuk motivasi karakter utamanya dan adanya metafora supernatural. Reboot ini hanya menghasilkan 24,1 juta dolar AS atau setara dengan Rp402 miliar di seluruh dunia dan hanya dikasih rating 22 persen dari kritikus di Rotten Tomatoes.
Membuat film reboot memang gak semudah kelihatannya. Meskipun sudah ada dasar cerita dari film sebelumnya. Namun, hal ini belum tentu berhasil dan sering kali mengecewakan. Namun, bukan berarti gak layak tonton, ya! Film-film ini bisa kok jadi daftar film liburan kamu.


















