6 Film Ridley Scott yang Memecah Belah Kritikus dan Penonton

- Enam film Ridley Scott memperlihatkan jurang penilaian di Rotten Tomatoes, ketika visi visual dan pendekatan genre sang sutradara kerap diterima berbeda oleh kritikus serta penonton.
- Legend, Hannibal, A Good Year, dan The Dog Stars mendapat skor penonton lebih tinggi; audiens menonjolkan imajinasi visual, atmosfer, horor, emosi, atau nuansa hangatnya.
- Someone to Watch Over Me lebih diapresiasi kritikus daripada penonton, sementara Kingdom of Heaven dinilai lebih positif lewat Director’s Cut setelah versi bioskop dipangkas sekitar 45 menit.
Sebagai sutradara veteran Hollywood, Ridley Scott memang dikenal gak pernah ragu melahirkan karya-karya ambisius. Namun, visi Scott kerap menciptakan polarisasi tajam karena respons kritikus film justru berbanding terbalik dengan penilaian penonton umum. Fenomena ini kembali terulang lewat film terbarunya, The Dog Stars (2026), yang kini sedang tayang di bioskop.
Nyatanya, The Dog Stars bukanlah satu-satunya film Scott yang punya perbedaan skor cukup mencolok di Rotten Tomatoes. Mulai dari fantasi gelap hingga epik sejarah, berikut enam film Ridley Scott yang memecah belah kritikus dan penonton. Salah satunya ada favoritmu?
1. Legend (1985)

adegan dalam film Legend (dok. 20th Century Fox/Legend) Legend merupakan film Ridley Scott yang cukup berbeda karena mengusung genre fantasi gelap. Ceritanya membawa penonton ke hutan mistis tempat Jack (Tom Cruise) harus menyelamatkan Princess Lili (Mia Sara) dari Lord of Darkness (Tim Curry) yang ingin memusnahkan unicorn terakhir. Dunia fantasi yang dibangun Scott menjadi daya tarik utamanya lewat desain set, tata rias, efek praktikal, serta atmosfer seperti dongeng klasik.
Sayangnya, visual keren tersebut tak lantas bikin para kritikus ikut terpesona. Legend hanya mendapat skor 34 persen dari kritikus di Rotten Tomatoes, sedangkan penonton memberikan angka yang jauh lebih tinggi, yakni 73 persen. Kritikus menganggap cerita film ini terlalu sederhana, sementara penonton cenderung lebih menikmati imajinasi visual Scott tanpa terlalu mempermasalahkan plotnya.
2. Someone to Watch Over Me (1987)

adegan dalam film Someone to Watch Over Me (dok. Columbia Pictures/Someone to Watch Over Me) Gak lama setelah Legend, Scott mencoba genre yang berbeda lewat Someone to Watch Over Me. Kali ini ia meninggalkan dunia fantasi dan membuat thriller romantis bernuansa neo-noir tentang Mike Keegan (Tom Berenger), detektif NYPD yang ditugaskan melindungi Claire Gregory (Mimi Rogers), sosialita yang jadi saksi pembunuhan. Konflik muncul ketika hubungan profesional mereka berkembang menjadi persoalan pribadi.
Kritikus cukup mengapresiasi penyutradaraan serta penampilan para pemain hingga film tersebut mendapat skor sekitar 67 persen di Rotten Tomatoes. Justru penonton yang lebih sulit menerima ceritanya, terutama hubungan Mike dan Claire yang dianggap klise dan bikin karakter Mike sulit disukai. Hasilnya, Someone to Watch Over Me punya skor penonton hanya 41 persen, jauh di bawah penerimaan dari kritikus.
3. Hannibal (2001)

adegan dalam film Hannibal (dok. Metro-Goldwyn-Mayer/Hannibal) Hannibal menjadi tantangan tersendiri bagi Ridley Scott karena film ini hadir setelah kesuksesan besar The Silence of the Lambs (1991). Sekuel ini menghadirkan Anthony Hopkins lagi sebagai Dr. Hannibal Lecter yang kali ini berhadapan dengan Clarice Starling versi Julianne Moore. Alih-alih melanjutkan ketegangan psikologis film pertamanya, Scott memilih pendekatan yang lebih mewah dan gotik dengan Florence, Italia, sebagai salah satu latar utama ceritanya.
Di sinilah gaya Scott menjadi salah satu faktor yang membuat penerimaan filmnya terbelah. Kritikus merasa ketegangan psikologis dan permainan karakter dari film sebelumnya berkurang, sedangkan penonton justru menikmati horornya yang lebih ekstrem dan penampilan Anthony Hopkins yang lebih over-the-top. Hannibal pun hanya mendapat skor 39 persen dari kritikus, sedangkan penonton memberikan 62 persen di Rotten Tomatoes.
4. Kingdom of Heaven (2005)

adegan dalam film Kingdom of Heaven (dok. 20th Century Fox/Kingdom of Heaven) Kalau ada film Scott yang paling jelas menunjukkan persoalan antara visi sutradara dan hasil akhir di bioskop, Kingdom of Heaven adalah salah satunya. Film epik sejarah ini mengikuti Balian (Orlando Bloom), seorang pandai besi asal Prancis yang pergi ke Yerusalem dan akhirnya harus memimpin pertahanan kota tersebut dalam konflik dengan pasukan Saladin. Di sini, Scott menunjukkan kemampuannya membuat peperangan berskala besar sekaligus mengangkat isu agama, politik, dan moralitas ke dalam ceritanya.
Saat dirilis di bioskop, film tersebut hanya memperoleh skor 39 persen dari kritikus di Rotten Tomatoes. Salah satu persoalan utamanya adalah versi theatrical yang dipangkas sekitar 45 menit sehingga motivasi karakter, konflik politik, serta perkembangan Balian dan Sibylla (Eva Green) menjadi kurang jelas. Penonton yang kemudian mengenal Kingdom of Heaven lewat Director's Cut justru memberikan respons lebih positif hingga skor audiensnya mencapai 72 persen.
5. A Good Year (2006)

adegan dalam film A Good Year (dok. 20th Century Fox/A Good Year) Dalam filmografinya yang dipenuhi film bernuansa serius, A Good Year menjadi salah satu karya Scott yang paling santai. Russell Crowe didapuknya sebagai Max Skinner, bankir London yang mewarisi rumah dan kebun anggur milik pamannya di Provence, Prancis. Gak ada konflik besar, cerita A Good Year justru berfokus pada romansa, perubahan hidup, dan kehidupan pedesaan yang sederhana.
Perubahan tersebut ternyata gak terlalu disukai kritikus. A Good Year hanya mendapat skor 26 persen dari kritikus Rotten Tomatoes, sedangkan penonton memberikan 66 persen. Bagi kritikus, kisahnya terlalu klise dan mudah ditebak, sedangkan penonton justru menikmati sisi Russell Crowe yang lebih ringan serta suasana Provence yang hangat.
6. The Dog Stars (2026)

adegan dalam film The Dog Stars (dok. 20th Century Studios/The Dog Stars) Sembilan tahun absen menggarap fiksi ilmiah selepas Alien: Covenant (2017), tahun ini Scott kembali lewat The Dog Stars. Film ini mengikuti Hig (Jacob Elordi), pilot yang bertahan hidup setelah pandemi global menghancurkan peradaban, bersama anjingnya dan Bangley (Josh Brolin), mantan marinir yang membantu menjaga tempat persembunyian mereka. Ketika Hig menangkap transmisi radio misterius, ia memutuskan meninggalkan zona aman untuk mencari sumber suara tersebut.
Film terbaru Scott ini ternyata kembali memperlihatkan jurang antara penerimaan kritikus dan penonton. Kritikus hanya memberi skor 39 persen karena menilai ceritanya terlalu mirip dengan film-film pasca-apokaliptik lainnya dan alurnya cenderung lambat. Menariknya, penonton justru lebih menikmati atmosfer, visual, hubungan antarkarakter, serta sisi emosional dari kisah bertahan hidupnya sehingga skor audiensnya mencapai 71 persen.
Perbedaan sudut pandang antara kritikus dan penonton menunjukkan bahwa visi sinematik Ridley Scott selalu berhasil memicu diskusi menarik. Jadi, dari keenam film di atas, mana yang paling sesuai dengan penilaianmu?




















