Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Film Satir Warner Bros. selain Digger, Menggelitik!
adegan dalam film Digger (dok. Warner Bros. Pictures/Digger)
  • Warner Bros. merilis Digger (2026), satire Alejandro G. Iñárritu tentang taipan minyak Digger Rockwell yang menghadapi bencana global sambil menyindir ego miliarder dan keserakahan korporat.
  • Tujuh film lain menampilkan satire beragam: Risky Business, Mickey 17, Isn't It Romantic?, Network, Mars Attacks!, dan Looney Tunes: Back in Action mengkritik kapitalisme, eksploitasi, media, hingga industri film.
  • Barbie melengkapi daftar melalui kritik terhadap stereotip gender, patriarki, dan tekanan sosial perempuan, menunjukkan luasnya tema satir dalam film-film Warner Bros.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bioskop Indonesia baru saja kedatangan film Warner Bros. Pictures terbaru berjudul Digger (2026). Disutradarai oleh Alejandro G. Iñárritu (The Revenant), film satire ini mengisahkan aksi absurd seorang taipan minyak eksentrik bernama Digger Rockwell (Tom Cruise) dalam menghadapi bencana global. Sentilannya terhadap ego para miliarder dan keserakahan korporat, ditambah transformasi drastis Tom Cruise, bikin Digger ramai dibicarakan.

Buat kamu yang suka tontonan yang bikin tertawa sekaligus mikir seperti Digger, Warner Bros. sebenarnya punya banyak film satir lain yang gak kalah menggelitik. Berikut tujuh rekomendasi film satir Warner Bros. selain Digger yang bisa kamu masukkan ke watchlist. Sudah nonton salah satunya?

1. Risky Business (1983)

adegan dalam film Risky Business (dok. Warner Bros. Pictures/Risky Business)

Jauh sebelum Digger, Tom Cruise sebenarnya pernah membintangi film satir Warner Bros. bertajuk Risky Business. Film ini menyindir soal materialisme, kapitalisme, dan parenting lewat kisah seorang remaja kaya yang lepas kendali.

Remaja tersebut adalah Joel Goodsen (Cruise) yang harus tinggal sendirian saat orangtuanya pergi berlibur. Masalah muncul ketika Porsche milik ayahnya masuk ke Danau Michigan. Bingung mencari uang untuk memperbaikinya, Joel bersama Lana (Rebecca De Mornay), seorang pekerja seks yang ia temui, akhirnya nekat mengubah rumah orangtuanya menjadi rumah bordil.

2. Mickey 17 (2025)

adegan dalam film Mickey 17 (dok. Warner Bros. Pictures/Mickey 17)

Film arahan Bong Joon Ho ini mengikuti Mickey Barnes (Robert Pattinson), pekerja yang dikirim ke sebuah planet dalam misi berbahaya. Setiap kali meninggal, tubuhnya akan dicetak ulang agar bisa kembali menjalankan tugas. Masalah muncul ketika Mickey 17, kloningannya yang ke-17, masih hidup saat Mickey 18 sudah dicetak.

Di balik tema fiksi ilmiahnya, Mickey 17 menyelipkan satir tentang eksploitasi pekerja dan kesenjangan kelas. Ceritanya juga menyentil ambisi penguasa yang rela mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri lewat kehadiran sosok Kenneth Marshall (Mark Ruffalo), sang pemimpin koloni.

3. Isn't It Romantic? (2019)

adegan dalam film Isn't It Romantic (dok. Warner Bros. Pictures/Isn't It Romantic)

Kalau Mickey 17 adalah satir bersampul fiksi ilmiah, Isn't It Romantic? adalah satir bersampul komedi romantis. Film yang dibintangi Rebel Wilson ini memarodikan berbagai klise yang sering muncul dalam genre tersebut, seperti male lead yang tanpa cela, persaingan antarwanita, hingga adegan konyol yang berujung romantis.

Wilson memerankan Natalie, arsitek yang kerap mendapat perlakuan berbeda di kantor karena penampilannya. Akibat sebuah kejadian di kereta bawah tanah, ia mengalami cedera dan terbangun di dunia romcom yang serbasempurna. Untuk bisa kembali ke dunianya, Natalie pun harus membuat seseorang jatuh cinta kepadanya.

4. Network (1976)

adegan dalam film Network (dok. Warner Bros. Pictures/Network)

Film klasik garapan Sidney Lumet ini mengangkat satir yang masih relevan sampai sekarang. Semua dimulai ketika Howard Beale (Peter Finch), pembawa berita televisi yang diberhentikan, membuat kehebohan setelah meluapkan emosinya di siaran langsung. Melihat respons penonton, pihak stasiun televisi malah menggaet Beale untuk program baru.

Lewat kisah Beale, Network menyindir media yang gemar mengeksploitasi kemarahan dan kontroversi demi mendongkrak rating dan keuntungan. Hal serupa tentu gampang ditemui di era media sosial saat ini, ketika konten clickbait justru lebih mudah mendapat engagement tinggi.

5. Mars Attacks! (1996)

adegan dalam film Mars Attacks! (dok. Warner Bros. Pictures/Mars Attacks!)

Meski saat dirilis kurang berhasil di box office, Mars Attacks! kini dikenal sebagai salah satu film karya Tim Burton yang ikonis. Film komedi fiksi ilmiah ini secara jenaka mengkritik pemerintah, ilmuwan, dan pihak militer yang gak kompeten saat menghadapi krisis besar.

Kisahnya diawali ketika armada pesawat luar angkasa dari Mars tiba di Bumi dan mengaku datang dengan damai. Namun, situasi berubah kacau ketika para alien justru memulai invasi. Pemerintah dan warga pun dibuat kalang kabut menghadapi serangan tersebut.

6. Looney Tunes: Back in Action (2003)

adegan dalam film Looney Tunes: Back in Action (dok. Warner Bros. Pictures/Looney Tunes: Back in Action)

Siapa sangka film keluarga macam Looney Tunes: Back in Action juga menyelipkan satire dalam ceritanya? Film ini mengikuti DJ Drake (Brendan Fraser), penjaga keamanan Warner Bros. yang terlibat dalam pencarian ayahnya. Bersama Bugs Bunny dan Daffy Duck, DJ pun harus menghadapi berbagai kekacauan yang terjadi sepanjang perjalanan mereka.

Menariknya, berbagai lelucon dalam film ini menyasar Warner Bros. sendiri. Sindirannya mencakup berbagai hal, mulai dari budaya kerja di studio, bisnis industri film, hingga obsesi Hollywood terhadap waralaba dan karakter populer.

7. Barbie (2023)

adegan dalam film Barbie (dok. Warner Bros. Pictures/Barbie)

Bicara film satir Warner Bros., film garapan Greta Gerwig ini tentu gak boleh dilewatkan. Meski diadaptasi dari mainan anak-anak yang populer, Barbie sukses menyentil stereotip gender, patriarki, hingga berbagai tekanan sosial yang dihadapi perempuan.

Barbie (Margot Robbie) awalnya menjalani kehidupan sempurna di Barbieland bersama para Barbie dan Ken lainnya. Namun, setelah mengalami perubahan aneh dalam dirinya, Barbie pergi ke dunia nyata untuk mencari pemiliknya. Perjalanan tersebut kemudian membuatnya mempertanyakan kehidupan yang selama ini ia jalani.

Beragam banget, kan, film satir Warner Bros. yang bisa kamu tonton selain Digger? Dari sindiran soal keserakahan dan stereotip gender hingga kritik terhadap media dan industri film, semuanya dikemas secara menarik. Yuk, tentukan mana yang mau kamu tonton duluan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article