Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Digger, Tom Cruise Tampil Manglingi, Gak Nyangka Ada Plot Twist!

6 min read
Review Digger, Tom Cruise Tampil Manglingi, Gak Nyangka Ada Plot Twist!
Digger (dok. Warner Bros. Pictures/Digger)
  • Digger mengikuti taipan minyak Digger Rockwell yang proyek pengeborannya memicu bencana ekologis, lalu berupaya tampil sebagai penyelamat bersama ilmuwan Dr. Ganesh.

  • Tom Cruise tampil transformasional sebagai Rockwell yang arogan dan absurd, dengan Riz Ahmed sebagai penyeimbang; namun sejumlah pemain pendukung dinilai kurang konsisten.

  • Iñárritu memadukan satire krisis iklim, propaganda, dan kapitalisme dengan visual serta sound design megah, meski humor dan durasi dua jam membuat ritmenya kadang melelahkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Seberapa jauh sebuah film bisa membawa satire tentang perubahan iklim (global warming) sebelum berubah menjadi tontonan yang benar-benar absurd? Digger (2026), film terbaru Alejandro González Iñárritu yang dibintangi Tom Cruise, tampaknya sengaja menguji batas tersebut. Selain Cruise, film ini juga dibintangi oleh Riz Ahmed, Sandra Hüller, John Goodman, Michael Stuhlbarg, dan Jesse Plemons.

Seperti Babylon (2022), Joker: Folie à Deux (2024), atau Eddington (2025), Digger berpotensi memecah-belah penonton karena tidak mengikuti formula film blockbuster konvensional. Film ini berani mencampurkan komedi gelap, bencana ekologis, satire sosial, dan drama surealis dalam satu cerita. Hasilnya? Tidak mudah dicerna, tetapi justru di situlah daya tariknya. Berikut ulasan lengkapnya!

  1. Sinopsis Digger (2026)

    Digger mengikuti Digger Rockwell (Tom Cruise), taipan minyak asal Texas yang berkuasa dan memiliki pengaruh besar terhadap industri energi serta pemerintahan Amerika Serikat. Masalah dimulai ketika proyek pengeboran minyak miliknya di wilayah seperti Greenland dan Alaska memicu bencana ekologis. Sebuah bongkahan es raksasa bernama "Judy" terlepas dari gletser dan bergerak menuju wilayah berpenduduk, berpotensi menyebabkan tsunami serta kehancuran dalam skala global.

    Alih-alih menerima tanggung jawab atas bencana yang sebagian besar disebabkan oleh tindakannya sendiri, Digger justru terobsesi membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang dapat menyelamatkan umat manusia. Bersama Dr. Ganesh (Riz Ahmed), ilmuwan yang bekerja untuknya, ia memulai misi untuk menghentikan konsekuensi dari kesalahannya sendiri. Dari situ, Digger kemudian berkembang menjadi satire tentang perubahan iklim, kekuasaan, korporasi, propaganda, dan cara manusia membangun narasi untuk menghindari tanggung jawab.

    Digger
    2026
    4/5
    Directed by Alejandro G. Iñárritu
    Producer

    Alejandro G. Iñárritu, Mary Parent, Tom Cruise

    Writer

    Alejandro G. Iñárritu, Alexander Dinelaris, Nicolas Giacobone, Sabina Berman

    Age Rating

    D17

    Genre

    Comedy, drama

    Duration

    129 Minutes

    Release Date

    2 Oktober

    Theme

    Black comedy, political satire, disaster dramedy

    Production House

    Legendary Pictures, TC Productions, Warner Bros. Pictures.

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

    Cast

    Tom Cruise, Riz Ahmed, John Goodman, Sandra Hüller, Michael Stuhlbarg, Jesse Plemons, Robert John Burke, Emma D’Arcy, Burn Gorman, Sophie Wilde

  2. Trailer Digger (2026)

    Cuplikan film Digger (2026)

  3. 1. Tom Cruise tampil gila-gilaan, Riz Ahmed jadi tandem yang pas

    Jujur, saat pertama kali melihat trailer-nya, Tom Cruise hampir tidak terlihat seperti Tom Cruise. Dengan prostetik, tubuh gemuk, aksen Texas yang kental, serta gestur bombastis, Cruise benar-benar menghilangkan citra bintang laga yang selama ini melekat pada dirinya. Digger Rockwell bukan Ethan Hunt, bukan pula Pete "Maverick" Mitchell. Melihatnya mengingatkan kita pada Les Grossman di Tropic Thunder (2008).

    Keputusan Cruise untuk membuat karakter utamanya terlihat aneh justru menjadi salah satu kekuatan film. Ia tidak membuat Digger terlihat keren. Sebaliknya, Cruise dengan berani membiarkan karakter ini terkesan menyebalkan, arogan, dan terkadang menyedihkan.

    Puncaknya adalah monolog panjang sekitar 10 menit yang menjadi salah satu momen terbaik dalam karier aktingnya. Cruise mampu mempertahankan intensitas adegan tersebut tanpa membuat karakternya kehilangan sisi komikal. Transformasi fisik ini juga menunjukkan keberanian Cruise untuk keluar dari zona nyaman. Jika biasanya tubuhnya menjadi bagian dari daya tarik film aksi, kali ini justru digunakan untuk menciptakan karakter yang absurd.

    Di sisi lain, Riz Ahmed menjadi pasangan bermain yang sangat cocok. Sebagai Dr. Ganesh, ia memberikan energi yang lebih terkendali untuk mengimbangi kegilaan Digger. Ahmed memahami bahwa film ini tidak perlu terlalu realistis, tetapi juga tidak boleh jadi parodi sepenuhnya. Sayangnya, pemain lain masih terlihat kesulitan menemukan keseimbangan serupa ketika film berpindah dari drama, komedi, hingga surealisme. Kecuali Jesse Plemons, tentu saja.

  4. 2. Satirenya ngena, dark joke-nya berani sindir pemerintahan saat ini

    Pada dasarnya, Digger adalah satire tentang manusia yang menghancurkan satu hal lalu mencoba tampil sebagai pahlawan karena ikut membereskan kerusakan tersebut. Digger menjadi representasi ekstrem dari orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan begitu besar sampai merasa konsekuensi tidak berlaku untuk dirinya. Ketika pengeborannya memicu bencana, solusi yang muncul bukan sekadar bertanggung jawab, melainkan bagaimana mengubah situasi tersebut menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah "penyelamat."

    Di sinilah Digger terasa seperti bertemu dengan Dr. Strangelove (1964). Keduanya menggunakan absurditas untuk membicarakan kehancuran dalam skala besar. Bedanya, jika film Stanley Kubrick berangkat dari ancaman perang nuklir, Iñárritu mengarahkan bidikannya kepada krisis iklim dan manusia yang berkontribusi terhadapnya. Film juga menyentil bagaimana rezim pemerintah dan oligarki dapat menciptakan realitas alternatif (alias mengubah narasi) ketika fakta di lapangan tidak terlalu nyaman untuk diterima.

    Ada pula karakter pemimpin yang terlihat sangat yakin bahwa keputusan mereka benar, bahkan ketika konsekuensinya sudah terpampang di depan mata. Bahkan, ia sampai mengabaikan perkataan ahli, lalu memarahinya. Terdengar familiar?

    Namun, satire Digger tidak selalu mendarat sempurna. Ada dark jokes yang benar-benar "ngena," tetapi ada pula humor yang terasa terlalu panjang dan justru membuat ritme cerita tersendat.

    Hal menarik lainnya adalah bagaimana film secara bertahap mengubah dirinya sendiri. Apa yang awalnya terlihat seperti satire bencana ekologis berkembang menjadi sesuatu yang lebih surealis. Beberapa twist bahkan membuat penonton mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya sedang ditonton. Pendekatan ini memang berani, tetapi sekaligus menjadi alasan mengapa Digger kemungkinan takkan cocok dengan selera penonton.

  5. 3. Visual dan sound design memanjakan, durasi cukup panjang

    Kalau ada satu aspek yang hampir mustahil disangkal dari Digger, itu adalah kualitas produksinya. Alejandro González Iñárritu kembali bekerja dengan sinematografer Emmanuel "Chivo" Lubezki untuk menciptakan visual yang terasa megah sekaligus surreal. Komposisi gambar, pencahayaan, desain produksi, dan detail set membuat dunia Digger terasa jauh lebih besar daripada sekadar film satire tentang seorang taipan minyak.

    Penggunaan VistaVision juga memberikan tekstur gambar yang kaya. Detail lanskap, fasilitas pengeboran, hingga lingkungan yang menjadi lokasi bencana terasa sangat sinematik. Desain produksinya pun patut diapresiasi. Sebagian besar film dibuat di Pinewood Studios, tetapi dunia yang dibangun terasa cukup luas untuk menampung cerita tentang bencana ekologis berskala global.

    Tidak hanya visual, editing dan sound design juga menjadi bagian penting. Perubahan mood film yang sangat cepat membuat editor Conor O'Neill dan Stephen Mirrione memiliki tugas berat. Film dapat bergerak dari adegan komedi menuju ketegangan, lalu masuk ke wilayah surealisme tanpa memberi kesempatan kepada penonton untuk beristirahat. Musik Cosmo Sheldrake turut memperkuat keganjilan tersebut. Musiknya membantu menciptakan dunia yang terasa sedikit tidak masuk akal, sesuai dengan karakter film secara keseluruhan.

    Masalahnya, semua ambisi tersebut juga membuat Digger terasa melelahkan. Dengan durasi dua jam, sebagian penonton mungkin akan berharap durasinya lebih pendek. Padahal, energi berlebih itulah yang membuat Digger berbeda dari blockbuster Hollywood kebanyakan. Film ini tidak takut terlihat aneh, tidak takut mengambil risiko, dan tidak berusaha membuat penonton duduk nyaman di kursinya.

  6. 4. Apakah Digger recommended untuk ditonton?

    Sangat direkomendasikan, terutama jika kamu menyukai film eksperimental yang berani dan tidak takut membagi penonton. Digger memang bukan film yang sempurna. Komedinya terkadang terlalu dipaksakan, beberapa karakter pendukung tidak sekuat Tom Cruise. Film ini juga menumpuk begitu banyak gagasan sampai beberapa di antaranya tidak mendapatkan ruang untuk berkembang secara maksimal.

    Namun, sulit menyangkal keberaniannya. Iñárritu membuat film bencana yang tidak benar-benar ingin menjadi film satire konvensional seperti Don't Look Up (2021). Ia menggunakan kehancuran lingkungan sebagai pintu masuk menuju sindiran tentang kapitalisme, kekuatan propaganda, dan kecenderungan kita untuk mencari pembenaran ketika harus berhadapan dengan kesalahan sendiri.

    Pada akhirnya, Digger adalah film yang kemungkinan akan memicu reaksi berbeda-beda. Ada yang menganggapnya terlalu panjang dan terlalu aneh, sementara yang lain justru akan menikmati keberaniannya. Bagi saya, Digger menarik justru karena film ini tidak berusaha menjadi nyaman. Ia seperti sebuah eksperimen besar yang sengaja dibiarkan berantakan di beberapa tempat, tetapi di dalam kekacauan itu terdapat satire tajam yang menohok dan gagasan-gagasan yang terus terngiang setelah layar menjadi gelap.

    Kalau kamu mencari film blockbuster yang aman dan mudah ditebak, Digger mungkin bukan pilihan yang tepat. Namun, jika ingin melihat Tom Cruise tampil beda sambil menyaksikan Iñárritu membungkus bencana iklim dalam komedi gelap yang absurd, film ini layak diberi kesempatan. Mungkin setelah menontonnya kamu akan bertanya-tanya, "Apa yang sebenarnya sudah kita lakukan?"

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More