5 Film Terbaik İlker Çatak, Pemenang Golden Bear Berlinale 2026

- Festival Film Internasional Berlin ke-76 resmi berakhir dengan kemenangan film “Yellow Letters” karya İlker Çatak yang meraih Golden Bear, menjadi film produksi Jerman pertama yang menang dalam 22 tahun terakhir.
- İlker Çatak, sutradara kelahiran Berlin berdarah Turki, dikenal lewat karya-karya bernuansa sosial politik seperti “The Teachers’ Lounge”, “Stambul Garden”, dan “I Was, I Am, I Will Be”.
- Filmografi Çatak menyoroti isu kemanusiaan, trauma, serta dinamika sosial modern; sebagian besar karyanya kini dapat disaksikan melalui platform streaming seperti Mubi.
Berlin International Film Festival ke-76 resmi ditutup pada Sabtu (21/2/2026) lalu. Pada malam penutupannya yang berlangsung di Berlinale Palast, dewan juri internasional yang diketuai oleh sineas Wim Wenders mengumumkan daftar para pemenangnya.
Penghargaan tertinggi Golden Bear tahun ini jatuh kepada Yellow Letters arahan sutradara İlker Çatak. Kemenangan ini mencetak sejarah sebagai film produksi Jerman pertama yang memenangkan piala utama dalam 22 tahun terakhir. Penghargaan tersebut terakhir kali dimenangkan oleh sutradara Fatih Akin untuk filmnya bertajuk Head-On pada 2004.
Nama İlker Çatak seketika menyita perhatian para sinefil. Sineas kelahiran Berlin dari keluarga imigran asal Turki ini terbilang vokal dalam menyampaikan isu sosial politik dalam karya-karyanya. Bagi kamu yang penasaran dengan daftar film terbaik İlker Çatak, ini beberapa rekomendasinya yang bisa kamu tonton.
1. Yellow Letters (2026)

Kehidupan pasangan seniman ternama di Turki, Derya (Özgü Namal) dan Aziz (Tansu Biçer), berubah menjadi mimpi buruk usai sebuah insiden terjadi pada pemutaran perdana drama mereka. Seketika menjadi sasaran pemerintah dan berupaya memperbaiki reputasi yang kadung ternoda, pernikahan mereka pun kini berada di ujung tanduk.
Yellow Letters disebut-sebut sebagai film paling berani di sepanjang karier penyutradaraan İlker Çatak. Ditulis bersama Ayda Meryem Çatak dan Enis Köstepen, film ini menjelma sebagai penggambaran intim akan kehidupan warga sipil yang hancur akibat despotisme atau suatu sistem pemerintahan di mana satu penguasa memegang kekuasaan mutlak tanpa batasan hukum.
2. The Teachers' Lounge (2023)

Seorang guru muda idealis, Carla Nowak (Leonie Benesch), menyelidiki serangkaian pencurian yang terjadi di sekolah tempatnya mengajar. Upaya yang dilakukannya demi mengungkap identitas pelakunya justru memicu konflik besar dengan murid, wali murid, dan rekan kerja. Menaruhnya dalam posisi rumit dan merusak reputasinya sebagai tenaga pengajar.
The Teachers’ Lounge melambungkan nama Çatak di kancah internasional. Mengusung genre psychological-thriller, film ini merupakan kritikan tajam akan sistem sosial yang rapuh ini dikemas oleh tensi mencekik. Selain masuk nominasi Oscar untuk kategori Best International Feature Film, The Teachers’ Lounge memborong lima piala German Film Awards, termasuk Best Picture, Best Director, dan Best Actress.
3. Stambul Garden (2021)

Demi membantu sahabatnya, Samuel (Mekyas Mulugeta), dalam mencari akar sejarah keluarganya, Janik (Emil von Schönfels) mengajaknya pergi ke Istanbul setelah lulus sekolah. Namun, sebuah insiden memalukan terjadi di tengah perjalanan dan menguji persahabatan mereka.
Film coming-of-age satu ini tidak hanya berfokus pada petualangan dan pencarian jati diri. Çatak turut menyisipkan bagaimana sulitnya perjuangan melepaskan diri dari rantai trauma yang kerap dialami oleh mereka yang memiliki keluarga disfungsional.
4. I Was, I Am, I Will Be (2019)

Marion (Anne Ratte-Polle), seorang pilot Jerman memutuskan berlibur ke Turki usai divonis mengidap kanker. Di sana ia bertemu Baran (Oğulcan Arman Uslu), seorang gigolo yang bermimpi memulai hidup baru di Eropa. Keduanya lantas terlibat dalam sebuah pernikahan kontrak. Hubungan yang semula transaksional perlahan berubah menjadi jalinan emosional yang rumit.
İlker Çatak berhasil mengeksplorasi kisah imigrasi dari sudut pandang yang berbeda. I Was, I Am, I Will Be turut mengulik kerentanan emosi manusia dalam sebuah hubungan yang tidak biasa. Dialognya yang tajam dan jujur diganjar penghargaan Bronze Lola atau Film Terbaik Ketiga di German Film Awards 2020.
5. Once Upon a Time in Indian Country (2017)

Mauser (Leonard Scheicher), seorang petinju muda berbakat, disibukkan dengan persiapan untuk kompetisi krusial. Fokusnya pecah ketika ayahnya melarikan diri usai menghabisi nyawa ibu tirinya. Mauser tidak punya pilihan lain selain memulai perjalanan panjang untuk mencari keberadaan ayahnya.
Once Upon a Time in Indian Country tayang perdana di Berlinale 2017 dalam program Perspektive Deutsches Kino. Untuk debut film panjangnya, Çatak memadukan unsur saling bertolak belakang untuk menangkap kegelisahan yang kerap dialami oleh para remaja.
Rekomendasi filmografi İlker Çatak dapat kamu tonton di Mubi dan sejumlah layanan streaming lainnya. Film mana dulu yang pengin banget kamu tonton, nih?











![[QUIZ] Upin Ipin atau Boboiboy, Siapa yang Keliling Kampung Bangunin Kamu Sahur?](https://image.idntimes.com/post/20260221/img_20260221_104906_c0952312-3dd9-474b-9a1b-abfacd55f99c.jpg)






