Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film untuk Sembuhkan Toxic Masculinity-mu, Cowok Wajib Tonton!
Close (dok. A24/Close)
  • Artikel menyoroti toxic masculinity sebagai tekanan sosial yang membuat laki-laki menahan emosi, kerentanan, dan kebutuhan meminta bantuan.
  • Aftersun, Close, dan Moonlight menggambarkan kerapuhan, kasih sayang antarlaki-laki, serta pencarian identitas di tengah ekspektasi sosial.
  • Billy Elliot dan Good Will Hunting menekankan bahwa minat personal, konseling, dukungan, dan keterbukaan emosional bukan tanda kelemahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tumbuh menjadi seorang laki-laki tentu memiliki pemahaman yang berbeda terkait bagaimana bersikap. Banyak ekspektasi sosial yang tanpa disadari melekat pada laki-laki, seperti tidak boleh menangis, menahan kerentanan, dan menjadi sosok dominan. Alhasil, banyak laki-laki yang kesulitan mengekspresikan emosinya.

Kalau belum tahu, pola pikir tersebut dinamakan toxic masculinity, yakni pandangan tentang maskulinitas yang mendorong perilaku merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bukan berarti menjadi laki-laki itu salah, melainkan penting untuk memahami bahwa setiap orang, termasuk laki-laki, berhak menunjukkan perasaannya dan meminta bantuan.

Untungnya, kini banyak sineas yang menyadari buruknya toxic masculinity yang merugikan laki-laki. Alhasil, hadirlah kelima film berikut ini. Tonton lima film ini untuk sembuhkan toxic masculinity-mu!

1. Aftersun (2022)

Aftersun (dok. BBC Films/Aftersun)

Aftersun mengikuti Sophie, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang menghabiskan liburan bersama ayahnya, Calum, di sebuah resor. Meski sedang bersenang-senang, Calum ternyata tengah menghadapi pergulatan pribadi yang tidak dipahami oleh Sophie.

Selang 20 tahun kemudian, Sophie kembali mengenang liburan tersebut dan berusaha memahami sang ayah, termasuk sisi yang tidak ia ketahui. Film ini menggambarkan hubungan ayah dan anak melalui kenangan, emosi, dan hal-hal yang tidak selalu terucapkan.

Lewat karakter Calum, penonton diajak untuk memahami bahwa laki-laki bisa merasa rapuh, kesepian, dan kewalahan dalam menghadapi kehidupan. Jadi sosok yang kuat bukan berarti menyembunyikan perasaan.

Sutradara: Charlotte Wells

Pemeran: Paul Mescal dan Frankie Corio.

2. Close (2022)

Close (dok. A24/Close)

Close menjadi film dengan toxic masculinity yang kuat. Film ini memperlihatkan bagaimana ekspektasi sosial terhadap anak laki-laki dapat mempengaruhi cara mereka dalam mengekspresikan kasih sayang.

Film ini mengikuti Leo dan Remu, dua sahabat laki-laki berusia 13 tahun yang memiliki hubungan sangat dekat. Namun, kedekatan mereka berubah ketika teman-teman di sekolah mempertanyakan hubungan tersebut. Alhasil, Leo pun merasa perlu menjaga jarak.

Close mengajak penonton mempertanyakan anggapan bahwa laki-laki harus menjaga jarak emosional agar tidak dianggap berbeda. Pesan film ini adalah menunjukkan kasih sayang kepada sahabat bukanlah sesuatu yang mengurangi kejantanan seorang laki-laki.

Sutradara: Lukas Dhont

Pemeran: Eden Dambrine, Gustav De Waele, Émilie Dequenne, dan Léa Drucker.

3. Moonlight (2016)

Moonlight (dok. A24/Moonlight)

Film pemenang Oscar ini mengikuti perjalanan hidup Chiron, anak laki-laki kulit hitam yang tumbuh di lingkungan Miami yang keras. Film ini membagi perjalanan hidup Chrion menjadi tiga fase, yakni masa kecil, remaja, dan dewasa.

Sepanjang film ini, Chiron menghadapi perundungan, persoalan keluarga, dan tekanan lingkungan yang memengaruhi caranya memandang dirinya sendiri. Saat dewasa, ia menjadi pribadi yang lebih keras dibandingkan saat dirinya masih kecil.

Moonlight menangkap pencarian identitas dan penerimaan diri, termasuk pengalaman Chiron sebagai laki-laki homoseksual. Dari film ini, kamu akan belajar bahwa laki-laki berhak memahami identitas dan perasaannya sendiri tanpa memenuhi ekspektasi orang lain.

Sutradara: Barry Jenkins

Pemeran: Alex Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes, Mahershala Ali, Naomie Harris, André Holland, dan Janelle Monáe.

4. Billy Elliot (2000)

Billy Elliot (dok. BBC Films/Billy Elliot)

Sesuai namanya, Billy Elliot menceritakan anak bernama Billy Elliot yang berusia 11 tahun dari keluarga pekerja tambang. Ia hendak mengikuti kelas tinju, tetapi Billy justru tertarik pada balet. Ia menyadari bahwa ia punya bakat dalam seni tari.

Namun, sayangnya, ayah Billy awalnya menentang pilihannya karena menganggap balet tidak sesuai dengan gambaran laki-laki kebanyakan. Dengan bantuan guru baletnya, Mrs. Wilkinson, Billy berusaha mengejar impiannya sambil menghadapi tekanan keluarga dan lingkungannya.

Melalui film ini, kamu jadi paham kalau hobi, profesi, dan minat tidak menentukan nilai seseorang sebagai laki-laki. Billy Elliot menjadi salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana stereotip gender membatasi pilihan seseorang.

5. Good Will Hunting (1997)

Good Will Hunting (dok. Miramax Films/Good Will Hunting)

Good Will Hunting mengikuti Will Hunting, pemuda jenius yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kemampuan matematikanya menarik perhatian profesor, tetapi persoalan hukum dan perilakunya membuat Will harus menjalani konseling dengan psikolog, Sean Maguire.

Dalam proses konseling tersebut, Will mulai menghadapi pengalaman masa lalu yang memengaruhi hubungan dan cara ia memandang dirinya sendiri. Hubungannya dengan Sean menjadi penting dalam perjalanannya untuk memahami emosi, membangun kepercayaan, dan membuka diri terhadap orang lain.

Melalui hubungan Will dan Sean, penonton dapat melihat bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Mengakui luka, menerima dukungan, dan membangun hubungan yang sehat justru membutuhkan keberanian.

Sutradara: Gus Van Sant

Pemeran: Matt Damon, Robin Williams, Ben Affleck, Minnie Driver, dan Stellan Skarsgård.

Kelima film di atas bisa kamu jadikan pembelajaran untuk tidak memelihara toxic masculinity. Laki-laki ditakdirkan juga untuk mengekspresikan emosi dan merasa rentan jika diperlukan. Jadi, kamu mau nonton yang mana dulu, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article