5 Cara Bijak Menyikapi Pasangan yang Terjebak Toxic Masculinity

- Pahami akar masalahnya sebelum menghakimi.
- Komunikasikan perasaan tanpa menyerang.
- Berikan ruang aman untuk ekspresi emosi.
Dalam menjalin hubungan, tentu kita berharap dapat tumbuh bersama pasangan dengan cara yang sehat dan saling mendukung. Namun, terkadang ada satu tantangan yang kerap muncul tanpa disadari, yaitu toxic masculinity atau maskulinitas beracun. Konsep ini merujuk pada pola pikir yang mengharuskan laki-laki untuk selalu tampil kuat, tidak boleh menunjukkan emosi, dan merasa harus mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan.
Sayangnya, banyak pasangan yang terjebak dalam pola pikir ini tanpa menyadari dampaknya terhadap hubungan. Mungkin kamu pernah menghadapi situasi di mana pasanganmu enggan mengakui kesalahan, menolak untuk membicarakan perasaan, atau bahkan merasa terancam saat kamu menunjukkan kemandirian. Nah, bila kamu sedang menghadapi kondisi seperti ini, berikut beberapa cara bijak yang bisa kamu coba untuk menyikapinya!
1. Pahami dulu akar masalahnya sebelum langsung menghakimi

Sebelum terburu-buru kesal atau kecewa, ada baiknya kamu mencoba memahami dari mana pola pikir pasanganmu berasal. Kebanyakan laki-laki yang terjebak dalam toxic masculinity sebenarnya adalah "korban" dari didikan lingkungan, baik itu keluarga, teman sebaya, maupun budaya yang mengajarkan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh lemah. Ini bukan berarti kamu harus memaklumi perilaku negatifnya, ya. Namun, dengan memahami latar belakangnya, kamu bisa lebih bijak dalam menentukan langkah selanjutnya.
Coba ajak pasanganmu untuk bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana ia dibesarkan, dan nilai-nilai apa yang ditanamkan kepadanya tentang "menjadi laki-laki". Selama kamu mendengarkan dengan empati, bukan mustahil ia akan mulai membuka diri dan menyadari bahwa ada pola pikir yang perlu diubah.
2. Komunikasikan perasaanmu dengan cara yang tidak menyerang

Kalau ada satu hal yang paling penting dalam menghadapi situasi ini, jawabannya adalah komunikasi. Namun, perlu diingat bahwa cara menyampaikannya juga sangat menentukan. Hindari menggunakan kalimat yang terkesan menyalahkan seperti "Kamu tuh selalu begini!" atau "Kamu gak pernah mau dengerin aku!" Pasalnya, kalimat-kalimat seperti ini justru akan membuatnya merasa diserang dan semakin defensif.
Sebaliknya, gunakan pendekatan yang lebih lembut dengan mengutarakan perasaanmu secara personal. Misalnya, "Aku merasa sedih kalau kita gak bisa ngobrol soal perasaan" atau "Aku butuh kamu untuk lebih terbuka sama aku." Dengan cara ini, pasanganmu akan lebih mudah menerima pesanmu tanpa merasa direndahkan.
3. Berikan ruang aman untuknya mengekspresikan emosi

Salah satu ciri khas toxic masculinity adalah keyakinan bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau menunjukkan kelemahan. Akibatnya, banyak dari mereka yang terbiasa menekan emosi dan akhirnya kesulitan untuk mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat. Nah, di sinilah peranmu sebagai pasangan menjadi sangat penting.
Cobalah untuk menciptakan ruang aman di mana ia bisa merasa nyaman untuk berbagi apa pun tanpa takut dihakimi. Saat ia mulai membuka diri, jangan langsung memberikan solusi atau mengomentari. Cukup dengarkan dan tunjukkan bahwa kamu ada untuknya. Percaya deh, langkah kecil ini bisa membawa perubahan besar dalam jangka panjang.
4. Jangan lupakan batasan dan kesehatan mentalmu sendiri

Membantu pasangan untuk keluar dari pola pikir toxic masculinity memang hal yang mulia. Tapi ingat, kamu juga punya batasan dan kesehatan mental yang perlu dijaga. Jangan sampai dalam prosesnya, kamu malah mengorbankan dirimu sendiri hingga merasa lelah secara emosional. Kalau sudah sampai di titik itu, hubungan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan justru berubah menjadi beban.
Oleh karena itu, tetapkan batasan yang jelas. Bila perilaku pasanganmu sudah mengarah ke hal-hal yang tidak bisa ditoleransi, seperti kekerasan verbal atau kontrol berlebihan, jangan ragu untuk menegaskan bahwa kamu tidak bisa menerima perlakuan tersebut. Ingat, mendukung pasangan bukan berarti harus menerima segala bentuk perilaku negatifnya.
5. Ajak untuk mencari bantuan profesional bila diperlukan

Kadang, ada masalah yang memang terlalu kompleks untuk diselesaikan berdua saja. Bila kamu merasa sudah melakukan berbagai cara namun belum ada perubahan yang signifikan, mungkin sudah saatnya untuk mengajak pasanganmu menemui profesional, seperti psikolog atau konselor. Jangan khawatir, mengajak pasangan untuk terapi bukan berarti hubungan kalian gagal. Justru sebaliknya, ini menunjukkan bahwa kalian berdua serius ingin memperbaiki keadaan.
Tentu saja, mengajak laki-laki yang terjebak toxic masculinity untuk terapi bukan perkara mudah. Banyak dari mereka yang masih menganggap bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Nah, di sinilah kesabaranmu diuji. Sampaikan dengan lembut bahwa terapi adalah langkah untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, bukan karena ada yang "salah" dengannya.
Menghadapi pasangan yang terjebak toxic masculinity memang bukan perjalanan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, empati, dan komitmen dari kedua belah pihak untuk bisa keluar dari pola pikir tersebut. Namun, selama masih ada kemauan untuk berubah dan berkembang bersama, bukan tidak mungkin hubungan kalian justru akan semakin kuat. Jadi, sudah siap untuk memulai langkah pertama?


















