Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film yang Diklaim Melanggengkan Klasisme, Ada Favoritmu?
Roma (dok. Netflix/Roma)
  • Lima film—Hillbilly Elegy, Idiocracy, Triangle of Sadness, Roma, dan Perfect Days—dikritik karena komentar sosialnya dinilai justru melanggengkan prasangka berbasis kelas.
  • Hillbilly Elegy dan Idiocracy dianggap menyederhanakan kemiskinan serta kelas bawah menjadi persoalan pilihan pribadi, kemalasan, adiksi, atau rendahnya kecerdasan.
  • Triangle of Sadness, Roma, dan Perfect Days dipersoalkan karena kritik kelas yang dangkal, sudut pandang elite, serta potensi meromantisasi kondisi kelas pekerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika dirilis, sebuah karya seni bisa mempolarisasi penikmatnya. Ada yang merespons positif karyamu, tetapi bersiap pula untuk menerima kritik pedas. Seperti yang terjadi kepada lima film berikut. Meski berlabel realisme dengan muatan komentar sosial yang kuat, ternyata mereka tidak bisa memuaskan semua pihak. Diklaim hendak mengekspos dan mengkritik ketimpangan, mereka justru dianggap melanggengkan klasisme (diskriminasi dan prasangka berbasis kelas sosial). Ini jadi semacam paradoks yang miris juga bila ditelaah lebih jauh. Penasaran film-film apa yang dianggap melanggengkan klasisme? Mari kita analisa bersama.

1. Hilbilly Elegy (2020)

Hilbilly Elegy (dok. Netflix/Hilbilly Elegy)

Diadaptasi dari memoar JD Vance, politikus sayap kanan Amerika Serikat yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden, Hilbilly Elegy dikritik melanggengkan ideologi kapitalis yang lekat dengan parpol Vance. Film ini seperti memoarnya mengekspos kehidupan kelompok miskin di negara itu. Namun, mereka melewatkan alasan sistemik dari kemiskinan yang menimpa mereka dan mereduksinya jadi kesalahan pribadi seperti kemalasan, adiksi, dan berbagai keputusan moral di level personal lain yang menghalangi mereka mencapai kemapanan finansial.

  • Genre: drama, komedi

  • Pemain: Glenn Close, Gabriel Basso

  • Sutradara: Ron Howard

2. Idiocracy (2006)

Idiocracy (dok. IFC Films/Idiocracy)

Narasi serupa juga digaungkan film Idiocracy yang rilis 14 tahun sebelumnya. Film ini berkisah tentang Joe Bauers, pria biasa yang apa pun tentang dirinya itu rata-rata, baik kecerdasan, kondisi fisik, dan status sosial ekonominya. Intinya, tak ada yang spesial darinya sampai ia terbangun 500 tahun kemudian dan dunia ternyata dihuni orang-orang dengan tingkat kecerdasan yang jauh lebih rendah darinya. Film ini memang kontroversial, Mike Judge sedang mengajak kita berangan-angan bilamana orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata memilih untuk tidak punya anak dan membiarkan orang-orang dari kelas bawah mendominasi populasi dunia.

  • Genre: fiksi ilmiah, satire

  • Pemain: Luke Wilson, Maya Rudolph

  • Sutradara: Mike Judge

3. Triangle of Sadness (2022)

Triangle of Sadness (dok. NEON/Triangle of Sadness)

Dua sejoli yang bekerja sebagai influencer diundang untuk berlibur di sebuah kapal pesiar mewah bersama orang-orang kelas atas yang tak tersentuh. Semua berjalan normal sampai kapal itu karam dan tatanan sosial yang ada diobrak-abrik. Kini giliran Abigail, pelayan di kapal itu yang memuncaki piramida tertinggi karena kemampuan bertahan hidupnya yang mumpuni di alam bebas. Premisnya menjanjikan dan unik, tetapi tak bisa dimungkiri kritiknya terhadap divisi kelas dan kapitalisme cukup dangkal. Abigail mencerminkan kelompok tertindas yang berbalik jadi penindas. Ostlund juga mengemas para tokoh elite dalam film seperti karikatur yang kocak, bukannya jahat dan bengis seperti kelompok elite di dunia nyata.

  • Genre: drama, satire

  • Pemain: Harris Dickinson, Dolly de Leon

  • Sutradara: Ruben Ostlund

4. Roma (2018)

Roma (dok. Netflix/Roma)

Roma juga dijuluki klasis oleh sebagian penonton karena setia menggunakan lensa kelompok elite, dalam hal ini warga kulit putih keturunan Eropa di Meksiko. Padahal karakter utamanya adalah Cleo asisten rumah tangga beretnis pribumi yang bekerja untuk keluarga menengah atas berkulit putih. Cuaron beberapa kali mengekspos kondisi ekonomi dan sosial warga pribumi di film itu, tetapi tidak melontarkan kritik apa pun. Ia justru memotret keluarga majikan Cleo sebagai penyelamat dan sebaliknya, pacar Cleo yang juga pribumi sebagai antagonis. Sesuatu yang tidak salah dan memang bisa terjadi, tetapi amat disayangkan mengingat film ini berpotensi mendobrak status quo dan membedah ketimpangan sosial-ekonomi di negeri itu. Namun, Cuaron justru memakai narasi yang sudah dipakai berulang kali di berbagai produk hiburan Meksiko.

  • Genre: drama

  • Pemain: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira

  • Sutradara: Alfonso Cuaron

5. Perfect Days (2023)

Perfect Days (dok. MUBI/Perfect Days)

Perfect Days juga film yang mempolarisasi penontonnya. Film ini dianggap woke oleh penggemarnya karena mempromosikan pentingnya mensyukuri dan menghargai profesi apa pun. Beberapa juga menganggap film ini sebagai liberasi yang sesungguhnya dalam konteks sosialisme, yakni profesi tidak mempengaruhi status sosial seseorang dan harusnya semua orang terlepas dari profesinya berhak punya waktu untuk hobinya. Namun, tak sedikit yang melihat film ini sebagai romantisasi kemiskinan. Lebih tepatnya sebuah propaganda yang mengajak kelas pekerja untuk bersyukur dengan apa yang mereka punya. Dengan begitu, protes, tuntutan dan desakan untuk perbaikan tak lagi relevan.

  • Genre: drama

  • Pemain: Koji Yakusho, Aoi Yamada

  • Sutradara: Wim Wenders

Jangan bersedih kalau salah satu film favoritmu ada dalam daftar ini. Sebaliknya, ini bisa jadi bahan untuk mengasah daya pikir kritismu. Kamu tetap bisa menikmati sebuah karya dan mengkritiknya sekaligus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article