Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Home Sweet Loan The Musical: Makin Nyesek, Tapi Tetap Bikin Ketawa
Home Sweet Loan The Musical (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Home Sweet Loan The Musical dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, dengan tata panggung detail yang menghidupkan dunia Kaluna, dari rumah hingga Stasiun Manggarai dan Sea World.
  • Versi musikal mempertajam dinamika keluarga Kaluna, membuat konflik ketidakadilan dan keputusannya meninggalkan rumah terasa lebih emosional melalui akting langsung, musik, serta vokal pemain.
  • Selama hampir tiga jam, pertunjukan menyeimbangkan drama dan komedi; Sayuti serta Bu Sonia memancing tawa, sementara energi pemain dan interaksi penonton mendapat standing ovation.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jujur saja, saat datang ke Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Rabu (30/9/2026) malam untuk menyaksikan preview Home Sweet Loan The Musical, saya tidak membawa ekspektasi apa-apa. Dalam benak saya, versi filmnya saja sudah sangat bagus dan cukup sulit untuk membayangkan jika cerita tersebut kembali dikemas dalam bentuk pertunjukan musikal.

Namun, begitu pertunjukan dimulai sekitar pukul 19.52 WIB, perspektif tersebut perlahan luntur. Saya justru dibuat terpukau sejak melihat tata panggung dan properti yang begitu detail. Bukan sekadar menjadi pajangan, setiap elemen terasa hidup dan berhasil membangun dunia Kaluna, mulai dari suasana perkotaan hingga ruang-ruang yang begitu dekat dengan kesehariannya.

Seiring pertunjukan berjalan, perhatian saya kemudian beralih ke ansambel yang enerjik. Musik, koreografi, akting, dan vokal para pemain yang berpadu membuat cerita terasa semakin hidup. Saya pun perlahan seperti ikut masuk ke dalam dinamika keluarga Kaluna. Ikut tertawa ketika suasananya pecah, ikut kesal saat rumahnya mulai terasa terlalu berisik, hingga ikut sesak ketika konflik yang dihadapi Kaluna semakin dalam.

Kisahnya memang tidak jauh berbeda dari versi film. Namun, Home Sweet Loan The Musical punya cara sendiri untuk membuat kehidupan Kaluna terasa lebih dekat. Dinamika keluarganya mendapat ruang yang lebih besar sehingga konflik dan tekanan yang ia rasakan terasa semakin kuat.

Tapi, jangan salah! Di tengah kisah yang cukup emosional, pertunjukan ini tidak membiarkan penonton terus-terusan larut dalam kesedihan. Unsur komedi hadir di momen-momen yang pas dan sukses membuat satu studio pecah oleh tawa. Jadi, selama kurang lebih tiga jam, emosi penonton benar-benar dibuat naik turun.

1. Tata panggungnya bikin dunia Kaluna terasa hidup

Home Sweet Loan The Musical (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Saya cukup kagum dengan detail panggung pertunjukan Home Sweet Loan The Musical. Gak cuma terlihat rapi dan estetis, panggungnya juga bisa berubah mengikuti tempat dan situasi yang sedang dialami Kaluna, mulai dari rumah, kamar, ruang kerja, hingga tempat-tempat lain yang ia datangi. Jadi, pergantian setting tersebut bukan hanya untuk menunjukkan lokasi, tetapi juga membuat suasana dan dunia Kaluna terasa lebih hidup.

Salah satu yang berkesan bagi saya adalah ketika panggung menggambarkan Stasiun Manggarai. Para pemain bergerak ke sana kemari, berdesakan sambil membawa backpack, hingga ada momen seorang ibu hamil yang berusaha mendapatkan tempat duduk. Sebagai orang yang akrab dengan KRL, adegan ini terasa begitu dekat. Meski sempat muncul di versi filmnya, menariknya, ketika dibawa ke panggung musikal, adegan tersebut jadi terasa lebih mengena karena musik dan koreografinya.

Detail-detail kecil seperti inilah yang membuat saya terus memperhatikan panggung, bahkan ketika tidak ada adegan besar. Versi musikal ini juga terasa lebih warna-warni dengan eksplorasi visual yang lebih luas, termasuk adegan Sea World yang berhasil menghadirkan suasana bawah air dengan menarik.

2. Kisah Kaluna jadi lebih nyesek

Home Sweet Loan The Musical (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Saya mengira, karena sudah mengetahui cerita Home Sweet Loan dari film, pengalaman emosionalnya mungkin tidak akan terlalu berbeda. Ternyata saya salah. Versi musikalnya justru membuat saya lebih mudah terbawa, terutama ketika cerita mulai banyak berada di rumah Kaluna.

Dinamika keluarga mendapatkan ruang yang cukup besar sehingga berbagai persoalan yang dihadapi Kaluna terasa semakin dekat. Saya juga ikut kesal ketika Kaluna diperlakukan tidak adil oleh keluarganya, terutama saat persoalan soal kamar kembali muncul. Rasa marah yang sudah terasa di versi film ternyata tetap sampai ketika adegan tersebut dipentaskan secara langsung. Bedanya, kali ini saya tidak hanya melihat ekspresi karakter di layar. Saya melihat langsung pemain membawakan emosi tersebut di depan mata, ditemani musik dan vokal yang memperkuat suasananya. Ketika Kaluna akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah, suasana di dalam gedung Graha Bhakti Budaya (GBB) juga terasa berubah, seolah ikut merasakan nyesek berjemaah.

Bahkan, ada beberapa momen ketika suasana yang tadinya ramai oleh tawa berubah menjadi lebih hening. Dari kursi penonton, saya bisa merasakan bagaimana cerita mulai membawa kami masuk ke sisi emosional Kaluna. Buat saya, ini menjadi salah satu perbedaan paling terasa antara menonton film dan menyaksikan cerita yang sama dibawakan secara langsung.

3. Makin nyesek, tapi komedinya gak pernah gagal bikin ngakak penonton

Home Sweet Loan The Musical (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Menurut saya, kekuatan lain dari Home Sweet Loan The Musical adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara drama dan komedi. Pertunjukan ini ternyata gak membiarkan penonton terus-terusan tenggelam dalam konflik. Ketika suasana mulai terasa berat, komedi pun hadir di waktu yang pas. Hasilnya, emosi saya jadi berasa naik turun di sepanjang pertunjukan.

Sayuti dan Bu Sonia, khususnya, menjadi dua karakter yang paling sering mencuri perhatian penonton. Pokoknya, ada saja tingkah mereka yang berhasil membuat satu studio pecah oleh tawa. Komedi yang mereka bawakan juga gak terasa sekadar ditempelkan untuk mencairkan suasana. Beberapa lelucon bahkan terasa seperti sindiran terhadap situasi sosial yang belakangan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pertunjukan sempat berhenti sekitar 20 menit untuk jeda sebelum akhirnya kembali dimulai pada pukul 21.20 WIB. Meski sudah berjalan cukup panjang, energi para pemain justru tetap terasa penuh. Vokal, akting, dan koreografi mereka kembali menghidupkan panggung, seolah jeda tadi hanya menekan tombol pause sebelum cerita kembali berjalan.

Oh ya, di sela-sela pertunjukan, penonton juga sempat diajak berinteraksi untuk salah satu adegan. Jadinya, momen tersebut seolah membuat jarak antara panggung dan kursi penonton terasa semakin tipis. Hingga ketika pertunjukan akhirnya selesai, tepuk tangan yang meriah pun terdengar. Bahkan tak sedikit juga penonton yang berdiri untuk memberikan standing ovation, lho.

Buat saya, respons tersebut cukup menggambarkan pengalaman selama hampir tiga jam. Home Sweet Loan The Musical berhasil membuat satu ruangan tertawa bersama, ikut kesal, dibuat sesak, lalu kembali tersenyum sebelum akhirnya memberikan apresiasi untuk para pemain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article