Jakarta, IDN Times - Jujur saja, saat datang ke Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Rabu (30/9/2026) malam untuk menyaksikan preview Home Sweet Loan The Musical, saya tidak membawa ekspektasi apa-apa. Dalam benak saya, versi filmnya saja sudah sangat bagus dan cukup sulit untuk membayangkan jika cerita tersebut kembali dikemas dalam bentuk pertunjukan musikal.
Namun, begitu pertunjukan dimulai sekitar pukul 19.52 WIB, perspektif tersebut perlahan luntur. Saya justru dibuat terpukau sejak melihat tata panggung dan properti yang begitu detail. Bukan sekadar menjadi pajangan, setiap elemen terasa hidup dan berhasil membangun dunia Kaluna, mulai dari suasana perkotaan hingga ruang-ruang yang begitu dekat dengan kesehariannya.
Seiring pertunjukan berjalan, perhatian saya kemudian beralih ke ansambel yang enerjik. Musik, koreografi, akting, dan vokal para pemain yang berpadu membuat cerita terasa semakin hidup. Saya pun perlahan seperti ikut masuk ke dalam dinamika keluarga Kaluna. Ikut tertawa ketika suasananya pecah, ikut kesal saat rumahnya mulai terasa terlalu berisik, hingga ikut sesak ketika konflik yang dihadapi Kaluna semakin dalam.
Kisahnya memang tidak jauh berbeda dari versi film. Namun, Home Sweet Loan The Musical punya cara sendiri untuk membuat kehidupan Kaluna terasa lebih dekat. Dinamika keluarganya mendapat ruang yang lebih besar sehingga konflik dan tekanan yang ia rasakan terasa semakin kuat.
Tapi, jangan salah! Di tengah kisah yang cukup emosional, pertunjukan ini tidak membiarkan penonton terus-terusan larut dalam kesedihan. Unsur komedi hadir di momen-momen yang pas dan sukses membuat satu studio pecah oleh tawa. Jadi, selama kurang lebih tiga jam, emosi penonton benar-benar dibuat naik turun.
