Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Isu Lingkungan dalam Anime One Piece yang Juga Terjadi di Indonesia
Wano yang tercemar (dok. Toei Animation/One Piece)
  • Wano menggambarkan pencemaran sungai akibat limbah industri.

  • Tequila Wolf menunjukkan eksploitasi alam demi pembangunan besar-besaran.

  • Punk Hazard memperlihatkan dampak buruk limbah kimia terhadap lingkungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selain menyajikan pertarungan bajak laut yang megah dan penuh aksi, serial One Piece karya Eiichiro Oda juga dikenal sering menyelipkan kritik sosial yang tajam. Narasi petualangan ini tidak sekadar berfokus pada perebutan takhta Raja Bajak Laut, tetapi juga gencar menyoroti isu eksploitasi alam dan pengerukan sumber daya secara serakah. Di balik keindahan dunianya, Oda memperlihatkan bagaimana ambisi kekuasaan dan industrialisasi tanpa regulasi dapat menghancurkan ekosistem pulau sekaligus meminggirkan kehidupan masyarakat kecil.

​Potret krisis ekologis yang dihadapi oleh para tokoh fiksi tersebut rupanya sangat relevan dengan dinamika kerusakan lingkungan di dunia nyata. Berbagai tragedi pencemaran air, deforestasi masif, hingga krisis iklim yang melanda pulau-pulau dalam One Piece merefleksikan tantangan ekologis yang kini tengah dihadapi oleh Indonesia. Berikut lima bentuk isu lingkungan dalam semesta One Piece yang menjadi cerminan nyata dari masalah lingkungan hidup di tanah air!

1. Pencemaran sungai dan limbah industri (arc Wano)

pabrik Kaido (dok. Toei Animation/One Piece)

Di bawah cengkeraman kekuasaan tiran Kaido dan Kurozumi Orochi, Negeri Wano disulap secara paksa menjadi kawasan industri senjata militer berskala raksasa. Cerobong asap dan pabrik pengolahan logam berdiri masif di berbagai sudut wilayah tanpa memedulikan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) maupun keselamatan lingkungan sekitar. Limbah cair beracun dibuang begitu saja ke aliran sungai utama, yang mengakibatkan air berubah warna, tanah pertanian mati, hingga masyarakat miskin di Kota Ebisu terpaksa meminum air beracun demi bertahan hidup.

​Potret kelam sungai beracun di Wano tersebut memiliki kemiripan nyata dengan kondisi sungai-sungai strategis di berbagai wilayah Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara berkala melaporkan bahwa sebagian besar daerah aliran sungai (DAS) nasional, seperti Sungai Citarum di Jawa Barat, masih berada dalam status tercemar sedang hingga berat. Pembuangan limbah cair secara ilegal oleh sektor industri manufaktur dan pabrik tekstil nakal terus mengancam kelangsungan ekosistem perairan serta memicu krisis air bersih bagi warga sekitar.

2. Eksploitasi alam demi pembangunan proyek megah (Tequila Wolf)

pembangunan jembatan raksasa Tequila Wolf (dok. Toei Animation/One Piece)

Proyek pembangunan jembatan raksasa Tequila Wolf yang berlangsung selama ratusan tahun memperlihatkan ambisi Pemerintah Dunia dalam memaksakan megaproyek infrastruktur tanpa memedulikan dampak ekologis. Pembangunan tanpa ujung ini tidak hanya merusak terumbu karang dan mengganggu habitat biota laut di sekitarnya, tetapi juga menindas ribuan budak serta tahanan politik yang dipaksa bekerja tanpa henti. Megaproyek ini menjadi simbol keangkuhan penguasa yang mengorbankan kelestarian alam dan hak asasi manusia demi sebuah monumen kekuasaan.

​Di Indonesia, ambisi pembangunan dan eksploitasi sumber daya yang mengabaikan amdal tecermin jelas dalam tragedi semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur. Aktivitas pengeboran gas bumi yang gagal memitigasi risiko geologis tersebut menenggelamkan belasan desa, melenyapkan lahan produktif, dan memaksa puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal untuk selamanya. Bencana ini menjadi pengingat nyata bahwa setiap proyek ekstraksi maupun infrastruktur raksasa yang mengesampingkan keamanan ekologis akan menyisakan kerugian lingkungan dan sosial yang mustahil dipulihkan.

3. Ancaman kenaikan permukaan air laut (Mother Flame/Pulau Lulusia)

penggunaan Mother Flame (dok. Toei Animation/One Piece)

Penggunaan senjata berteknologi pemusnah massal Mother Flame oleh Pemerintah Dunia memperlihatkan bahaya fatal dari rekayasa energi ekstrem yang tidak bertanggung jawab. Pancaran senjata mutakhir tersebut tidak hanya menghapus Kerajaan Lulusia dari peta, tetapi juga meninggalkan lubang gravitasi abadi di tengah samudra. Dampak sampingan dari pemanfaatan teknologi destruktif ini memicu gelombang anomali geologis dan menaikkan permukaan air laut dunia secara mendadak.

​Di Indonesia, risiko penggunaan teknologi industri skala besar yang mengesampingkan kalkulasi lingkungan juga kerap memicu petaka ekologis nyata. Salah satu contohnya ialah operasional teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara dan teknologi pembuangan limbah tambang bawah laut (tailing) yang minim sistem filtrasi modern. Penerapan teknologi energi kotor dan ekstraksi logam tersebut terbukti melepaskan polutan beracun ke udara serta mencemari perairan laut, yang pada akhirnya merusak ruang hidup masyarakat pesisir.

4. Masalah pengelolaan sampah dan limbah berbahaya (Punk Hazard)

kondisi pulau mati beracun Punk Hazard (dok. Toei Animation/One Piece)

Pulau Punk Hazard menjadi saksi bisu betapa berbahayanya uji coba senjata kimia dan pelepasan zat gas beracun Shinokuni oleh Caesar Clown. Eksperimen terlarang yang mengabaikan keselamatan ekosistem tersebut memicu ledakan reaktor kimia dahsyat hingga memusnahkan seluruh vegetasi alami di pulau tersebut. Akibat kelalaian dan ambisi riset militer ilegal ini, Punk Hazard berubah total menjadi zona mati tandus yang berbahaya dan mustahil dihuni kembali oleh makhluk hidup.

​Potret kehancuran Punk Hazard tersebut menjadi analogi tajam bagi krisis pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) serta sampah industri di Indonesia. Berbagai daerah di tanah air masih menghadapi kebocoran limbah kimia pabrik, penimbunan limbah medis ilegal, dan gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) yang mengalami kelebihan muatan (overcapacity). Kegagalan mitigasi terhadap pembuangan zat sisa beracun ini berisiko mencemari air tanah warga dan merusak kualitas udara permukiman dalam jangka panjang.

5. Monopoli sumber daya dan krisis air bersih (Alabasta)

kekeringan di Alabasta (dok. Toei Animation/One Piece)

Dalam arc Alabasta, Sir Crocodile secara licik memanipulasi pola cuaca alami menggunakan zat bubuk pemanggil hujan terlarang yang disebut Dance Powder. Rekayasa iklim buatan tersebut sengaja dilakukan demi memusatkan curah hujan hanya di ibu kota istana guna memicu konflik politik dan ketidakpercayaan rakyat terhadap sang raja. Akibat keserakahan sang Shichibukai, wilayah pedesaan di sekitarnya mengalami kekeringan ekstrem bertahun-tahun hingga sektor pertanian warga luluh lantak.

​Fenomena monopoli dan privatisasi sumber daya air di Alabasta ini mencerminkan kondisi rentan di berbagai penjuru Indonesia saat memasuki musim kemarau panjang. Alih fungsi kawasan resapan air menjadi kawasan komersial dan ketimpangan distribusi air bersih membuat masyarakat di wilayah kering, seperti Gunungkidul serta Nusa Tenggara Timur, kerap mengalami krisis air bersih menahun. Ketimpangan akses ini diperparah oleh eksploitasi air tanah berlebihan oleh sektor korporasi yang merampas hak dasar masyarakat lokal terhadap air layak konsumsi.

Melalui deretan konflik pulau dan keserakahan para penguasa di atas, serial One Piece berhasil menyampaikan pesan mendalam bahwa kerusakan alam bukanlah sekadar bencana biasa, melainkan dampak nyata dari ketidakpedulian manusia. Eiichiro Oda secara gamblang merajut isu industrialisasi ugal-ugalan, manipulasi sumber daya air, limbah beracun, hingga kenaikan muka air laut sebagai cermin reflektif bagi krisis ekologis yang kini tengah dihadapi oleh Indonesia. Kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian alam dan menuntut regulasi industri yang bertanggung jawab menjadi kunci penting agar ruang hidup kita tidak berakhir rusak layaknya pulau-pulau fiksi tersebut. Dilihat dari lima potret di atas, mana isu lingkungan dalam semesta One Piece yang menurutmu paling mendesak untuk segera dibenahi di dunia nyata?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article