Jay Subyakto soal Bedanya Bikin Acara Musik Dulu dan Sekarang

- Jay Subyakto menilai penonton kini cenderung hanya mengenal lagu hit dan musisi lebih sering merilis single, sehingga pemilihan lagu pertunjukan perlu disesuaikan.
- Creative director Forestra 2026 ini tidak menjadikan komentar netizen sebagai acuan berkarya; ia lebih menerima kritik dari rekan profesional yang memahami bidang pertunjukan.
- Jay menyebut komentar media sosial banyak meminta tiket lebih murah tanpa membahas aspek artistik atau teknis. Ia akan menjadi creative director Forestra 2026 di Lembang, 29 Agustus.
Jakarta, IDN Times - Berkarier di dunia seni dan pertunjukan sejak tahun 90-an, Jay Subyakto masih aktif berkarya hingga kini. Salah satunya lewat Forestra, festival musik orkestra kolaboratif yang tahun ini akan kembali akan digelar di Orchid Forest Cikole, Bandung.
Sebagai seorang pekerja seni dan creative director kawakan, Jay membagikan pandangannya tentang apa yang berbeda dari penonton pertunjukan musik dulu dan sekarang. Di era media sosial di mana netizen secara terbuka kerap menyuarakan kritik hingga keluhan, Jay pun mengaku gak pernah menjadikannya acuan dalam menggarap acaranya.
1. Jay Subyakto soroti perbedaan menikmati musik dulu dan sekarang

Setelah konferensi pers Foresta 2026 di kawasan Sudirman pada Kamis (31/7/2026), saya menghampiri Jay Subyakto untuk berbincang sedikit tentang perkembangan pertunjukan musik di Indonesia. Salah satu yang menarik adalah perubahan pendekatan yang ia lakukan dalam menyusun setlist sebuah pertunjukan antara dulu dan sekarang.
Jika dulu hampir semua lagu dalam sebuah album itu dihafal orang-orang, kini tidak demikian. Menurut Jay, banyak penonton muda cenderung tahu lagu-lagu yang hit saja. Begitu juga para musisi yang relatif lebih sering menelurkan single alih-alih album. Karena itu, sebagai seorang creative director, Jay juga menyesuaikan pendekatannya untuk membuat sebuah pertunjukan yang bisa dinikmati anak sekarang.
"Kalau dulu kan tahun 94 beda, karena sekarang itu banyak anak sekarang ini gak denger satu album. Terus sekarang, orang, pemusik juga biasa bikin single aja. Nah, kalau dulu saya bikin Kris Dayanti, Chrisye, itu semua orang pasti denger semua (lagunya). Jadi mungkin pendekatan itu ya, dari pemilihan lagu," katanya kepada IDN Times.
2. Jay Subyakto tidak terlalu pedulikan komentar netizen

Dalam kesempatan ini, saya juga penasaran bagaimana Jay menghadapi era media sosial di mana netizen dengan mudah dan terbuka menuliskan komentar mereka, termasuk keluhan, baik terhadap promotor maupun event yang dikerjakan.
Ternyata, sutradara yang pada 2026 ini berusia 65 tahun itu tidak pernah menjadikan komentar netizen sebagai acuan dalam berkarya. Ia merasa pujian maupun kritik yang benar seharusnya datang dari orang yang memahami bidang tersebut. Menurutnya, masukan dari rekan sesama profesional jauh lebih bermanfaat.
"Saya gak (baca komentar), karena buat saya sekarang kepakaran gak ada. Yang kritik saya itu orang-orang yang gak tahu tentang itu, asal ngomong aja. Sementara kalau saya dikasih tahu sama orang-orang yang benar-benar ahli, saya akan terima," ujarnya.
3. Menurutnya, kebanyakan minta harga tiket diturunkan

Lebih lanjut ia mengatakan, isi komentar yang paling sering ditemuinya di media sosial sebagian besar meminta harga tiket diturunkan. Komentar semacam itu, menurutnya, tidak bisa dijadikan bahan evaluasi, karena tidak membahas aspek artistik maupun teknis sebuah pertunjukan.
"Misalnya cuma minta harga tiket murah, cuma gitu. Tapi kalau ada grup luar negeri yang main, 20 juta dibayar," seru keponakan Mohammad Hatta ini.
Jay Subyakto telah berkarier di bidang seni dan pementasan selama sekitar 36 tahun, dimulai sejak awal kariernya sebagai sutradara dan penata artistik pada tahun 1990. Ia juga telah berkali-kali menggarap konser untuk Kris Dayanti, Chrisye, hingga David Foster. Kini, ia akan kembali menjadi creative director untuk pertunjukan Forestra 2026 yang digelar di Orchid Forest Cikole, Lembang, Bandung, pada 29 Agustus 2026.



















