Surat dari Praha (dok. Visinema Pictures/Surat dari Praha)
Jaya kehilangan tanah air akibat prahara politik tahun 1965, sekaligus merenggut wanita yang berjanji menunggunya di Jakarta. Ketidakpastian nasib Jaya di pengasingan memaksa kekasih hatinya menyerah pada desakan hidup dan memilih menikah dengan orang lain. Patah hati ganda tersebut seketika mematikan mimpi masa mudanya dan mengurung Jaya dalam sangkar kesepian abadi di belahan bumi yang asing.
Puluhan tahun hidup merantau di Praha, pria tua ini membiarkan hatinya membeku dan menolak menjalin hubungan baru dengan siapa pun. Ia sengaja menjalani hari hari yang monoton, kaku, dan penuh kemurungan demi mengubur dalam dalam rasa rindu yang terlarang. Sikap dingin serta penolakan Jaya terhadap dunia luar memperlihatkan betapa dahsyatnya luka masa lalu merusak masa depan seorang pria hingga usia senja.
Kisah kelima karakter pria di atas membuktikan bahwa kehilangan pujaan hati dapat menghancurkan kompas hidup seseorang hingga ke titik terendah. Kehancuran tersebut hadir dalam berbagai rupa, mulai dari keterpurukan fisik, rusaknya kewarasan, hingga pembekuan emosi yang berlangsung seumur hidup. Lewat sinema, penonton disadarkan bahwa merelakan sebuah perpisahan sering kali menuntut perjuangan batin yang jauh lebih berat daripada jatuh cinta itu sendiri.